Malam itu, dinginnya udara luar seolah ikut menyelinap masuk ke dalam rumah, namun di kamar masa kecil Hyunwoo, kehangatan cahaya lampu tidur temaram memecah kegelapan. Setelah pamit singkat pada orang tuanya, Hyunwoo dan Haein melangkah masuk. Pintu tertutup perlahan, seolah Hyunwoo ingin mengunci rapat segala kekhawatiran dan ketegangan yang baru saja terjadi di ruang tamu, membiarkan hanya keintiman yang samar merajai suasana.
Haein berjalan tanpa suara, kakinya terasa masih sedikit gemetar, menuju sisi ranjang yang dulu selalu menjadi tempat Hyunwoo berlabuh. Ia meletakkan tas kecilnya di lantai, gerakannya hati-hati, seolah khawatir akan memecah keheningan yang rapuh. Ia menoleh, melihat Hyunwoo masih berdiri di dekat pintu, punggungnya bersandar pada kayu, tatapannya lekat padanya. Dalam sorot mata Hyunwoo, Haein membaca campuran kekhawatiran yang mendalam, penyesalan yang tak terhingga, dan secercah kelegaan.
"Maaf, ya," suara Hyunwoo memecah keheningan yang panjang, terdengar pelan dan serak, seolah ia takut melukai lagi. Ia mulai melangkah mendekat, setiap gerakannya dipenuhi kehati-hatian. "Aku tahu kamu mungkin tidak nyaman di sini. Mungkin tempat ini terasa asing dan tak terduga. Tapi percayalah, untuk saat ini, ini yang terbaik. Aku hanya ingin kamu aman, di tempat yang bisa kupastikan keamanannya."
Haein menatapnya. Sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat, terukir di bibirnya yang masih sedikit pucat. Itu bukan senyum bahagia, melainkan senyum yang sarat akan pengertian dan kelelahan. "Aku tahu, Hyunwoo." Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan, seolah mencoba mengusir sisa-sisa sesak di dadanya. "Dan terima kasih."
Hyunwoo mengerutkan kening, langkahnya terhenti. Ekspresi bingung menghiasi wajahnya, seolah tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. "Terima kasih untuk apa, Haein? Aku sudah membuatmu takut, membuatmu terluka, dan aku masih belum bisa menjamin sepenuhnya keamananmu dari Yunho." Nada suaranya dipenuhi rasa bersalah yang menusuk.
Haein mengambil beberapa langkah ke depan, mendekat hingga kini mereka berdiri berhadapan, hanya terpisah oleh jarak selebar telapak tangan. Ia mengangkat tangannya yang dingin, perlahan menyentuh lengan Hyunwoo. Sentuhannya begitu lembut. "Terima kasih karena kamu sudah melindungiku tadi di depan orang tuamu," katanya lirih, pandangannya beralih ke tangan mereka yang kini nyaris bersentuhan. "Aku tahu kamu sengaja menginterupsi Ibu sebelum dia sempat bertanya macam-macam. Aku tahu kamu mencoba menyelamatkanku dari topik 'kapan punya cucu' lagi, yang selalu membuatku merasa tertekan." Ada nada lelah dalam suaranya, namun terselip juga sedikit kehangatan, sebuah pengakuan bahwa ia menghargai upaya Hyunwoo.
Wajah Hyunwoo menunjukkan sedikit kelegaan yang samar, seolah beban kecil terangkat dari pundaknya, namun rasa bersalah yang lebih besar masih membayangi. Ia meraih tangan Haein yang menyentuh lengannya, menggenggamnya erat. Genggaman itu kuat, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya pada Haein. "Aku hanya tidak ingin kamu merasa semakin terbebani, Haein. Aku tahu kamu sudah cukup banyak yang harus dipikirkan. Dan aku tidak ingin mereka membuatmu merasa tidak nyaman di sini, terutama setelah semua yang terjadi padamu karena kesalahanku." Matanya menatap Haein dalam-dalam. "Aku seharusnya sudah lebih dulu memikirkan perasaanmu, mendahulukan kenyamananmu daripada ketakutanku sendiri."
"Tidak apa-apa," Haein menggeleng pelan, meyakinkan. "Aku tahu kamu melakukan yang terbaik. Aku tahu kamu mencemaskanku." Ia mengangkat tatapannya, menatap mata Hyunwoo yang kini berkaca-kaca. "Aku juga ingin berterima kasih karena kamu akhirnya jujur kepadaku tentang Yunho. Jujur saja, aku marah. Sangat marah. Aku merasa dikhianati dan sendirian. Tapi juga.. aku lega."
"Lega?" tanya Hyunwoo, suaranya sedikit tercekat, seolah kata itu terasa asing di tengah rasa bersalahnya. Ia tidak menyangka kata itu akan keluar dari mulut Haein.
"Iya, lega," ulang Haein, mengangguk, seolah menegaskan perasaannya sendiri. "Lega karena misterinya terungkap. Lega karena aku tidak gila, tidak paranoid. Lega karena semua teror ini bukan hanya imajinasiku, bukan hanya kekhawatiranku yang berlebihan. Dan yang paling penting, lega karena kamu akhirnya mau berbagi beban ini denganku, meskipun kamu tahu itu akan sangat menyakitiku." Ia menunduk, menatap tangan mereka yang saling bertautan, seolah mencari kekuatan dari sentuhan itu. "Aku tahu ini berat bagimu juga, Hyunwoo. Aku tahu kamu pasti merasa takut, bersalah, dan terbebani. Aku tidak bisa membayangkan betapa beratnya kamu menyembunyikan ini sendirian, berpura-pura semuanya baik-baik saja."
