Seperti biasa, maaf kalau ada yang gak nyaman dan jijik bacanya, bisa diskip heheh
~~~
Kim Jiwon membuka pintu apartemennya, mempersilakan Kim Soohyun masuk. Ruang tengah apartemennya terasa hangat dan nyaman, dengan sofa berwarna lembut dan beberapa tanaman hias yang memberikan kesan segar.
"Duduklah dulu, Oppa. Aku buatkan teh," kata Jiwon, berjalan menuju dapur kecil di dekat ruang tengah. Ia mulai mengisi ketel dengan air dan mengeluarkan teh dari lemari.
Soohyun berdiri di dekat konter dapur, mengamati Jiwon. Ia bisa merasakan ketegangan yang menguar dari tubuh wanita itu, meskipun Jiwon berusaha terlihat tenang. Soohyun mengerti. Setelah semua yang terjadi, setelah pengakuannya di Jeju dan kembalinya mereka yang penuh tekanan ke Seoul, ada banyak hal yang belum terselesaikan di antara mereka.
Soohyun mendekat perlahan. Ia sudah menahan dirinya selama mereka di Jeju, berusaha menghargai permintaan Jiwon. Namun, kehadirannya di apartemen ini, kebersamaan mereka yang intim, kembali membangkitkan hasrat yang selama ini ia tekan. Kali ini, ia ingin berbeda. Ia ingin menghargai keputusan Jiwon, tidak ingin terburu-buru atau memaksakan kehendaknya.
Soohyun berdiri tepat di belakang Jiwon yang sedang menunggu air mendidih. Ia meletakkan kedua tangannya di pinggang Jiwon, menarik tubuh wanita itu merapat ke dadanya. Jiwon sedikit tersentak, namun tidak menolak.
Soohyun membalikkan tubuh Jiwon hingga mereka berhadapan, masih dalam rengkuhan eratnya di dekat konter dapur. Ia menatap mata Jiwon dalam-dalam, mencari jawaban, mencari izin.
"Jiwon," bisik Soohyun, suaranya serak dan penuh hasrat, "bolehkah aku.. menciummu?" Ia menunggu, memberikan Jiwon kebebasan untuk memilih.
Jiwon menatap mata Soohyun yang gelap dan penuh keinginan. Ia melihat cinta dan kerinduan di sana, bukan hanya nafsu. Setelah semua yang mereka lalui, ia merasa ada ikatan yang lebih dalam di antara mereka. Perlahan, sangat pelan, Jiwon mengangguk. Tanpa berkata lagi, ia memberikan izinnya.
Soohyun semakin menarik Jiwon ke dalam pelukannya. Tak lupa ia mematikan kompor terlebih dulu. Lalu, dengan satu gerakan mudah, ia mendudukkan Jiwon di atas konter, di antara kedua kakinya. Tanpa menunggu lebih lama, bibirnya bertemu dengan bibir Jiwon. Ciuman itu awalnya lembut, penuh kerinduan yang tertahan. Namun, perlahan tapi pasti, intensitasnya meningkat, mencerminkan hasrat yang membara di antara mereka.
Tangan Soohyun tidak tinggal diam. Ia mulai menjelajahi setiap inci tubuh Jiwon. Satu tangannya naik menyentuh pipi Jiwon, lalu turun ke leher jenjangnya, meraba lembut tulang selangka. Tangannya yang lain melingkari pinggang Jiwon, menariknya semakin rapat hingga tidak ada jarak di antara tubuh mereka.
Ciuman mereka semakin dalam dan bergairah. Lidah Soohyun menjelajahi mulut Jiwon, menimbulkan desahan tertahan dari bibir wanita itu. Tangan Soohyun semakin berani, bergerak naik menuju payudara Jiwon, meremasnya lembut melalui kain blus yang dikenakan Jiwon. Jiwon mendesah lebih keras, merasakan gelombang kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Soohyun tidak berhenti di situ. Tangannya turun lagi, menyusuri perut rata Jiwon, hingga mencapai pinggulnya. Jemarinya menyelusup di bawah blus Jiwon, menyentuh kulit halusnya, lalu bergerak turun lagi, meremas lembut pantat Jiwon, menarik Jiwon semakin dekat hingga merasakan gairah Soohyun yang sudah membuncah.
Napas keduanya tersengal-sengal di sela ciuman yang tak terputus. Keinginan yang selama ini mereka tahan akhirnya menemukan jalannya.
Jiwon menahan napas, tubuhnya merinding hebat. Gairah yang membuncah membuatnya tak bisa berpikir jernih. Ia hanya bisa mengerang pelan saat sentuhan Soohyun semakin intens.
