More than love 2/2

685 90 2
                                        

​Di koridor rumah sakit yang dingin dan sepi, aroma desinfektan begitu menusuk hidung, menciptakan atmosfer tegang yang mencekam. Soohyun duduk di bangku ruang tunggu ICU, pandangannya lurus ke depan, wajahnya pucat pasi. Pikirannya kembali pada Jiwon yang terbaring tak sadarkan diri di dalam sana. Rasa bersalah dan penyesalan menusuknya hingga ke ulu hati.

​Hyena muncul dari ujung koridor, melangkah perlahan menghampiri Soohyun. Wajahnya yang biasanya ceria kini dipenuhi dengan kekhawatiran yang mendalam. Ia meletakkan sebuah kotak makan kecil di samping Soohyun.

​"Oppa, sebaiknya kamu makan dulu," kata Hyena dengan suara lembut. "Dari semalam kamu belum makan. Kamu butuh energi untuk tetap kuat."

​Soohyun menoleh, menatap Hyena. Ada senyuman tipis yang menyayat hati di wajah Hyena. "Bagaimana aku bisa makan disaat keadaan istriku saja aku belum tahu?" balas Soohyun, suaranya parau. Kata "istri" itu keluar begitu saja.

​Hyena terdiam, senyumnya memudar. Kata itu seolah menjadi pisau yang menusuknya. Ia berusaha menahan gejolak di dadanya, tetapi rasa sakit itu begitu kuat. Ia tahu Jiwon adalah istri Soohyun, tetapi ia juga tahu pernikahan itu hanya di atas kertas. Namun, kini, di tengah krisis, kata itu terasa begitu intim dan eksklusif, seolah menegaskan posisinya yang bukan siapa-siapa di mata Soohyun.

​"Baiklah," Hyena akhirnya berkata, suaranya terdengar pasrah. "Untuk saat ini, kamu fokus saja pada keadaan Jiwon." Sembari mengatakannya, Hyena beranjak dari kursi, ia tidak bisa lagi menahan air matanya.

​Soohyun menatapnya dengan bingung. "Kamu mau ke mana, sayang?"

​Hyena berbalik, menatap Soohyun dengan mata yang berkaca-kaca. Hatinya sudah hancur. "Coba tanyakan semua pada hatimu yang terdalam," katanya, suaranya bergetar. "Sekarang, siapa yang kamu cintai? Aku atau Jiwon?"

​Soohyun tertegun. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahas hal seperti itu. "Apa maksudmu? Jangan menanyakan hal tak masuk akal disaat seperti ini. Kumohon jangan egois."

​Kata 'egois' itu seperti percikan api yang menyulut amarah Hyena. Air mata yang selama ini ia tahan, kini mengalir deras di pipinya. "Aku egois?" katanya, suaranya meninggi. "Selama ini, aku selalu mencoba yakin jika kedekatan kalian adalah hal yang biasa. Tapi jujur, di lubuk hatiku yang terdalam ada rasa cemburu yang selalu muncul, yang selalu kusingkirkan. Dan mungkin, kali ini aku tidak bisa benar-benar menyingkirkannya."

​Mendengarnya, Soohyun ikut beranjak dari duduknya. Ia meraih lengan Hyena lalu menggenggam jemarinya. "Aku sudah pernah bilang padamu, jika perasaanku pada Jiwon hanya sebatas kasih sayang kakak pada adiknya, tidak lebih. Tapi kenapa kamu terus mempertanyakan itu?"

​Hyena menghembuskan napasnya dengan keras, sedikitnya ia kesal dengan tanggapan pria di hadapannya. "Kenapa kamu keras kepala sekali?" ia menarik tangannya dengan kasar dari genggaman Soohyun. "Perkataan dan tindakan yang kamu lakukan sangat bertolak belakang, dan di sini aku yang menyaksikan semuanya. Sudahlah, untuk saat ini jangan temui aku dulu. Kamu renungkan saja semuanya."

​"Sayang, sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba bersikap seperti ini?" Soohyun mencoba kembali untuk menggenggam lengan Hyena, namun Hyena langsung menepisnya.

​"Aku pergi. Temui aku jika kamu sudah benar-benar yakin dengan perasaanmu," setelah mengatakannya, Hyena berbalik memunggungi Soohyun, berlalu begitu saja dari hadapan pria itu yang terus memanggil namanya.

​"Sial, kenapa semuanya jadi seperti ini?" Setelah Hyena benar-benar pergi, Soohyun mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tak menyangka jika keadaannya akan menjadi serumit ini. Ia mencintai Hyena, ya. Namun, ia juga sangat khawatir pada Jiwon. Rasa bersalahnya pada Jiwon bercampur dengan rasa frustrasinya pada Hyena.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang