Ignited Touch 36

539 76 22
                                        

​Kehidupan di Jeju berjalan dengan irama yang tenang dan menenangkan, seirama dengan debur ombak yang tak pernah lelah membelai pantai-pantai berpasir hitam, dan hembusan angin yang membawa aroma segar dari kebun jeruk yang subur. Kim Soohyun kini telah sepenuhnya beradaptasi—sebuah transformasi yang tak pernah ia duga setelah meninggalkan hiruk pikuk Seoul dan status CEO-nya yang prestisius. Ia menghabiskan sebagian besar harinya di bawah matahari, membantu Ayah mertuanya merawat ladang, belajar memangkas ranting dan mengenali kapan buah jeruk siap panen.

​Namun, begitu jam dinding kayu di dapur menunjukkan pukul empat sore, semua kegiatan harus terhenti. Itu adalah waktu khusus yang Soohyun dedikasikan sepenuhnya untuk istrinya, Kim Jiwon.

​Sore itu, teras belakang rumah tradisional mereka dihiasi oleh sinar matahari jingga yang mulai merunduk. Jiwon duduk santai di kursi malas rotan, kakinya yang sedikit membengkak karena kehamilan disangga elegan di atas bangku kecil. Aroma teh herbal dari cangkir di sampingnya beradu dengan wangi tanah basah yang terbawa angin.

​Soohyun kembali dari kebun, kausnya yang agak basah oleh keringat menempel di bahunya, membawa serta bau tanah, daun jeruk yang digerus, dan sedikit kehangatan matahari. Ia meletakkan topinya di gantungan, segera mencuci tangan hingga bersih, lalu melangkah ke teras.

​Ia tersenyum saat melihat Jiwon, senyum tulus yang kini jauh lebih sering terukir daripada saat ia masih bergulat dengan rapat dewan direksi. Ia berjalan pelan dan berlutut di depan istrinya, seolah-olah sedang menghadap seorang ratu.

​"Tuan Putri yang tercinta," sapa Soohyun, suaranya dalam dan lembut, persis seperti bisikan laut. Ia meraih kedua tangan Jiwon, mencium punggung tangannya yang hangat. "Bagaimana kabar kaki Tuan Putri hari ini? Apakah ia membutuhkan sesi pijat spa ala Ahjussi Kim, sang ahli ladang yang multitalenta?"

​Jiwon tertawa pelan, tawanya terdengar seperti lonceng angin. "Tentu saja, Ahjussi Kim," jawabnya, matanya mengerling menggoda. "Kaki Tuan Putri sangat lelah hari ini. Mereka harus bekerja keras menopang beban.. kebahagiaan yang bertambah."

​Soohyun terkekeh, menggelengkan kepalanya pelan. "Hanya Tuan Putriku yang bisa terdengar begitu puitis saat membicarakan berat badan. Mari kita tangani beban kebahagiaan ini."

​Ia dengan sangat lembut menarik kaus kaki katun Jiwon, memamerkan pergelangan kaki yang sedikit membengkak. Ia mengoleskan sedikit minyak kelapa hangat yang selalu ia siapkan, lalu mulai memijat betis dan telapak kaki istrinya. Gerakannya sangat lambat, hati-hati, dan terampil, menguasai titik-titik yang meredakan nyeri.

​"Kau tahu, Oppa," Jiwon berkata, memejamkan mata menikmati pijatan yang terasa seperti surga. "Aku tidak pernah, bahkan dalam mimpiku yang paling liar, membayangkan bahwa Kim Soohyun, CEO paling disegani di Seoul, akan berlutut di depanku, memijat kakiku di tengah kebun jeruk. Di Seoul, kau hanya memijat pelipismu karena stres laporan keuangan yang tak kunjung selesai."

​Soohyun mendongak, matanya yang hangat dipenuhi cinta dan penyesalan masa lalu yang samar. Ia menghentikan pijatannya sejenak, menatap mata Jiwon lekat-lekat.

​"Dulu, aku memijat pelipisku karena setiap laporan itu membuatku jauh darimu, membuatku melupakan hal terpenting dalam hidupku," bisiknya, ibu jarinya membelai tulang kering Jiwon. "Tapi di sini, aku memijat kakimu karena aku bahagia, Sayang. Sangat bahagia. Membantumu melalui setiap hari ini, memastikan kau dan bayi kita baik-baik saja, adalah satu-satunya 'laporan' yang ingin kubaca, yang ingin kucapai. Dan laporan ini, sayang, selalu memberikan keuntungan tanpa batas."

​Jiwon tersenyum. "Kau adalah CEO yang sangat baik dalam hal ini, Oppa. Kau tak perlu khawatir, aku akan memberimu kenaikan gaji.. dalam bentuk ciuman."

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang