Garis Batas 11

553 84 29
                                        

Hyunwoo masih duduk di sofa ruang tamu, matanya kosong menatap ke depan. Setelah merenung cukup lama, Hyunwoo bangkit. Hatinya masih terasa berat, namun ia tahu ia harus menjadi yang pertama meminta maaf. Ini bukan tentang siapa yang benar atau salah, ini tentang bagaimana mereka bisa melangkah maju bersama.

Ia melangkah perlahan menuju kamar tidur. Pintu masih tertutup rapat. Hyunwoo menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pelan.

"Haein.." panggilnya lembut. "Boleh aku masuk?"

Keheningan menyambutnya. Hyunwoo menekan kenop pintu, membukanya perlahan. Ia melihat Haein berbaring di ranjang, membelakanginya. Bahunya sedikit bergetar.

Hyunwoo melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Ia berjalan ke sisi ranjang, lalu duduk di tepi kasur. Ia tidak langsung menyentuh Haein, membiarkan istrinya merasakan kehadirannya.

"Sayang," bisik Hyunwoo, suaranya serak. "Maafkan aku."

Haein tidak bergerak.

"Aku minta maaf karena terlalu protektif," lanjut Hyunwoo, suaranya dipenuhi penyesalan yang tulus. "Aku tahu aku berlebihan. Aku tahu itu membuatmu merasa tidak nyaman, merasa diawasi. Aku.. aku hanya sangat khawatir. Aku takut kehilanganmu, atau kehilangan dia." Ia menunjuk perut Haein dengan lembut. "Tapi aku salah. Aku tidak seharusnya membuatmu merasa seperti itu."

Haein perlahan membalikkan badannya, menatap Hyunwoo dengan mata sembab. Ada campuran keterkejutan dan kelegaan di wajahnya.

"Aku janji," kata Hyunwoo, menatap mata Haein dalam-dalam. "Untuk kedepannya, aku tidak akan melakukan itu lagi. Aku akan mencoba untuk lebih percaya padamu. Aku akan memberimu ruang. Aku akan menahan diri, meskipun itu sulit bagiku."

Haein merasakan gejolak dalam hatinya. Ia tidak menyangka Hyunwoo akan meminta maaf terlebih dahulu, apalagi sampai sejauh ini.

Hyunwoo kemudian menghela napas. "Tentang perjalanan ke Daegu.. aku mengizinkanmu pergi."

Mata Haein sedikit membelalak. Ia tidak menyangka Hyunwoo akan mengizinkan.

"Aku tahu ini adalah tanggung jawabmu," lanjut Hyunwoo, suaranya sedikit tercekat. Ada perjuangan batin yang jelas di setiap katanya, namun ia berusaha keras untuk mengucapkannya. "Aku tahu ini penting bagimu dan bagi pekerjaanmu. Aku.. aku akan membiarkanmu pergi." Ia meraih tangan Haein, menggenggamnya erat. "Walaupun sebenarnya aku tidak ingin. Aku sangat tidak ingin kau pergi. Aku sangat khawatir. Tapi jika itu membuatmu bahagia, jika itu membuatmu merasa bisa menjadi dirimu lagi.. aku tidak apa-apa."

Kata-kata itu bagai belati yang menusuk hati Haein, namun di saat yang sama, juga bagai balsam yang menyembuhkan. Ia bisa merasakan gejolak dalam diri Hyunwoo, betapa beratnya bagi suaminya untuk mengucapkan kalimat itu. Itu bukan sekadar izin, itu adalah pengorbanan Hyunwoo atas kekhawatirannya demi dirinya.

"Hyunwoo.." Haein berbisik, air mata kembali menggenang di matanya, kali ini air mata haru. "Terima kasih. Terima kasih banyak." Ia menggenggam erat tangan Hyunwoo, tanpa tahu seberapa besar gejolak yang Hyunwoo rasakan di dalam hatinya, betapa ia harus menekan rasa takutnya demi kebebasan Haein.

"Aku juga minta maaf," kata Haein, suaranya parau. "Aku tidak seharusnya mengatakan kau egois. Aku tahu kau tidak seperti itu. Aku hanya.. terlalu emosi."

Hyunwoo tersenyum tipis, mengusap air mata Haein dengan ibu jarinya. "Tidak apa-apa, sayang. Aku mengerti."

Perlahan, ketegangan di antara mereka mencair. Mereka berpelukan erat, membiarkan kelegaan dan cinta mengisi kembali celah yang sempat terbuka.

Sore harinya, saat Haein bersiap di bandara untuk penerbangan ke Daegu, Hyunwoo mulai menunjukkan perubahan nyatanya, ia memang mengantar Haein, namun ia tidak lagi terlihat panik seperti yang Haein duga. Ia memeluk Haein erat, mencium keningnya, dan berpesan untuk hati-hati.

Oneshoot!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang