Suara ketukan di pintu apartemen mewah Kim Soohyun menggelegar, memecah kesunyian malam yang seharusnya tenang. Setiap ketukan bagai palu yang menghantam jantung Kim Jiwon, yang berdiri mematung di tengah ruang tamu. Teriakan-teriakan para polisi di luar, menuntut akses, berpadu dengan kilatan blitz kamera media yang menembus jendela kaca, menciptakan kaleidoskop cahaya yang menyilaukan dan menambah kekacauan. Wajah Jiwon sepucat kain kafan, dan secara refleks, tangannya terangkat, merengkuh perutnya. Ketakutan akan trauma masa lalu yang kembali menghantui, membekapnya dalam ketidakberdayaan yang melumpuhkan.
Kim Soohyun, yang tadinya sedang mengamankan beberapa dokumen penting, melihat kepanikan yang tergambar jelas di mata Jiwon. Hatinya mencelos, diserang rasa sakit yang tajam. Ia tahu, di saat seperti ini, ia tidak boleh ragu. Ia harus bertindak cepat, tegas, dan tanpa cela. Melangkah mendekat ke arah Jiwon, setiap langkahnya dipenuhi tekad yang membara. Tatapannya pada Jiwon, yang biasanya penuh dominasi, kini melunak, dipenuhi kelembutan yang tak terduga.
"Dengarkan aku baik-baik, Jiwon," Soohyun berkata, suaranya mantap namun lembut, mencoba menembus kabut ketakutan yang menyelimuti Jiwon. Ia meraih tangan Jiwon, merasakan dinginnya kulit wanita itu. "Aku akan mengatasi ini. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu. Aku janji. Tetaplah di sini. Jangan katakan apa pun, bahkan satu kata pun."
Jiwon hanya bisa mengangguk, terlalu takut untuk berbicara, terlalu terkejut untuk memproses apa pun. Ia melihat Soohyun, pria yang dulu ia benci dengan segenap jiwa, pria yang mengikatnya dalam situasi yang tak terduga, kini bersiap menghadapi badai demi melindunginya. Sebuah ironi yang menyakitkan sekaligus menghangatkan hatinya.
Soohyun mengambil napas dalam-dalam, menguatkan dirinya. Ia melangkah menuju pintu utama, setiap langkahnya adalah deklarasi tekad. Ia menarik napas sekali lagi, menghembuskannya perlahan, seolah melepaskan semua keraguan, dan membukanya. Seketika, para polisi dan kerumunan media yang menanti di luar langsung menyerbu masuk, bagai ombak yang menerjang pantai. Kilatan kamera meledak, menyorot tajam ke arahnya, membutakan sesaat.
"Kim Soohyun, Anda ditangkap atas tuduhan penculikan dan pemaksaan terhadap Nona Kim Jiwon!" Seorang detektif bertubuh tegap dengan wajah serius dan tatapan tanpa ekspresi maju ke depan, membacakan pasal penangkapan dengan suara lantang yang memecah riuhnya suara. "Anda memiliki hak untuk tetap bungkam. Apa pun yang Anda katakan dapat dan akan digunakan sebagai bukti di pengadilan."
Kilatan blitz kamera kembali meledak, bagai rentetan petir di malam hari. Para wartawan, bagai hiu yang mencium darah, mulai memberondong Soohyun dengan pertanyaan yang saling tumpang tindih.
"Tuan Kim, benarkah Anda menculik Nona Jiwon selama ini dan memaksanya untuk tetap bersama Anda?" seorang reporter wanita dengan mikrofon di tangan berteriak, suaranya melengking.
"Apa hubungan Anda sebenarnya dengan Nona Kim Jiwon dan anak yang dikandungnya? Apakah ini semua hanya sandiwara untuk menutupi kejahatan Anda?" reporter lain menyahut, mendorong mikrofon lebih dekat ke wajah Soohyun.
Soohyun mengabaikan semua pertanyaan itu. Matanya yang tajam menembus kerumunan, mencari sosok yang ia tahu pasti ada di sana. Dan benar saja, di belakang barisan para wartawan, Lee Hanjoon berdiri, menyeringai puas, tatapannya penuh kemenangan. Seringai itu begitu menjijikkan di mata Soohyun. Soohyun membalas seringai itu dengan tatapan dingin, penuh ancaman yang tersimpan, sebuah janji yang tak terucapkan tentang pembalasan.
"Saya akan ikut," Soohyun berkata kepada detektif, suaranya tenang dan terkontrol, meskipun di dalam hatinya badai berkecamuk. Ia tahu betul apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebuah tindakan takluk demi perlindungan yang tak ternilai. Ia mengangkat kedua tangannya, membiarkan detektif memborgolnya. Bunyi 'klik' borgol yang menutup terasa begitu nyaring di telinga Jiwon.
