Kim Soohyun masih terbaring lemah, namun ia merasakan sebuah beban berat terangkat dari dadanya. Kata-kata terakhir ibunya, "Baiklah, lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Ibu tidak akan menghalangi lagi," masih terngiang. Ia mendengar langkah kaki Jungah yang berat menjauh, suara isakan ibunya yang samar, dan akhirnya pintu yang tertutup pelan.
Soohyun memejamkan mata, membiarkan air mata menetes di pelipisnya. Ini adalah kemenangan yang terasa pahit. Ia telah berjuang keras untuk kebahagiaannya, untuk Jiwon dan Gunwoo, namun ia juga tahu pertarungan ini telah mengukir luka yang dalam antara dirinya dan sang ibu. Ia berharap suatu hari nanti, luka itu bisa sembuh.
Ponsel yang tadi direbut Jungah kini tergeletak di meja samping ranjang. Soohyun dengan susah payah meraihnya, melihat bahwa panggilan dengan Jiwon ternyata masih tersambung. Ia mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Jiwon?" panggil Soohyun, suaranya lemah namun penuh harap.
Di ujung telepon, Jiwon masih terisak pelan. Ia telah mendengar semuanya. Kebencian Jungah, kepedihan Jungah, dan akhirnya, pengakuan kekalahan wanita itu. Hatinya campur aduk.
"Soohyun.." Jiwon berbisik, suaranya parau. "Aku.. aku masih di sini."
"Syukurlah," Soohyun menghela napas lega. "Aku.. aku minta maaf atas semua yang Ibu katakan dan lakukan padamu. Maafkan dia. Aku tahu dia sudah sangat melukaimu."
"Tidak apa-apa, Soohyun," Jiwon menahan isakannya. "Aku mengerti. Dia hanya.. dia hanya terluka." Meskipun Jiwon merasa sakit, ia berusaha memahami sudut pandang Jungah.
"Jiwon, kumohon.. bisakah kau kemari?" Soohyun memohon, nadanya penuh kerinduan. "Aku ingin melihatmu. Aku ingin tahu kau baik-baik saja. Aku.. aku membutuhkanmu di sisiku."
Hati Jiwon tersentuh mendengar permohonan Soohyun. Rasa rindu dan cemas yang ia pendam selama ini meluap. "Aku akan ke sana sekarang, Soohyun," janji Jiwon. "Aku akan segera ke sana."
Soohyun tersenyum tipis. "Terima kasih, Jiwon."
Jiwon segera memutus sambungan telepon. Ia bergegas meraih tasnya, memeriksa penampilannya yang masih acak-acakan. Ia tidak peduli. Yang terpenting adalah Soohyun. Ia tidak bisa membawa Gunwoo bersamanya karena bocah itu masih di sekolah. Lagi pula, ia sudah terlanjur mengatakan pada Gunwoo bahwa Soohyun sedang dalam perjalanan bisnis ke luar kota.
Ia menelepon taksi lagi, jantungnya berdebar kencang, kali ini bukan karena ketakutan, melainkan antisipasi. Sepanjang perjalanan, ia membayangkan bagaimana pertemuannya dengan Soohyun nanti. Ia ingin memeluknya erat, menciumnya, dan memberitahu kabar bahagia tentang kehamilannya.
Setibanya di rumah sakit, Jiwon langsung menuju kamar pemulihan Soohyun. Sekretaris Kang yang masih berada di lorong rumah sakit, melihat Jiwon datang. Ada ekspresi lega di wajah pria itu. Ia tahu Soohyun sangat membutuhkan Jiwon di sisinya.
Jiwon membuka pintu kamar Soohyun dengan perlahan. Soohyun sudah memejamkan mata, namun ia bisa merasakan kehadiran Jiwon. Matanya perlahan terbuka, dan pandangannya langsung terpaku pada Jiwon yang berdiri di ambang pintu.
"Jiwon.." Soohyun berbisik, senyum tipis mengembang di bibirnya.
Jiwon tak mampu menahan air matanya lagi. Ia segera mendekati ranjang, meraih tangan Soohyun, dan menciumnya lembut. "Soohyun.. Syukurlah kau baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja sekarang, karena kau di sini," Soohyun membalas, meremas lembut tangan Jiwon. "Gunwoo bagaimana? Dia baik-baik saja?"
Jiwon mengangguk, tersenyum kecil. "Dia baik-baik saja, sayang. Dia di sekolah sekarang. Aku tidak membawanya karena.. kau tahu, aku sudah bilang kau ada pekerjaan di luar kota." Jiwon mengusap pipi Soohyun. "Nanti, kalau kau sudah lebih baik, kau pasti bisa bertemu dengannya."
