Where the Heart Leads (Special Chapter)

715 79 5
                                        

Pagi itu, Haein sedang menyiapkan tas kecil berisi perlengkapan Soobin untuk imunisasi pertamanya. Soobin yang sudah berusia beberapa bulan tampak ceria di atas baby mat, sesekali mengoceh dan menendang-nendangkan kakinya.

Tiba-tiba, Hyunwoo masuk ke kamar dengan wajah bersemangat, sudah mengenakan pakaian kerjanya. "Hari ini Soobin imunisasi, kan? Jam berapa kita berangkat, sayang?" tanyanya antusias, menghampiri Haein dan mencium puncak kepalanya.

Haein tersenyum melihat semangat suaminya. "Iya, Hyunwoo. Tapi kamu kan ada jadwal operasi hari ini. Kamu tidak perlu ikut."

Mendengar itu, wajah Hyunwoo sedikit berubah. "Oh iya, aku lupa. Tapi aku benar-benar ingin ikut, Haein. Ini kan imunisasi pertama putri kita. Aku ingin melihatnya." Nada suaranya terdengar sedikit kecewa.

Haein menggelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan. Tingkah Hyunwoo terkadang memang berlebihan jika sudah menyangkut Soobin. "Kamu tenang saja. Aku bisa pergi sendiri. Lagipula, kamu tidak mungkin meninggalkan pasienmu yang sudah menunggu di ruang operasi."

"Tapi.." Hyunwoo masih mencoba membujuk. "Apa aku bisa minta jadwal operasinya diundur sedikit? Atau mungkin aku bisa datang setelah operasi selesai?"

Haein menghentikan aktivitasnya dan menatap Hyunwoo dengan tatapan lembut namun tegas. "Hyunwoo, kamu adalah seorang dokter. Kamu tahu betapa pentingnya operasi yang sudah dijadwalkan. Kamu tidak bisa seenaknya mengubah jadwal hanya karena ingin ikut imunisasi Soobin."

Hyunwoo menghela napas pelan, terlihat sedikit lesu. "Aku tahu.. tapi aku benar-benar ingin ada di sana untuk Soobin." Ia kemudian berjongkok di samping baby mat dan mengelus pipi putrinya dengan sayang. "Sayang, Papa tidak bisa ikut kamu imunisasi hari ini. Tapi Papa janji akan memberikan pelukan paling hangat nanti kalau kamu sudah selesai ya."

Soobin tampak merespon suara ayahnya dengan senyuman lebar, membuat hati Hyunwoo sedikit terobati.

"Sudah, ya," kata Haein sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Hyunwoo berdiri. "Kamu harus segera berangkat ke rumah sakit. Aku akan mengirimkan fotonya setelah selesai imunisasi. Kamu tidak akan ketinggalan momen kok."

Hyunwoo menghela napas lagi, namun kali ini dengan nada yang lebih menerima. "Baiklah. Tapi kamu harus hati-hati di jalan ya. Dan kabari aku segera setelah selesai." Ia mencium kening Haein sekali lagi dan kemudian mengecup pipi Soobin dengan lembut. "Papa pergi kerja dulu ya, sayang. Sampai jumpa nanti sore."

Setelah Hyunwoo pergi, Haein menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia tahu Hyunwoo sangat menyayangi Soobin dan ingin selalu ada untuk putri mereka. Namun, terkadang antusiasmenya itu memang sedikit berlebihan. Haein kemudian kembali fokus menyiapkan Soobin. Ia yakin, meskipun Hyunwoo tidak bisa ikut, ia akan tetap menceritakan semua detailnya nanti malam. Dan ia juga tahu, Hyunwoo pasti akan langsung menghujani Soobin dengan ciuman dan pelukan begitu ia pulang kerja. Tingkah ayahnya yang satu itu memang selalu membuatnya tersenyum.

###

Haein tiba di klinik anak dengan Soobin yang tertidur pulas di dalam gendongannya. Ruang tunggu sudah cukup ramai dengan beberapa ibu dan bayi lainnya. Setelah mendaftar, Haein menunggu dengan sabar sambil sesekali mengamati Soobin yang masih terlelap.

Tak lama kemudian, nama Soobin dipanggil. Haein masuk ke ruang pemeriksaan dan disambut oleh dokter anak yang ramah. Setelah melakukan pemeriksaan singkat, dokter menjelaskan jenis-jenis imunisasi yang akan diberikan hari ini. Haein mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk mengerti.

Saat tiba waktunya untuk imunisasi, Haein memangku Soobin dengan erat, sedikit khawatir putrinya akan menangis. Namun, betapa terkejutnya ia, Soobin hanya sedikit mengerutkan dahi saat jarum suntik menyentuh pahanya. Bahkan setelah cairan vaksin disuntikkan, Soobin hanya mengeluarkan rengekan kecil sebelum kembali tenang dan melihat sekeliling dengan mata bulatnya.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang