Lampu-lampu kristal di aula megah itu berkilauan, memantulkan cahaya ke seluruh ruangan yang dipenuhi oleh para tamu undangan berpakaian formal. Aroma parfum mahal bercampur dengan bau bunga segar, menciptakan atmosfer mewah namun terasa kaku bagi Baek Hyunwoo. Ia berdiri tegak di tengah kerumunan, mengenakan tuksedo hitam yang terasa mencekik lehernya, meskipun ia berusaha terlihat tenang. Di usianya yang baru menginjak kepala tiga, ia merasa seperti seorang pesakitan yang menunggu vonis.
"Baek Hyunwoo-ssi?" Sebuah suara lembut namun berwibawa memanggil namanya. Ia menoleh dan mendapati seorang pria paruh baya dengan senyum ramah menghampirinya. Itu adalah ayah Hong Haein, pemilik Queens Group, salah satu konglomerasi terbesar di Korea Selatan.
Hyunwoo membungkuk sopan. "Selamat malam, Presdir Hong."
"Selamat malam juga, Nak. Haein sebentar lagi akan datang. Dia sedang ada sedikit urusan dengan ibunya." Presdir Hong menepuk bahu Hyunwoo pelan, namun sentuhan itu terasa berat di pundak Hyunwoo. "Saya harap kamu tidak terlalu tegang. Anggap saja ini pertemuan biasa."
'Pertemuan biasa?' batin Hyunwoo sinis. Ini bukan pertemuan biasa. Ini adalah awal dari mimpi buruknya. Pernikahan yang diatur ini, yang ia setujui demi menjaga nama baik keluarga dan bisnis ayahnya, terasa seperti jerat yang siap mengencang. Ia melirik sekeliling, melihat tatapan penuh harap dan rasa ingin tahu dari para undangan. Mereka semua pasti mengira ini adalah pernikahan impian, bersatunya dua keluarga besar yang berpengaruh. Padahal, di balik senyum formalitasnya, Hyunwoo merasakan kekosongan yang besar.
Tak lama kemudian, pintu di ujung aula terbuka, dan semua mata tertuju ke sana. Hong Haein melangkah masuk, didampingi oleh ibunya. Gaun pengantin putih yang menjuntai tampak begitu anggun membalut tubuhnya yang tinggi semampai. Wajahnya yang dingin dan tanpa ekspresi, terpoles riasan tipis, justru menambah kesan elegan yang sulit didefinisikan. Hyunwoo harus mengakui, Haein memang cantik. Sangat cantik, bahkan. Namun, kecantikan itu terasa dingin, seperti patung porselen yang sempurna namun tanpa kehangatan.
Langkah Haein anggun namun pasti, tidak menunjukkan kegugupan atau kebahagiaan layaknya seorang pengantin wanita. Matanya sesekali melirik ke arah Hyunwoo, tatapan yang datar dan tanpa emosi. Hyunwoo membalas tatapan itu dengan senyum kaku yang dipaksakan.
Ketika Haein berdiri tepat di hadapannya, Hyunwoo bisa merasakan aura dingin yang menguar darinya. Jantungnya berdebar bukan karena gugup atau bahagia, melainkan karena perasaan aneh yang sulit ia definisikan. Mungkin ini adalah awal dari penyesalan yang akan menghantuinya seumur hidup.
"Selamat malam," sapa Haein singkat, suaranya datar dan tanpa intonasi.
"Selamat malam," balas Hyunwoo dengan nada yang sama kaku.
Tidak ada senyum tulus, tidak ada tatapan penuh cinta. Yang ada hanyalah formalitas dan jarak yang terasa begitu lebar meskipun mereka berdiri bersebelahan.
Setelah serangkaian upacara dan pidato yang terasa panjang dan membosankan bagi Hyunwoo, akhirnya tiba saatnya mereka berdua berdiri berdampingan di altar. Pendeta mulai membacakan janji pernikahan. Ketika tiba giliran Hyunwoo, ia mengucapkan janjinya dengan suara yang terdengar mantap, meskipun hatinya bergejolak.
"Saya, Baek Hyunwoo, berjanji akan menerima engkau, Hong Haein, sebagai istri saya, untuk saling mencintai dan menghormati dalam suka maupun duka, dalam keadaan sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kita."
Kemudian giliran Haein. Suaranya terdengar jelas dan tegas, namun tetap tanpa emosi.
"Saya, Hong Haein, berjanji akan menerima engkau, Baek Hyunwoo, sebagai suami saya, untuk saling mencintai dan menghormati dalam suka maupun duka, dalam keadaan sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kita."
