Lantunan musik nan elegan mengalun lembut di aula resepsi yang megah, berpadu dengan gemerlap lampu kristal yang memantulkan cahaya ke seluruh penjuru ruangan. Suasana penuh kebahagiaan dan cinta begitu terasa di udara. Namun, di salah satu meja yang agak terpencil, Hong Haein duduk sendirian, seolah terpisah dari riuh rendah kebersamaan. Matanya menyapu kerumunan orang-orang yang tertawa, berbincang akrab, dan berpasangan. Ya, semua orang di sana memiliki gandengan, entah suami/istri, kekasih, atau setidaknya teman untuk berbagi tawa. Hanya dirinya yang terisolasi dalam kesendirian yang terasa begitu nyata.
Sebuah desahan halus lolos dari bibirnya. Sejujurnya, ia merasa bosan. Bukan karena acara pernikahannya tidak meriah—Chaerin, sahabat karibnya, adalah pusat perhatian malam ini—tetapi karena kontras yang mencolok antara kebahagiaan kolektif di sekelilingnya dan kehampaan yang ia rasakan dalam statusnya. Ia menatap pasangan pengantin di pelaminan, Chaerin dan Hyunmin, yang tampak berseri-seri saat menyambut tamu. Hatinya ikut berbahagia untuk sahabatnya, sungguh. Tapi bagian lain dirinya merintih pelan, merasakan iri yang enggan ia akui. Ada keinginan kuat untuk melarikan diri, pulang ke apartemennya yang sunyi, di mana ia tidak harus menyaksikan semua 'kebersamaan' ini. Namun, mengingat ini adalah pernikahan Chaerin, ia segera mengurungkan niat itu. Tak mungkin ia pergi sebelum acara selesai.
"Astaga, kau melamun saja?"
Sebuah suara ceria yang familiar mengejutkannya. Hong Haein refleks sedikit tersentak. Di depannya, Chaerin, sang mempelai wanita yang cantik dalam balutan gaun putihnya, berdiri dengan senyum lebar.
"Chaerin! Ya Tuhan, jangan muncul tiba-tiba begitu!" gerutu Haein, sedikit kesal karena konsentrasinya terpecah.
Chaerin terkekeh pelan, sorot matanya penuh pengertian. "Hehehe, maaf, maaf. Habisnya kau tampak.. sendirian dan tenggelam dalam pikiranmu." Chaerin menarik kursi kosong di samping Haein dan duduk, gaunnya sedikit berkibar.
Haein mengerutkan dahi. "Kenapa malah kemari? Tamu-tamu masih banyak, kan?"
"Memangnya tidak boleh?" Chaerin menaikkan alisnya.
"Ya, bukan begitu. Maksudku, nanti kalau ada tamu penting datang, bagaimana?"
Chaerin mengedikkan bahu santai. "Masih ada Hyunmin di sana," katanya, menunjuk ke arah pelaminan di mana Hyunmin sedang beramah tamah dengan beberapa tamu. Ia lalu menyenggol lengan Haein pelan dengan sikutnya. "Lagipula, aku ingin menemani sahabatku yang cantik ini, yang malam ini kebetulan sedang berstatus.. jomblo. Pasti bosan, kan?" Ia menekan kata 'jomblo' dengan nada menggoda.
Belum sempat Haein memberikan balasan pedas, Hyunmin tiba-tiba mendekat bersama seorang pria. Hyunmin merangkul pinggang Chaerin dari belakang, memberikan kecupan singkat di puncak kepalanya. Haein merasakan gelombang kecil kekesalan. Oke, pamer kemesraan di depan orang single. Sangat pengertian. Jujur saja, ia kurang suka hal-hal romantis yang demonstratif seperti itu. Tapi, lagi-lagi, ia juga ikut senang melihat kebahagiaan tulus di wajah sahabatnya.
"Bisa kan tidak memamerkan adegan mesra kalian sekarang?" ujar pria yang datang bersama Hyunmin tadi, nadanya datar tapi ada kilat geli di matanya.
Hyunmin tertawa, melepaskan rangkulannya dari Chaerin. "Memangnya kenapa? Sudah sah, kok." Ia kemudian menoleh pada Haein. "Oh iya, Haein-ah, kenalkan. Ini teman lamaku, sekarang dia tinggal luar negeri, namanya Baek Hyunwoo."
Baek Hyunwoo melangkah sedikit ke depan. Sosoknya tegap, dengan sorot mata yang cerdas dan senyum yang terasa tulus terukir di bibirnya. Ada aura percaya diri namun tidak arogan di sekelilingnya. "Hai.. Baek Hyunwoo. Senang bertemu denganmu, Haein-ssi." Ia mengulurkan tangan kanannya ke arah Haein, gerakannya luwes.
Hong Haein menatap uluran tangan itu. Seketika, alarm bahaya dalam dirinya berdering samar. Sentuhan. Kedekatan. Sikap ramah seorang pria asing. Semua memicu ingatan yang tidak nyaman. Ia menarik napas nyaris tak terdengar, ekspresinya tetap datar. "Hong Haein," jawabnya singkat, sama sekali tidak membalas uluran tangan Hyunwoo.
