Beberapa hari setelah percakapan yang mengubah segalanya di kantor itu, Kim Jiwon melangkah masuk ke dalam apartemen mewah Kim Soohyun, dengan Jungwoo yang dengan sigap mengikuti di belakangnya, membawa tiga koper besar dan sebuah tas jinjing berisi kebutuhan pribadi Jiwon. Lantai marmer dingin di lobi utama terasa asing di bawah kakinya, dan suara langkahnya yang lembut memecah keheningan yang mewah. Aroma jeruk segar yang menyegarkan di udara terasa kontras dengan gejolak di hatinya yang berdebar tak karuan. Ini adalah tempat yang sama, apartemen penthouse di salah satu gedung paling eksklusif di Gangnam, tempat ia mengalami malam terburuk dalam hidupnya—malam yang dulu ia ingin lupakan selamanya, menguburnya dalam-dalam di bawah lapisan trauma.
Kini, ironisnya, ia kembali. Bukan sebagai tawanan yang gemetar, melainkan sebagai.. penghuni. Sebuah awal baru, yang terasa seperti lembaran kosong yang diisi dengan ketidakpastian yang mengganggu dan secercah harapan yang rapuh, setipis benang sutra.
Soohyun menyambutnya di ambang pintu, senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum itu terasa kaku, sedikit gugup, sebuah ekspresi yang sangat jarang terlihat di wajah dingin dan tak terbaca miliknya. Rambutnya disisir rapi, dan kemeja sutra abu-abu yang dikenakannya memancarkan aura formalitas, seolah ia sedang menghadapi pertemuan bisnis penting, bukan menyambut seorang wanita hamil ke rumahnya.
"Selamat datang, Jiwon," katanya, suaranya lembut, hampir terlalu lembut untuk seorang Kim Soohyun. "Semoga kau merasa nyaman di sini."
Jiwon hanya mengangguk, masih merasa canggung, tatapannya menyapu sekeliling. Ia melihat perubahan yang signifikan. Apartemen itu tidak lagi terasa dingin, steril, dan kaku seperti malam itu. Vas bunga kristal yang dulunya kosong kini diisi dengan hamparan baby's breath segar, menebarkan aroma harum yang lembut. Sebuah selimut rajutan berwarna krem terlipat rapi di sofa beludru, mengundang siapa pun untuk meringkuk. Dan di sudut ruang keluarga, sebuah rak buku kecil penuh dengan buku-buku arsitektur berdesain elegan dan beberapa buku panduan kehamilan telah ditambahkan. Semuanya terasa.. personal. Ada sentuhan hangat yang sebelumnya tidak ada.
Soohyun memperhatikan pandangan Jiwon yang menyiratkan pertanyaan. Ia menghela napas pelan, seolah mencari kata-kata yang tepat. "Aku.. aku sudah menyiapkan kamarmu di lantai atas. Di ujung koridor, jauh dari kamarku. Kau akan memiliki privasi penuh. Ada juga ruang kerja kecil jika kau ingin bekerja di rumah atau hanya ingin menyendiri."
Jiwon menatap Soohyun. Ia melihat ketulusan di mata pria itu, sebuah upaya nyata untuk membuatnya merasa aman dan nyaman. Itu bukan tatapan manipulatif yang ia kenal, melainkan sesuatu yang lebih.. manusiawi. "Terima kasih," Jiwon berbisik, rasa syukurnya yang tulus mengejutkan dirinya sendiri. Itu adalah kata pertama yang keluar dari bibirnya sejak ia melangkah masuk.
Hari-hari pertama tinggal bersama adalah masa yang penuh penyesuaian. Soohyun menjaga jarak, sangat menghormati ruang pribadi Jiwon. Ia tidak pernah masuk ke kamar Jiwon tanpa izin, dan selalu mengetuk pintu dengan sopan sebelum berbicara. Meskipun mereka kini berada di bawah satu atap yang sama, ia terus mengirimkan pesan-pesan singkat yang peduli, menanyakan kabarnya atau apakah ia membutuhkan sesuatu.
Setiap pagi, rutinitas yang aneh namun menenangkan terbentuk. Soohyun akan menyiapkan sarapan sehat untuk Jiwon—seringkali bubur oat dengan buah beri segar, dilengkapi dengan jus buah organik dan vitamin prenatal. Ia akan mengantarnya ke meja makan, lalu duduk di sisi lain, tidak memaksakan percakapan, hanya membaca koran pagi atau bekerja di tabletnya.
"Kau harus makan banyak," Soohyun akan berkata, matanya sesekali melirik perut Jiwon yang menyimpan kehidupan di dalamnya. "Untukmu dan untuk dia. Dokter bilang ini penting untuk perkembangan janin."
Jiwon, yang awalnya masih makan dengan enggan, perlahan mulai menikmati sarapan itu. Ia melihat Soohyun yang sabar menunggunya selesai, terkadang hanya dengan suara halaman koran yang dibalik. Kehadiran Soohyun tidak lagi terasa mengancam, melainkan menenangkan, bahkan di pagi hari yang sunyi itu.
