Di balik tirai beludru merah marun yang menjuntai berat, Soohyun memandang kotak piano Steinway & Sons hitam mengkilap. Debu tipis menempel di permukaannya, kontras dengan gemerlap lampu kristal yang menggantung di langit-langit megah gedung konser. Setiap pantulan cahaya memantul pada lapisan pernis, menampilkan kemewahan yang terasa begitu jauh dari masa lalunya. Ia menghela napas panjang, jari-jarinya yang ramping mengetuk-ngetuk tuts piano dengan gelisah, menciptakan ritme tak beraturan yang hanya bisa ia dengar sendiri. Malam ini, ia akan tampil di hadapan ribuan penonton, sebuah pencapaian yang dulu hanya bisa ia impikan di sudut kamar sempitnya. Namun, di balik kesuksesan gemilang itu, ada sebuah kekosongan yang tak pernah bisa terisi, sebuah melodi yang hilang.
Matanya beralih ke foto kecil yang diselipkannya dengan hati-hati di balik tutup piano, tepat di samping logo emas Steinway. Foto Jiwon tersenyum cerah, rambutnya yang hitam legam tertiup angin pantai, memperlihatkan garis rahang yang tegas namun lembut. Senyum itu, tawa itu, selalu menjadi penyemangatnya semenjak dulu, pendorong tak terlihat yang membimbing setiap gerakannya. Ia yakin, sekarang ia bisa berdiri di panggung megah ini, di hadapan piano seharga rumah ini, itu semua berkat Jiwon. Jiwon adalah nadanya, resonansi dalam setiap tuts yang ia sentuh.
Soohyun menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak, lalu melangkah keluar dari ruang persiapan yang dingin dan sepi, menuju panggung. Sorak sorai penonton yang membahana menyambutnya, riuhnya seperti ombak yang pecah di pantai, menggulung dan memenuhi setiap sudut gedung. Ia merasakan adrenalin memompa dalam nadinya, tetapi juga getaran rindu yang tak terelakkan. Dengan langkah mantap namun hati yang berdebar, ia duduk di depan piano, menarik napas dalam-dalam, dan membiarkan jemarinya menari di atas tuts. Intro Moonlight Sonata mulai mengalun, melodi yang familiar namun terasa baru, memenuhi ruangan, membawa penonton dalam suasana khidmat, terbuai dalam keindahan yang melankolis. Setiap nada yang ia mainkan adalah bisikan, sebuah cerita yang ingin ia sampaikan.
Setelah beberapa lagu klasik dimainkan dengan sempurna, sentuhan virtuoso yang membuat setiap penonton terpaku, Soohyun menghentikan permainannya. Keheningan sesaat menyelimuti aula, hanya diselingi oleh napas tertahan para penonton. Ia menatap ke arah penonton, matanya menerawang, mencari sosok yang ia rindukan di antara ribuan wajah asing. Ia mengambil mikrofon yang berdiri di samping piano, genggamannya terasa dingin. "Musik," ucapnya dengan suara yang terdengar bergetar di mikrofon, suaranya sedikit serak namun penuh emosi, "adalah bahasa universal yang mampu menyampaikan emosi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ini adalah jembatan antara jiwa manusia." Ia menarik napas dalam, bibirnya membentuk senyum tipis yang sarat makna. "Malam ini, saya ingin mempersembahkan sebuah melodi untuk seseorang yang sangat spesial, seseorang yang telah menginspirasi saya untuk menjadi pianis seperti sekarang ini. Seseorang yang telah menunjukkan kepada saya bahwa musik lebih dari sekadar nada, itu adalah kehidupan itu sendiri."
Dengan sorot mata penuh kenangan, Soohyun mulai memainkan sebuah melodi sederhana, bukan karya agung komposer ternama, melainkan melodi yang ia ciptakan sendiri. Itu adalah melodi yang terinspirasi oleh senandung kecil yang sering dinyanyikan Jiwon, sebuah melodi yang penuh kehangatan dan keindahan yang tak terlukiskan. Melodi itu mengalun lembut, mengisi setiap relung hati pendengar, membawa mereka dalam suasana intim dan penuh kenangan, seolah setiap nada adalah tetesan air mata dan kebahagiaan yang bercampur jadi satu.
Flashback On
Soohyun selalu menganggap dirinya sebagai solois. Ia mencintai kebebasan jari-jarinya di atas tuts piano, keintiman antara dirinya dan instrumen, sebuah dialog pribadi yang tak terganggu. Jadi, ketika Jiwon mengajaknya ke konser simfoni, ia awalnya ragu, menimbang-nimbang ajakan itu dengan kerutan di dahinya. "Aku tidak yakin ini ide yang bagus," gumamnya, jari-jarinya menggaruk belakang kepalanya, kebiasaan lama saat sedang bimbang. "Aku lebih suka.. yah, kau tahu, tampil sendiri. Pusat perhatiannya lebih fokus."
