Malam itu, Kim Jiwon tidak bisa memejamkan mata. Email balasan dari Kim Soohyun terus terbayang-bayang di benaknya, kata-kata itu seolah tercetak di kelopak matanya. "Aku ingin kau tahu bagaimana rasanya terbakar, Nona Kim. Dan aku akan menunjukkannya padamu. Datanglah ke kantor besok pagi, pukul 7. Jangan terlambat. Kali ini, tidak ada laporan. Hanya kita berdua." Kata-kata itu, yang seharusnya terdengar mengancam, justru membakar rasa penasaran yang terlarang di dalam dirinya.
Ia tahu ini gila. Ini adalah jebakan. CEO perusahaannya memanggilnya untuk pertemuan pribadi yang tidak biasa, yang jelas-jelas melanggar batas profesionalisme. Namun, ada dorongan aneh, campuran antara ketakutan dan daya tarik yang tak bisa ia jelaskan, yang mendorongnya untuk datang. Ia ingin tahu. Ia ingin merasakan api yang Soohyun janjikan.
Pukul 06.50 pagi, Jiwon sudah berdiri di lobi kantor yang masih sepi, gemuruh AC sentral menjadi satu-satunya suara yang mengisi keheningan. Udara pagi yang dingin dari AC menusuk kulitnya, namun tubuhnya terasa panas, sensasi yang bukan karena suhu. Ia mengenakan blus sutra berwarna krem dan rok pensil hitam, berusaha terlihat profesional dan tenang, namun setiap helaan napasnya terasa dangkal, dadanya sesak oleh debaran jantung yang tak beraturan.
Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 06.58. Dua menit lagi. Keringat dingin membasahi telapak tangannya.
Tepat saat jarum jam menunjukkan pukul 07.00, lift berdenting pelan, dan pintunya terbuka di lantai eksekutif. Soohyun sudah berdiri di sana, menunggunya. Ia mengenakan kemeja putih yang pas di tubuhnya, memperlihatkan siluet otot di balik kain, dan celana bahan gelap yang dijahit sempurna. Rambutnya tertata rapi, aura dominan dan dinginnya terasa begitu kuat di koridor yang hening itu, bahkan dari jarak jauh. Matanya yang tajam langsung menangkap sosok Jiwon, menatapnya dari ujung kaki hingga kepala, seolah menelanjanginya dengan sekali pandang.
"Kau tepat waktu," Soohyun berkata, suaranya tenang, namun ada nada kepuasan tersembunyi di dalamnya, seolah ia memang mengharapkan Jiwon akan datang. "Ikut aku."
Ia berbalik dan berjalan menuju kantornya, langkahnya tenang dan berwibawa. Jiwon mengikutinya, langkah kakinya terasa berat dan ragu-ragu. Ruang kerja Soohyun tampak lebih besar dan lebih megah di pagi hari yang sunyi. Tirai masih tertutup sebagian, menciptakan suasana remang-remang yang misterius, sebuah kontras dari kantor yang biasanya terang benderang. Aroma maskulin Soohyun yang memabukkan memenuhi udara, memenuhi setiap inchi indra Jiwon.
Soohyun tidak langsung duduk di balik mejanya. Ia melangkah ke arah sofa kulit besar di sudut ruangan, menyalakan lampu redup di sampingnya, membuat area itu sedikit lebih hangat dan intim. "Duduklah," perintahnya, menunjuk sofa di seberangnya.
Jiwon duduk kaku, punggungnya tegak, tangannya terkepal erat di pangkuan. Ia bisa merasakan tatapan Soohyun yang tak berkedip, memindai setiap ekspresi di wajahnya.
"Baiklah, aku tidak akan berbasa-basi." Soohyun memulai, suaranya pelan, seperti bisikan rahasia yang hanya mereka berdua yang boleh mendengarnya. Ia melangkah mendekat, perlahan, setiap langkahnya terasa disengaja, mengikis jarak di antara mereka. "Aku ingin merasakan lagi apa yang kau berikan padaku sebelumnya. Sensasi itu, Jiwon."
Jiwon. Panggilan namanya yang begitu pribadi dari bibir Soohyun, sebuah sentuhan akrab yang tidak pantas diucapkan oleh seorang CEO kepada karyawannya, membuat Jiwon merinding. Ia menelan ludah, tenggorokannya tercekat.
Soohyun kini berdiri di depannya, kedua tangannya bertumpu pada lengan sofa, mengurung Jiwon di antara tubuhnya yang tinggi dan sofa. Tubuhnya condong ke depan, membuat Jiwon harus mendongak untuk menatapnya. Wajahnya begitu dekat, Jiwon bisa merasakan embusan napas mint Soohyun di wajahnya. Mata Soohyun berkilat dalam cahaya remang-remang, penuh hasrat yang terpendam, sebuah nyala api yang memancar langsung ke mata Jiwon.
