Kim Soohyun menurunkan ponselnya setelah memutus panggilan dengan Kim Jiwon. Wajahnya datar, namun ada kilatan di matanya yang mengkhianati ketenangan itu. Nomor kamar apartemen Jiwon sudah tersimpan di otaknya. Tidak enak badan, kata Jiwon. Pikiran itu entah mengapa mengusik Soohyun lebih dari yang seharusnya.
Tanpa membuang waktu, Soohyun bangkit dari sofa di ruang tamunya. Ia bahkan tidak repot-repot mengganti pakaian kerja yang ia kenakan ke kantor. Ada dorongan aneh yang mendesaknya untuk segera bertindak. Ia meraih kunci mobilnya, jas yang tadi siang ia kenakan untuk ke kantor masih teronggok di kursi dekat pintu, kini ia tidak peduli untuk mengenakannya.
Ia melangkah keluar dari penthouse, masuk ke dalam lift pribadi, dan turun ke area parkir. Dengan cepat, ia masuk ke dalam mobil sport mewahnya. Mesin mobil meraung pelan saat ia menyalakannya.
Sohyun mengemudikan mobilnya melintasi jalanan Seoul yang sepi. Pikirannya dipenuhi kebingungan akan dirinya sendiri. Ini tidak seperti dirinya. Ia adalah pria yang pragmatis, yang hanya peduli pada logika dan hasil. Ia tidak pernah peduli pada orang lain, apalagi sampai merespons seperti ini hanya karena mendengar seseorang 'tidak enak badan.'
Ia menghela napas. Bodoh. Ia mencoba menepis perasaan aneh ini, menganggapnya hanya karena ikatan semalam yang baru terjadi. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia tahu ada yang lebih dari itu. Ini adalah sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang baru ia rasakan. Soohyun mengarahkan mobilnya menuju daerah yang ia tahu masih ada beberapa restoran yang buka 24 jam. Ia mencari-cari restoran yang menjual bubur ayam. Ini adalah makanan yang paling cocok untuk orang yang sedang tidak enak badan.
Setelah beberapa saat berkeliling, ia akhirnya menemukan sebuah kedai bubur ayam kecil yang masih buka. Soohyun memarkir mobilnya dengan sedikit sembarangan, tidak peduli dengan peraturan. Ia turun, melangkah masuk ke dalam kedai yang remang-remang, di mana hanya ada beberapa pelanggan larut malam.
"Bubur ayam satu, bungkus," Soohyun berkata dengan nada tegas kepada penjual, yang tampak sedikit terkejut dengan kehadirannya.
Penjual itu buru-buru menyiapkan pesanan Soohyun. Soohyun mengambil bungkusan bubur panas itu, lalu segera kembali ke mobilnya. Aroma bubur yang gurih memenuhi mobil, sedikit mengurangi ketegangan di dadanya. Tanpa membuang waktu, Soohyun langsung melajukan mobilnya menuju apartemen Jiwon. Pikiran tentang Jiwon yang sendirian, tidak enak badan, dan mungkin masih canggung dengan kejadian semalam, memenuhi benaknya. Ia tidak bisa meninggalkannya begitu saja.
Laju mobil Soohyun begitu cepat, ia mengabaikan batas kecepatan. Ia harus segera sampai.
Setibanya di gedung apartemen Jiwon, Soohyun memarkir mobilnya di area drop-off dan langsung masuk ke lobi. Ia menekan tombol lift, dan menunggu dengan tidak sabar. Ketika lift terbuka, ia melangkah masuk, napasnya sedikit memburu. Ia menekan nomor lantai yang tadi Jiwon sebutkan.
Saat pintu lift terbuka di lantai Jiwon, Soohyun langsung melangkah keluar. Lorong itu sepi dan hening. Ia mencari nomor kamar yang tadi Jiwon sebutkan, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah pintu. Jantungnya berdebar, sedikit lebih kencang dari biasanya.
Ia mengangkat tangannya, dan menekan bel pintu. Sekali. Lalu, karena tidak ada jawaban, ia menekan lagi. Dua kali. Suara bel yang samar terdengar di dalam apartemen yang hening. Ia menunggu, nafasnya tertahan, membawa sekantong bubur ayam di tangannya, siap menghadapi apapun yang akan terjadi.
###
Suara bel pintu yang nyaring dan mendesak membuat Kim Jiwon terlonjak dari ranjangnya. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu siapa itu. Kim Soohyun. Tapi ia tidak percaya pria itu benar-benar akan datang. Di tengah malam? Hanya karena ia bilang sedikit tidak enak badan?
