Beberapa hari telah merayap berlalu sejak ledakan kebenaran tentang Lee Hanjoon mengguncang dunia hiburan dan bisnis Korea Selatan. Skandal itu bagai gempa bumi, meratakan reputasi Hanjoon, namun mengangkat Kim Soohyun dari reruntuhan. Namanya, yang dulunya tercoreng, kini bersih, berkilau di mata publik yang perlahan kembali menaruh kepercayaan. Perusahaan Kim Engineering & Construction bagai phoenix yang bangkit dari abu, kini berdiri lebih tegak, lebih kuat, dan lebih berwibawa dari sebelumnya. Namun, bagi Soohyun dan Jiwon, panggung utama bukanlah hiruk-pikuk dunia luar, melainkan panggung batin mereka sendiri, tempat mereka merajut kembali helai-helai hubungan yang sempat koyak.
Apartemen mewah Soohyun, sebuah penthouse di salah satu gedung pencakar langit elite di Gangnam, kini benar-benar terasa seperti rumah. Dulu, keheningan mencekik, membebani setiap sudutnya. Sekarang, tawa renyah Jiwon dan kadang-kadang gelak tawa Soohyun yang jarang terdengar, memecah kesunyian, menggantinya dengan keheningan nyaman yang sarat makna. Jiwon, dengan perut yang semakin membesar, bergerak lebih leluasa di sana, sesekali berhenti untuk mengelus perutnya, senyum lembut terukir di bibirnya. Soohyun, di sisinya, tak pernah jauh. Matanya yang tajam kini memancarkan kelembutan yang tak pernah ada sebelumnya, ia belajar bagaimana menjadi pasangan yang perhatian dan calon ayah yang protektif, setiap gerakannya adalah bentuk kehati-hatian yang tulus.
Suatu sore yang hangat, di mana langit Seoul dihiasi gradasi oranye dan ungu, Soohyun mengajak Jiwon untuk bertemu dengan Lee Jungwoo. Bukan di kafe kelas atas yang biasa mereka kunjungi, melainkan di sebuah hanok cafe yang tenang, tersembunyi di balik gang-gang sempit Bukchon Hanok Village. Aroma kopi arabika bercampur dengan harum bunga-bunga musiman yang ditanam di halaman kafe, menciptakan suasana yang menenangkan. Ini adalah pertemuan pertama mereka bertiga setelah badai besar itu berlalu, sebuah pertemuan yang sarat makna, jembatan menuju masa depan yang lebih cerah. Jiwon sedikit gugup, jemarinya meremas tas tangan mungilnya, namun ada rasa terima kasih yang mendalam di hatinya untuk Jungwoo, yang selama ini menjadi jembatan di antara dirinya dan Soohyun, pahlawan tanpa tanda jasa.
Mereka duduk di meja bundar kayu jati yang diletakkan di pojok kafe, dekat jendela besar yang menghadap taman kecil. Cahaya senja menembus masuk, memandikan mereka dalam kehangatan yang lembut. Jungwoo, yang biasanya serius dan kaku dalam balutan setelan bisnisnya, tampak lebih santai sore itu, mengenakan kemeja linen berwarna gelap yang dipadukan celana chinos. Ada senyum lega yang tak biasa di wajahnya saat ia melihat Soohyun dan Jiwon duduk bersama, berdekatan, bahu menyentuh bahu.
"Terima kasih sudah mau datang, Jungwoo," Soohyun berkata, suaranya tulus, sarat emosi yang tertahan. Ia mengangkat cangkir kopi panasnya, menghirup aromanya dalam-dalam. "Aku tahu kau telah melewati banyak hal juga karena kami. Melewatkan banyak malam tanpa tidur, menghadapi para reporter, menangani semua kekacauan itu.. Aku benar-benar menghargainya."
Jungwoo mengangguk, sorot matanya melembut. "Tidak apa-apa, Tuan Kim. Ini adalah tanggung jawab saya. Loyalitas saya pada Anda tidak pernah goyah, bahkan di saat terburuk sekalipun." Ia berhenti sejenak, lalu pandangannya beralih pada Jiwon. "Dan.. saya senang melihat Anda berdua baik-baik saja." Senyumnya semakin lebar saat ia melirik perut Jiwon yang membesar. "Selamat, Nona Jiwon. Anda terlihat sangat.. bahagia, dan bersinar."
Jiwon tersenyum malu-malu, rona merah tipis menjalar di pipinya. Ia memegang perutnya dengan kedua tangan, seolah ingin melindungi kebahagiaan di dalamnya. "Terima kasih, Jungwoo. Dan aku.. aku ingin mengucapkan terima kasih secara langsung." Jiwon menatap Jungwoo, matanya mulai berkaca-kaca. "Terima kasih atas semuanya. Atas kesabaranmu yang luar biasa, atas semua bantuanmu yang tak kenal lelah, dan atas keberanianmu untuk tetap berdiri di samping Soohyun, bahkan ketika semua orang meragukannya. Tanpa kau, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Soohyun, pada perusahaan.. dan pada kami." Suaranya bergetar, menahan tangis haru.
