Ignited Touch 32

472 74 23
                                        

​Beberapa hari telah berlalu, tetapi rasanya seperti bertahun-tahun. Waktu terasa lambat, dan setiap detik bagaikan tusukan baru. Sejak rumor keji itu menyebar, Kim Jiwon merasa hidupnya terfragmentasi menjadi kepingan-kepingan kecil yang berjatuhan. Ia duduk di sofa ruang keluarga, tatapannya kosong, terpaku pada ponsel di pangkuannya. Layar itu memancarkan cahaya ke wajahnya yang pucat, menampilkan sederet berita dan komentar kejam yang tiada henti. Jemarinya mencengkeram erat ponselnya, seolah benda dingin itu adalah satu-satunya yang bisa ia pegang.

​Soohyun sudah berangkat ke kantor, berjanji akan menyelesaikan masalah ini. Mereka sudah sepakat untuk mengabaikan semua kebencian itu, tetapi kenyataan di lapangan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Setiap hari, Jiwon harus berperang melawan dirinya sendiri. Suara-suara di dalam kepalanya, yang menirukan komentar-komentar jahat itu, terasa lebih nyata daripada bisikan angin.

​"Dia seharusnya tahu diri. Orang seperti dia tidak pantas menjadi istri CEO Kim."

​"Aku tidak percaya dia berani membohongi semua orang. Benar-benar serakah."

"Anak itu pasti anak laki-laki lain. Dia hanya memanfaatkan kekayaan CEO Kim."

​Kata-kata itu bagaikan pisau panas yang menusuknya, satu per satu. Jiwon merasakan sakit yang luar biasa di ulu hatinya, rasa mual yang tak henti-hentinya. Ia tidak bisa makan, tidak bisa tidur. Ia tahu semua ini tidak baik untuknya, dan terutama, untuk malaikat kecil yang sedang tumbuh di rahimnya. Namun, ia merasa tak berdaya. Ia merasa dirinya menjadi sekecil debu di tengah badai.

​Tiba-tiba, pintu terbuka. Kim Dahyun melangkah masuk dengan wajah cemas, matanya langsung tertuju pada Jiwon yang tampak begitu rapuh dan kurus di sofa. "Eonnie!" Dahyun berseru, suaranya dipenuhi kekhawatiran. Ia segera menghampiri Jiwon, meletakkan kotak makan siang yang dibawanya di meja. "Aku membawakan makan siang untukmu. Kau harus makan, ya?"

​Mendengar suara Dahyun, Jiwon tidak bisa lagi menahan tangisnya. Air mata yang selama ini ia tahan tumpah membasahi pipinya. Ia memeluk Dahyun erat, membenamkan wajahnya di bahu sang adik ipar. Isakannya terdengar pilu.

​"Aku.. aku tidak lapar, Dahyun," bisik Jiwon, suaranya serak. "Kenapa semuanya jadi seperti ini? Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku merasa.. aku tidak berharga."

​Dahyun balas memeluk Jiwon lebih erat, mengusap punggungnya dengan lembut. "Jangan dengarkan mereka, Eonnie," bisik Dahyun memohon. "Mereka hanya iri padamu. Mereka tidak tahu apa-apa tentangmu dan Oppa."

​Jiwon menggelengkan kepalanya. "Mereka benar, Dahyun," balas Jiwon, air matanya terus mengalir. "Aku.. aku memang tidak pantas untuk Oppa."

​"Hentikan, Eonnie!" Dahyun berseru, ia melepaskan pelukannya dan menatap Jiwon dengan mata berkaca-kaca. "Jangan pernah berkata seperti itu! Kau pantas untuk Oppa. Kau adalah wanita terbaik yang pernah Oppa temui. Kau adalah ibu dari keponakanku! Jangan biarkan kata-kata jahat mereka merasuki pikiranmu!"

​Dengan gerakan cepat, Dahyun mengambil ponsel Jiwon dan mematikannya. "Jangan baca lagi," ucapnya tegas. "Jangan pedulikan mereka. Mereka tidak penting. Hidupmu jauh lebih berharga dari sekadar komentar-komentar bodoh itu."

​Dahyun kembali memeluk Jiwon, kali ini memeluknya seperti seorang ibu memeluk anaknya. Jiwon membenamkan wajahnya di bahu Dahyun, membiarkan air matanya membasahi blus adik iparnya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia membiarkan dirinya merasa lemah dan rapuh. Komentar-komentar kejam di ponselnya, bisik-bisik yang ia dengar dari para karyawan saat ia diam-diam mencoba ke kantor—semua itu telah meruntuhkan pertahanannya.

​"Dahyun.." bisik Jiwon, suaranya putus asa. "Aku tidak tahu lagi. Semuanya terasa begitu berat bagiku."

​"Aku di sini, Eonnie," balas Dahyun, suaranya menenangkan. "Kau tidak sendirian. Jangan pernah berpikir seperti itu."

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang