Setelah makan malam selesai, Soohyun membantu Jiwon membereskan piring. Mereka duduk bersama di sofa, menikmati sisa malam. Soohyun kemudian mengambil alih pembicaraan.
"Jiwon, kita perlu segera menentukan tanggal pasti pernikahan kita," Soohyun berkata, nadanya kembali ke mode serius namun masih lembut. "Perencana pernikahan membutuhkan tanggal untuk bisa mengatur venue, katering, dan segala hal lainnya."
"Bagaimana menurutmu?" Jiwon bertanya. "Aku tidak tahu harus memilih kapan."
Soohyun tersenyum, mengusap lembut rambut Jiwon. "Aku sudah memikirkan beberapa tanggal, yang paling cepat di awal bulan depan. Bagaimana menurutmu? Minggu pertama bulan depan, atau di pertengahannya?"
Jiwon berpikir sejenak. "Awal bulan depan.. rasanya sangat cepat. Tapi jika itu yang terbaik.." Ia menatap Soohyun. "Bagaimana dengan semua persiapan lain seperti undangan?"
"Jangan khawatir," Soohyun meyakinkan. "Aku sudah menyiapkan tim khusus untuk mengurus undangan dan segala cetakan. Dahyun sudah memiliki daftarnya. Kita hanya perlu mengkonfirmasi desain dan daftar tamunya."
Soohyun kemudian mendekatkan diri, memeluk Jiwon erat. "Intinya, kita butuh tanggal pasti secepatnya, sayang. Agar kita bisa segera menikah." Bisikannya di telinga Jiwon penuh kehangatan. "Aku ingin kau segera menjadi Nyonya Kim."
Jiwon membalas pelukan Soohyun. Ia merasa semua ketakutan dan keraguannya perlahan sirna, digantikan oleh rasa aman dan cinta. Pernikahan ini, yang awalnya terasa seperti kewajiban, kini terasa seperti awal dari sebuah kebahagiaan.
"Baiklah, Oppa," Jiwon berbisik, membenamkan wajahnya di dada Soohyun. "Aku percaya padamu. Kita tentukan saja tanggalnya."
Soohyun tersenyum puas. Ia melepaskan pelukannya, menatap Jiwon dengan mata penuh kelembutan. "Kalau begitu, kita ambil tanggal di minggu pertama bulan depan. Tanggal enam. Tepat enambelas hari dari sekarang." Ia mengusap lembut pipi Jiwon. "Aku akan mengabari Dahyun dan perencana pernikahan besok pagi."
Jiwon mengangguk, masih merasa sedikit terkejut dengan kecepatan segalanya. Namun, ia juga merasakan kegembiraan yang membuncah. Dua minggu dua hari lagi. Waktu yang sangat singkat, tetapi ia tahu, dengan Soohyun di sisinya, semuanya akan berjalan lancar.
Setelah itu, keheningan nyaman kembali menyelimuti mereka. Mereka duduk berdekatan di sofa, Soohyun memeluk Jiwon erat, sementara Jiwon bersandar di bahu pria itu.
Tangan Soohyun yang tadi memeluk Jiwon, kini bergerak perlahan. Ia mengusap lembut perut Jiwon, sebuah gestur yang penuh kelembutan dan kehati-hatian. Jari-jarinya membelai kulit perut Jiwon yang masih rata, seolah ingin merasakan keberadaan buah hati mereka di dalam sana.
"Jiwon," Soohyun berbisik, suaranya pelan dan penuh perhatian. "Kau tidak merasa mual?" Ia menoleh, menatap Jiwon dengan khawatir. "Yang aku tahu, biasanya wanita hamil selalu mual. Terutama di pagi hari."
Jiwon tersenyum. "Awalnya iya, Oppa. Sebelum tahu hamil, aku sering merasa sedikit mual di pagi hari. Lalu yang terakhir saat di Jeju. Tapi setelah itu.. kita kembali ke sini, rasanya tidak lagi."
Soohyun mengerutkan keningnya. "Benarkah? Tidak ada rasa mual sama sekali? Atau pusing?"
"Tidak," Jiwon menjawab. "Aku merasa sangat baik. Bahkan pagi ini, saat bangun, aku merasa sangat segar."
Mendengar itu, Soohyun menghela napas. Ada perpaduan perasaan di wajahnya. Ia merasa lega sekaligus khawatir. Lega karena Jiwon tidak harus merasa mual dan tidak nyaman, tetapi ia juga khawatir, karena yang ia tahu dari berbagai artikel yang ia baca, mual adalah salah satu tanda umum kehamilan.
"Aku lega kau tidak mual," Soohyun berkata tulus, mencium puncak kepala Jiwon. "Tapi aku juga sedikit khawatir. Apa.. itu normal?" Ia menatap Jiwon, matanya dipenuhi keraguan. "Aku harus bertanya pada dokter saat jadwal pemeriksaanmu nanti mengenai ini."
