Jerat 13

577 80 20
                                        

Kehidupan Kim Soohyun dan Kim Jiwon bersama putri mereka, Kim Sarang, di apartemen mewah mereka, adalah potret kebahagiaan yang hampir sempurna. Jendela-jendela besar apartemen itu menyuguhkan panorama kota yang gemerlap, namun di balik dinding kaca yang kedap suara, kehangatan keluarga mereka terasa jauh lebih nyata dan personal. Sarang tumbuh sehat, setiap senyumnya yang menggemaskan adalah hadiah tak ternilai yang menghapus jejak masa lalu kelam yang pernah menyelimuti orang tuanya.

Soohyun, yang dulu dikenal sebagai CEO muda yang dingin dan ambisius, kini adalah ayah dan pasangan yang luar biasa. Pagi-pagi ia akan bangun, bukan untuk menenggelamkan diri dalam laporan keuangan, melainkan untuk melihat Sarang yang masih pulas di buaiannya, sesekali mengelus pipi gembil putrinya dengan hati-hati. Jiwon, di sisi lain, telah menemukan kekuatan baru dalam perannya sebagai ibu. Senyum di wajahnya kini lebih sering terlihat, dan tawa Sarang adalah melodi yang selalu menyejukkan hatinya.

Namun, di balik dinding rumah mereka yang penuh kehangatan, bisikan-bisikan dunia luar mulai merayap masuk. Meskipun media telah bergeser dari gosip sensasional ke kisah inspiratif tentang penebusan dan cinta mereka, masih ada segelintir kolom gosip daring dan forum-forum diskusi anonim yang menyoroti satu fakta yang tidak terucapkan, status pernikahan mereka. Kim Soohyun dan Kim Jiwon hidup bersama sebagai keluarga, membesarkan putri mereka, namun secara hukum, mereka belum menikah. Bagi sebagian kalangan masyarakat Korea yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai konservatif, hal ini adalah sebuah anomali, bahkan sebuah 'dosa'.

Suatu siang yang cerah, Jiwon sedang bersantai di sofa ruang keluarga, Sarang tertidur pulas di pangkuannya. Ia iseng membuka aplikasi media sosial di ponselnya, melihat-lihat unggahan penggemar yang tak henti-hentinya menunjukkan dukungan. Namun, di bawah foto Sarang yang diunggah oleh salah satu akun penggemar mereka, matanya terpaku pada sebuah komentar.

"Kasihan Sarang, lahir dari pasangan yang tidak menikah," tulis sebuah akun anonim dengan nama pengguna yang tidak jelas. Lalu, di bawahnya, ada balasan lain: "Apakah itu berarti dia 'anak haram'? Masyarakat Korea tidak akan menerima ini!"

Jiwon merasakan jantungnya mencelos. Napasnya tercekat. Komentar itu hanya satu di antara ribuan komentar positif, namun kalimat itu menusuknya dengan kekuatan yang luar biasa. Ia tahu itu tidak benar, bahwa cinta mereka lebih tulus dan dalam dari sekadar selembar kertas. Mereka telah melewati badai yang tak terbayangkan, membangun keluarga ini dari puing-puing keputusasaan. Namun, ia tidak bisa mengabaikan potensi dampak sosialnya pada Sarang di masa depan. Stigma sosial di Korea Selatan adalah beban yang berat, dan ia tidak ingin putrinya kelak merasakan hal itu.

Ia menekan perasaan tidak nyaman itu, jari-jarinya gemetar saat ia menekan tombol power di ponselnya. Layar meredup, namun bayangan komentar itu masih terukir jelas di benaknya. Ia membelai lembut rambut halus Sarang, air matanya menetes di pipi sang putri. "Maafkan Ibu, sayang," bisiknya. "Maafkan Ibu..."

Sore harinya, saat Soohyun baru pulang dari kantor, apartemen terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu ruang tamu meredup, hanya menyisakan cahaya remang-remang dari lampu standing di sudut ruangan. Ia melepas jas kerjanya, melonggarkan dasi, dan meletakkannya di sofa. Biasanya, ia akan disambut oleh tawa Sarang yang riang dan senyum Jiwon yang hangat. Namun, kali ini, ia hanya mendengar keheningan.

Firasat tak enak mulai merayapi hatinya. Ia melangkah perlahan menuju kamar bayi, pintu yang sedikit terbuka itu menunjukkan siluet Jiwon yang duduk di kursi goyang, membelai pipi Sarang yang tertidur pulas di buaiannya. Bahunya sedikit merosot, seolah menanggung beban yang berat.

Soohyun mendekat, suaranya lembut, penuh kehati-hatian. "Ada apa, sayang?" Ia duduk di samping Jiwon, di tepi buaian Sarang, merasakan aura gelisah yang terpancar dari wanita yang sangat dicintainya itu. Ia mengulurkan tangan, meraih tangan Jiwon yang dingin.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang