Finding Truth in Lies 5

323 73 10
                                        

Hyunwoo berdiri di tengah apartemen yang terasa sunyi dan dingin. Kepergian Haein meninggalkan kehampaan yang begitu besar. Ia menatap sekeliling, mengingat semua momen yang pernah mereka lalui bersama di tempat ini. Senyum Haein saat mereka pertama kali pindah, tawa renyahnya saat mereka menonton film bersama, bahkan pertengkaran-pertengkaran kecil yang dulu terasa menyebalkan kini terasa begitu berharga.

Semua kenangan itu kini terasa seperti pisau yang menusuk hatinya. Ia merenungkan semua kesalahannya, semua kebohongan yang telah ia ucapkan, semua rasa sakit yang telah ia berikan kepada Haein. Ia sadar betapa egoisnya ia selama ini, hanya memikirkan perasaannya sendiri tanpa mempedulikan Haein. Ia telah mengambil kebahagiaan Haein, menghancurkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia.

Rasa bersalahnya semakin besar. Ia menyesal karena tidak jujur sejak awal, menyesal karena telah melibatkan Haein dalam kehidupannya yang rumit. Ia tahu ia pantas mendapatkan semua kemarahan dan penolakan dari Haein. Ia bahkan tidak yakin apakah ia pantas untuk dimaafkan.

Sementara itu, di rumah orang tuanya, Haein disambut dengan pelukan hangat dari ibunya, Kim Seonhwa. Ayahnya, Hong Beomjun, juga tampak senang melihat kedatangannya.

"Haein-ah!" seru Kim Seonhwa sambil memeluk Haein erat. "Ibu sangat merindukanmu."

Haein membalas pelukan ibunya, berusaha menyembunyikan kesedihan yang masih terasa begitu nyata. "Saya juga sangat merindukan Ibu dan Ayah," jawab Haein dengan suara sedikit bergetar.

"Kenapa kamu tidak bilang-bilang kalau mau datang?" tanya Hong Beomjun sambil tersenyum. "Kami pasti sudah menyiapkan makanan kesukaanmu."

"Saya ingin memberikan kejutan," jawab Haein, mencoba tersenyum meskipun hatinya terasa berat. "Saya berencana untuk menginap beberapa hari di sini. Boleh kan, Ayah, Ibu?"

"Tentu saja boleh, Sayang," kata Kim Seonhwa dengan senang. "Rumah ini selalu terbuka untukmu."

"Lho, Hyunwoo mana?" tanya Kim Seonhwa tiba-tiba, menyadari menantunya tidak bersama Haein. "Kenapa dia tidak ikut?"

Haein terdiam sejenak, berusaha mencari alasan yang masuk akal. "Hyunwoo.. Hyunwoo sedang sangat sibuk, Ibu," jawab Haein akhirnya, mencoba terdengar meyakinkan. "Ada banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan di kantor. Jadi dia tidak bisa ikut."

"Oh, begitu," kata Kim Seonhwa, meskipun ada sedikit keraguan di matanya. "Sayang sekali. Ibu juga ingin bertemu dengannya."

"Nanti kalau pekerjaannya sudah selesai, pasti dia akan menyusul," jawab Haein, berharap ibunya tidak bertanya lebih lanjut. Ia tidak ingin membuat orang tuanya khawatir dengan menceritakan masalah yang sebenarnya sedang ia hadapi dengan Hyunwoo. Untuk saat ini, ia hanya ingin merasakan kehangatan dan kenyamanan berada di dekat orang-orang yang menyayanginya, mencoba melupakan sejenak kepedihan dan ketidakpastian yang sedang ia alami.

###

Meskipun Haein berusaha terlihat baik-baik saja, Kim Seonhwa sebagai seorang ibu bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan putrinya. Ia memperhatikan mata Haein yang sembap, senyumnya yang tidak lagi selebar dulu, dan keheningan yang seringkali menyelimuti putrinya. Haein terlihat murung dan tidak seceria biasanya. Insting seorang ibu mengatakan bahwa masalah yang dihadapi Haein pasti lebih dari sekadar rindu rumah.

Beberapa hari berlalu, dan Haein masih belum menunjukkan tanda-tanda akan kembali ke apartemennya. Kim Seonhwa semakin khawatir. Ia memutuskan untuk menghubungi Hyunwoo secara langsung. Ia mengambil telepon genggamnya dan mencari nomor menantunya.

Setelah beberapa kali dering, Hyunwoo akhirnya mengangkat telepon.

"Halo, Hyunwoo?" sapa Kim Seonhwa dengan nada lembut namun sedikit khawatir.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang