Finding Truth in Lies 9

357 75 10
                                        

Beberapa minggu setelah Hyunwoo dan Haein kembali ke rutinitas mereka, kehidupan di apartemen mereka di tengah kota Seoul perlahan menemukan ritmenya seperti sedia kala. Hyunwoo menjalani sesi terapi mingguan, berusaha mengatasi trauma masa lalu dan membangun kembali fondasi kepercayaan yang sempat hancur. Haein, menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah. Ia mencoba merajut kembali ketenangan yang telah lama hilang, menghias ulang apartemen, membaca buku-buku yang tertunda, dan sesekali menikmati kopi di balkon sambil memandang hiruk pikuk kota di bawah.

Hari-hari awalnya terasa seperti lembaran baru yang bersih. Pagi selalu diawali dengan sarapan yang disiapkan Haein – aroma roti panggang atau sup hangat memenuhi udara. Mereka bicara ringan, membahas rencana hari itu, atau sekadar menikmati kebersamaan dalam diam yang nyaman. Hyunwoo akan pergi bekerja, meninggalkan Haein dalam kesendirian yang disengaja, sebuah ruang yang ia butuhkan untuk penyembuhan diri.

Namun, ketenangan itu perlahan mulai terkikis, digantikan oleh noda-noda kecil kecemasan yang awalnya diabaikan.

Suatu siang yang cerah, saat Haein berjalan-jalan santai mengitari taman di kompleks apartemen mereka – sebuah kebiasaan baru yang menenangkan – ia merasakan sensasi aneh. Bukan hanya sekadar perasaan diperhatikan, melainkan sensasi diincar. Bulu kuduknya meremang meski cuaca hangat. Ia berhenti melangkah, mengedarkan pandangan. Beberapa ibu-ibu sedang mengobrol di bangku taman, anak-anak kecil tertawa riang di area bermain. Tidak ada wajah asing atau mencurigakan. Ia menggelengkan kepala, mencoba menepis perasaan itu, menyalahkan imajinasinya yang mungkin sedikit terlalu aktif setelah masa-masa penuh drama.

"Mungkin aku terlalu banyak membaca novel misteri," gumamnya pada diri sendiri, melanjutkan langkah.

Namun, sensasi itu kembali menghantuinya beberapa hari kemudian, di tempat yang paling tidak terduga, lorong supermarket yang ramai. Saat ia sedang memilih buah-buahan, tatapan itu kembali terasa menusuk punggungnya. Kali ini, ia bereaksi lebih cepat. Ia menoleh tajam, mencari sumber perasaan tidak nyaman itu di antara deretan rak dan troli belanja. Sekilas, di ujung lorong, ia melihatnya. Seorang pria berdiri agak jauh, separuh tersembunyi di balik rak display, jelas-jelas sedang melihat ke arahnya. Wajahnya tertutup topi baseball yang ditarik rendah dan masker medis berwarna hitam yang umum dikenakan di tengah kota. Hanya matanya yang terlihat – sepasang mata yang gelap dan intens. Jantung Haein berdebar kencang, alarm internalnya berteriak. Ia mencoba melangkah mendekat, untuk melihat lebih jelas, namun sebelum ia sempat mengambil dua langkah, pria itu berbalik dengan cepat, menyatu dengan kerumunan pembeli lain, dan menghilang.

Haein berdiri terpaku di sana, keranjang belanja di tangannya terasa berat. Tangannya sedikit gemetar. Ini bukan imajinasi. Ada seseorang di luar sana yang mengawasinya. Perasaan tidak nyaman itu kini berubah menjadi rasa takut yang nyata.

Beberapa hari berikutnya terasa seperti sedang berjalan di atas pecahan kaca. Setiap kali Haein keluar rumah, ia merasa tegang, terus-menerus menoleh ke belakang. Rasa paranoid mulai merayap masuk ke dalam benaknya.

###

Lalu, teror itu memasuki ruang pribadinya. Saat Hyunwoo sedang bekerja, telepon rumah mereka berdering. Nada deringnya yang ceria terasa sangat kontras dengan perasaan yang tiba-tiba menyergap Haein. Ia mengangkat telepon, nada suaranya penuh harap, "Halo?" Ia berharap itu ibunya, atau mungkin Hyunwoo yang menelepon di sela-sela rapatnya.

Namun, yang ia dengar hanyalah keheningan. Keheningan yang berat, tebal, dan dingin.

"Halo? Siapa ini?" ulang Haein, nada suaranya sedikit ragu.

Masih tidak ada jawaban. Hanya.. suara. Suara napas. Samar, tapi jelas terdengar. Napas yang berat, tidak teratur. Seperti seseorang yang sedang berjuang, atau mungkin.. mengintai. Bulu kuduk Haein berdiri tegak, merayap dari leher hingga ke lengan. Rasa takut dingin menjalari tubuhnya. Tanpa berpikir panjang, ia menjatuhkan gagang telepon, menutupnya dengan bunyi keras.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang