Malam telah larut, namun ketegangan di ruang keluarga itu justru semakin menguat. Lampu-lampu temaram memancarkan cahaya lembut pada perabotan kayu berkualitas tinggi dan sofa-sofa berlapis kain berwarna netral. Namun, kehangatan visual itu kontras dengan hawa dingin yang menyelimuti tiga orang yang duduk saling berhadapan.
Baek Hyunwoo, pria berusia awal tiga puluhan dengan wajah tampan yang kini terlihat tegang, duduk di salah satu sofa dengan kedua tangannya terkepal di pangkuan. Matanya sesekali melirik ke arah ibunya, Park Sunhe, yang duduk di sofa seberang, tampak pucat dan lemah. Di samping Sunhe, duduk Baek Sungchul, ayah Hyunwoo, seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai menipis namun sorot mata yang masih tajam dan penuh tuntutan.
Sungchul baru saja mengakhiri kalimatnya dengan nada berat. "Hyunwoo-ya, sampai kapan kamu akan terus seperti ini? Usiamu sudah matang. Teman-temanmu sudah banyak yang menikah dan punya anak. Kami ini sudah tua, kami ingin menimang cucu sebelum mata ini tertutup."
Hyunwoo menghela napas panjang, mencoba menahan emosinya. "Ayah, sudah kubilang kan, aku belum siap. Menikah itu bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Aku ingin menikah karena cinta, bukan karena tuntutan keluarga."
Sunhe, yang sedari tadi hanya diam, tiba-tiba terbatuk pelan. Sungchul langsung menoleh padanya dengan raut khawatir. "Lihat, Hyunwoo? Ibumu bahkan tidak enak badan. Dia sangat ingin melihatmu menikah sebelum kesehatannya semakin memburuk. Apa kamu tidak kasihan padanya?"
Hyunwoo menatap ibunya dengan rasa bersalah yang mencubit hatinya. Ia tahu ibunya memang sedang tidak sehat, namun ia merasa ini tidak adil. "Ibu, aku tahu. Tapi menikah bukan solusi untuk kesehatan Ibu. Aku janji akan lebih sering menemani Ibu ke dokter, menjaga Ibu lebih baik lagi. Tapi tolong, jangan jadikan ini sebagai alasan untuk memaksaku menikah."
Sungchul mendengus kasar. "Alasan katamu? Ini bukan hanya soal ibumu, Hyunwoo. Ini soal nama baik keluarga Baek. Semua kerabat dan teman-teman ayah sudah bertanya-tanya kenapa anak sulung kami belum menikah juga. Apa kamu tidak memikirkan perasaan ayah?"
"Ayah.." Hyunwoo mencoba membela diri, namun Sungchul memotongnya dengan nada meninggi.
"Jangan membantah lagi! Ayah tidak mau dengar alasanmu yang tidak masuk akal itu. Pokoknya, ayah dan ibu sudah sepakat. Kamu harus segera menikah. Titik."
Air mata mulai terlihat di sudut mata Sunhe. Dengan suara lirih yang terdengar menyayat hati, ia berkata, "Hyunwoo-ya, ini permintaan terakhir Ibu. Ibu tidak tahu berapa lama lagi bisa melihat dunia ini. Ibu hanya ingin melihat kamu bahagia, menikah dengan wanita yang baik. Itu saja." Ia kemudian terbatuk lagi, kali ini lebih keras, membuat Sungchul semakin khawatir dan menatap Hyunwoo dengan tatapan menuntut.
Hyunwoo merasakan tekanan yang luar biasa. Ia mencintai kedua orang tuanya, terutama ibunya. Melihat ibunya yang lemah dan mendengar permintaannya yang terdengar seperti permohonan terakhir, hatinya terasa teremas. Namun, ia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ia tahu ia tidak bisa mencintai seorang wanita seperti yang diharapkan orang tuanya.
"Tapi, Ayah, Ibu.." Hyunwoo mencoba mencari celah untuk menolak, suaranya tercekat.
Sungchul berdiri dari duduknya, berjalan mendekati Hyunwoo dengan langkah mantap. Ia menatap putranya dengan tatapan yang tidak terbantahkan. "Tidak ada tapi-tapian lagi, Hyunwoo. Ayah beri kamu waktu satu bulan. Dalam satu bulan, ayah ingin kamu sudah mengenalkan calon istrimu pada kami. Kalau tidak, jangan salahkan ayah kalau ayah mengambil tindakan sendiri." Nada suara Sungchul tidak meninggalkan ruang untuk negosiasi.
Sunhe kembali terbatuk, kali ini disertai dengan sedikit isakan. "Ibu mohon, Hyunwoo-ya.. kabulkan permintaan Ibu.."
Hyunwoo terdiam, menatap kedua orang tuanya dengan perasaan campur aduk antara marah, frustrasi, bersalah, dan putus asa. Ia merasa terpojok dan tidak punya pilihan lain. Dalam hatinya, ia tahu ini adalah kesalahan besar, namun ia tidak tahu bagaimana cara keluar dari situasi ini tanpa menyakiti orang-orang yang ia cintai. Ia menundukkan kepalanya, tidak sanggup lagi menatap mata kedua orang tuanya. Keheningan yang berat menggantung di udara, hanya diselingi oleh batuk lemah Sunhe yang semakin menambah tekanan pada Hyunwoo. Ia merasa seperti terperangkap dalam sebuah labirin tanpa jalan keluar.
