Setelah sarapan yang canggung, Kim Jiwon bangkit dari kursinya untuk membantu Nyonya Lee membereskan piring kotor. Ia membawa tumpukan piring ke dapur, dan Nyonya Lee mengikutinya, bersandar di konter sambil mengamati putrinya.
"Jiwon-ah," Nyonya Lee berkata pelan, suaranya penuh kehati-hatian. "Eomma ingin bicara sebentar."
Jiwon menghentikan gerakannya, menoleh pada ibunya.
"Kau tahu, Nak," Nyonya Lee melanjutkan, mendekat sedikit, suaranya kini lebih pelan, agar tidak terdengar oleh Soohyun dan Tuan Kim di ruang makan. "Soohyun-ssi itu pria yang baik. Dan dia.. dia terlihat sangat menyayangimu."
Jiwon hanya menunduk, menunggu kelanjutan perkataan ibunya. Jantungnya berdebar.
"Eomma tahu kau tumbuh besar bersama Junseo," Nyonya Lee melanjutkan, "dan kalian sudah seperti saudara kandung. Tapi.. kau harus ingat, Soohyun-ssi sekarang adalah caalon suamimu." Nyonya Lee meraih tangan Jiwon, menggenggamnya. "Eomma rasa.. Soohyun-ssi sangat cemburu kemarin pada Junseo."
Jiwon terkesiap, pipinya langsung memerah padam. Ia yang memang tahu Soohyun cemburu, hanya bisa menunduk malu, tidak mampu menatap mata ibunya. Sebuah desahan tertahan lolos dari bibirnya. Ternyata ibunya bisa sepeka itu. Ia pikir hanya Soohyun dan dirinya yang merasakan ketegangan itu, tapi ibunya.. ibunya melihat semuanya.
"Jadi," Nyonya Lee menepuk lembut tangan Jiwon. "Meski itu Junseo yang kau anggap saudara, tolong jaga sikapmu di hadapan Soohyun-ssi. Dia akan jadi suamimu. Kamu harus menghargai perasaannya. Dia pria yang baik, dan dia berusaha keras untukmu. Dia begitu karena mencintamu."
Jiwon mengangguk pelan, rasa malu dan pengertian bercampur aduk. "Ya, Eomma. Aku mengerti. Maafkan aku."
Nyonya Lee tersenyum lembut. "Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Yang penting, kalian bisa hidup bahagia."
Jiwon merasa lega sekaligus malu. Nasihat ibunya, meskipun blak-blakan, justru membuatnya merasa lebih bisa mengerti Soohyun.
Saat Jiwon melihat Soohyun bangkit dari meja makan, bersiap untuk kembali ke perkebunan bersama ayahnya. Ini adalah kesempatannya. Jiwon harus berbicara dengan pria itu. Ia mengikuti Soohyun ke teras belakang rumah, menjauhi jangkauan dengar orang tuanya.
"Oppa," panggil Jiwon, suaranya sedikit bergetar.
Soohyun berhenti, berbalik menatap Jiwon. Ekspresinya masih tenang, seolah tidak ada gejolak apa pun di dalam dirinya.
Jiwon menarik napas dalam, mengumpulkan keberanian. "Perkataanmu semalam.. apa itu serius?" tanyanya, matanya menatap Soohyun lekat-lekat, mencari jawaban jujur.
Soohyun mengangkat alisnya. Sebuah senyum tipis, tersungging di bibirnya. Ia langsung mengiyakan. "Tentu saja," jawabnya tegas, tanpa keraguan sedikit pun. "Aku serius."
Jiwon terkejut dengan jawaban cepat dan tegas itu. Ia mengharapkan sedikit keraguan, atau mungkin basa-basi. "Lalu.. kenapa kau menanyakan itu?" Soohyun bertanya, tatapannya menembus Jiwon.
Jiwon menunduk sejenak, lalu mengangkat kepalanya lagi. "Karena kau bersikap seolah tidak terjadi apa-apa," jawab Jiwon jujur, suaranya mengandung sedikit kekecewaan. "Pagi ini kau terlihat.. sama seperti biasanya. Dingin, jauh."
Soohyun terdiam sesaat, menatap Jiwon. Ia kemudian melangkah mendekat, mengulurkan tangannya, dan mengusap lembut pipi Jiwon dengan ibu jarinya. Sentuhannya singkat namun penuh kelembutan.
Soohyun tersenyum tipis, senyum yang tulus, tidak ada unsur godaan kali ini. "Maaf," katanya, suaranya rendah dan penuh pengertian. "Aku sudah terbiasa menutupi emosiku. Selama ini, aku selalu diajarkan untuk tidak menunjukkan kelemahan, untuk selalu bersikap kuat. Itu sudah menjadi bagian dari diriku."
