Penebusan 15 (End)

535 82 16
                                        

Setelah perdebatan sengit di rumah sakit, Kim Jungah kembali ke kehidupannya yang serba teratur. Namun, di balik topeng kesempurnaan yang ia tunjukkan, hatinya kini terasa kosong dan dingin. Kantornya yang mewah, dihiasi perabotan mahal dan pemandangan kota Seoul, terasa sesak. Ia duduk di kursinya, memandang tumpukan dokumen yang biasanya menjadi sumber ambisi, namun kini terasa hampa. Kata-kata Soohyun tentang "Ibu yang dulu" terus terngiang di telinganya, menusuk relung jiwanya yang paling dalam.

"Ibu yang dulu.. Aku ingin Ibu yang dulu."

Jungah merasakan nyeri tumpul di dadanya. Bukan nyeri fisik, melainkan nyeri batin yang tak terobati. Ia juga merindukan putranya yang dulu, yang memeluknya erat dan memanggilnya "Mama" dengan penuh cinta. Dan tentu saja ia juga merindukan dirinya yang dulu, wanita yang berjuang demi putranya, bukan wanita yang dibutakan ambisi.

Sekretaris Kang, yang kini bekerja dengannya, mengamati perubahan ini dengan cemas. Jungah tidak lagi agresif dalam rapat, tidak lagi menyeringai puas saat memenangkan negosiasi. Ia menjadi lebih pendiam, sering melamun, dan terkadang melamun menatap foto Soohyun kecil yang ia simpan di dalam laci mejanya.

Suatu sore, saat Jungah sedang memeriksa laporan, ia merasakan nyeri dada yang tajam. Ia mengernyit, memegang dadanya, mencoba mengabaikannya. "Hanya stres," bisiknya pada dirinya sendiri. "Aku terlalu lelah."

Namun, gejala itu tidak hilang. Seiring berjalannya minggu, nyeri dada itu semakin sering muncul, disertai dengan sesak napas. Terkadang ia merasa pusing dan pandangannya kabur. Ia mencoba menyembunyikan ini dari Sekretaris Kang, dari dunia luar. Ia tidak mau terlihat lemah.

"Nyonya, Anda terlihat tidak sehat," Sekretaris Kang berani menyuarakan kekhawatirannya suatu hari. "Wajah Anda pucat."

"Aku baik-baik saja," Jungah menjawab dengan nada datar, meski suaranya sedikit bergetar. "Hanya butuh istirahat."

Di sisi lain kota, di Sweet Corner, kehidupan Soohyun dan Jiwon kembali dipenuhi kebahagiaan. Toko mereka semakin ramai. Soohyun, yang telah pulih sepenuhnya, kini menjadi manajer toko yang handal. Ia sibuk mengurus promosi dan manajemen, memastikan Jiwon tidak kelelahan. Jiwon sendiri, dengan perutnya yang semakin membuncit, terlihat berseri-seri.

Suatu hari, Soohyun dan Jiwon sedang mendiskusikan rencana untuk membeli oven baru. Jiwon tertawa geli saat melihat tingkah Soohyun yang masih sangat protektif.

"Kau tidak perlu mengangkat kotak seberat itu, Jiwon!" Soohyun melarang saat melihat Jiwon mencoba mengangkat sebuah kardus kecil. "Biarkan aku saja!"

"Ini hanya kardus kecil, Soohyun," Jiwon membalas, sambil tersenyum. "Kau terlalu berlebihan."

"Tidak," Soohyun berkeras, mengambil alih kardus itu. "Aku sudah berjanji akan menjagamu dan bayi kita, kan? Aku tidak mau kau sampai kelelahan."

Jiwon menatap suaminya, hatinya dipenuhi cinta.

Beberapa minggu berlalu, dan kondisi Jungah semakin memburuk. Suatu pagi, saat rapat dengan dewan direksi, ia merasakan nyeri yang luar biasa di dadanya. Pandangannya kabur, suaranya tercekat. Sebelum ia sempat berpegangan pada meja, tubuhnya limbung, dan ia jatuh pingsan di lantai ruang rapat yang dingin.

Sekretaris Kang, yang sudah mencemaskan kondisi Jungah, dengan sigap menghampirinya. Ia berteriak panik, meminta bantuan. Di tengah kekacauan itu, Sekretaris Kang segera menelepon Soohyun.

"Tuan Kim!" suara Sekretaris Kang terdengar panik di ujung telepon. "Anda harus segera datang ke rumah sakit! Nyonya Jungah.. Nyonya Jungah pingsan."

Telepon itu langsung membuat dunia Soohyun seolah berhenti. Senyum di wajahnya memudar, digantikan ekspresi terkejut dan cemas. Ia tahu, di balik semua konflik mereka, ibunya tetaplah ibunya. Dan ia masih mencintainya.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang