Tiga tahun telah berlalu sejak janji suci terucap, dan kini, kehidupan Kim Soohyun serta Kim Jiwon di Seoul telah mencapai harmoni yang tak tergoyahkan. Apartemen mewah mereka, yang dulu menjadi saksi bisu berbagai drama dan trauma, kini dipenuhi tawa riang Kim Sarang, putri mereka yang kini berusia hampir empat tahun. Sarang adalah pusat semesta mereka, bukti hidup dari penebusan, pengampunan, dan cinta yang telah melewati badai terhebat. Kehadirannya adalah mercusuar yang menerangi setiap sudut hati mereka.
Pukul enam pagi, sinar matahari lembut menembus jendela kamar utama, membelai gorden tipis berwarna krem. Soohyun, yang masih terbuai dalam selimutnya, merasakan sensasi geli di pipinya. Tangan-tangan mungil itu menusuk-nusuk, mencoba membangunkan sang ayah dari alam mimpi.
"Ayah! Bangun! Ayah!" suara cempreng Sarang memekakkan telinga, namun terdengar begitu menggemaskan, diikuti tawa kecilnya yang renyah seperti keripik.
Soohyun perlahan membuka mata, kelopak matanya terasa berat, namun senyum langsung merekah di bibirnya saat mendapati Sarang sudah duduk bertengger di atas perutnya. Rambut hitamnya acak-acakan, mencuat ke segala arah, dan senyum lebarnya memperlihatkan gigi-gigi kecilnya yang rapi. Ia menghela napas, pura-pura berat hati, lalu memeluk putrinya erat, membenamkan wajahnya ke dalam rambut Sarang yang lembut.
"Oh, nona kecilku sudah bangun? Mau membangunkan Ayah, ya?" Soohyun bertanya, suaranya serak khas orang bangun tidur, namun penuh kehangatan. Ia menggelitik pinggang Sarang, membuat putrinya terpekik geli.
Jiwon, yang sudah terjaga dan bersandar di sisi ranjang, tersenyum melihat interaksi ayah dan anak itu. Rambutnya tergerai indah di bahu, dan wajahnya tampak segar, memancarkan aura ketenangan. Meskipun kini memiliki karier yang sukses sebagai arsitek di firma terkemuka—setelah memutuskan kembali bekerja penuh waktu saat Sarang berusia dua tahun—ia tak pernah melewatkan momen-momen berharga bersama keluarganya. Prioritasnya selalu pada tawa Sarang dan senyum Soohyun.
"Sarang, biarkan Ayah tidur sebentar lagi," Jiwon berkata, suaranya lembut seperti alunan melodi. Ia mengulurkan tangan, mengusap punggung Sarang pelan. "Ayah pasti kelelahan kemarin."
Sarang menggelengkan kepalanya kuat-kuat, antena khayalannya seolah ikut bergerak. "Tidak mau! Sarang mau mandi, lalu sarapan dengan Ayah dan Ibu! Kata Ibu guru, anak pintar harus bangun pagi!"
Soohyun terkekeh, mencium puncak kepala Sarang. "Baiklah, baiklah. Putri Ayah yang cantik ini memang tidak bisa menunggu." Ia bangkit dari ranjang, menggendong Sarang dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi merapikan selimut yang sedikit berantakan. "Ayo, putri cantik, kita taklukkan kamar mandi!"
Di kamar mandi, terdengar suara gemericik air dan tawa Sarang yang riang, diselingi celotehan Soohyun yang pura-pura mengeluh saat air sabun mengenai matanya. Sementara itu, Jiwon sudah melangkah ke dapur modern mereka. Dan setelah selesai dengan ritual mandi Sarang, Soohyun dan Sarang segera menyusul ke dapur.
Dapur itu selalu hangat di pagi hari, dengan aroma kopi yang baru diseduh dan roti panggang yang menguar, berpadu sempurna dengan celotehan Sarang yang antusias menceritakan mimpinya semalam—tentang peri dan kuda poni yang bisa terbang.
Soohyun, sang CEO Kim Engineering & Construction, kini ahli dalam membuat pancake berbentuk hewan. Di piring Sarang, ada pancake beruang yang menggemaskan, lengkap dengan mata cokelat dari kismis. Jiwon menyiapkan smoothie buah untuk semua, memastikan asupan nutrisi pagi keluarga terpenuhi.
"Ayah, Sarang mau stroberi lebih banyak!" Sarang berseru, menunjuk ke arah piring Soohyun yang penuh dengan potongan stroberi segar.
Soohyun dengan senang hati menggeser piringnya. "Tentu, untuk putri Ayah yang paling manis. Stroberi ini biar jadi kekuatanmu untuk bermain nanti."
