Setelah rapat dewan direksi yang penuh ketegangan, Kim Soohyun masih duduk di mejanya, memikirkan setiap kata yang keluar dari bibir ibunya, Kim Jungah, dan para direktur. Ancaman penggantian posisi CEO menggantung di udara, sebuah beban berat yang menindih bahunya. Namun, di tengah semua tekanan itu, ia tidak pernah melupakan janji yang telah ia buat kepada Gunwoo dan pesan yang ia kirim kepada Jiwon.
Ia bekerja tanpa henti, menyelesaikan tumpukan dokumen dan mengurus setiap detail yang bisa ia selesaikan agar tidak ada celah bagi ibunya untuk menyerangnya lagi. Pukul demi pukul berlalu. Perutnya keroncongan, matanya perih, namun Soohyun memaksakan diri. Ia harus menunjukkan bahwa ia mampu menangani semuanya.
Ketika jam menunjukkan pukul sembilan malam, barulah Soohyun bisa bernapas lega. Ia segera membereskan mejanya, mengenakan jasnya, dan buru-buru keluar dari kantor. Jalanan Seoul yang ramai di siang hari kini mulai lengang. Soohyun mengemudi dengan cepat, hatinya dipenuhi perasaan campur aduk, kelelahan, kecemasan, namun juga kerinduan yang mendalam.
Setibanya di depan Sweet Corner, lampu toko sudah redup. Soohyun memarkirkan mobilnya dan melangkah keluar. Udara malam dingin menusuk kulit, namun ia tak peduli. Ia bisa melihat siluet Jiwon di balik kaca toko, sedang membereskan beberapa meja.
Soohyun mengetuk pintu kaca toko dengan lembut. Jiwon yang sedang menyapu, mendongak. Matanya membelalak sedikit saat melihat Soohyun di luar. Ia membuka kunci pintu, dan Soohyun melangkah masuk.
Aroma manis roti yang selalu menyambutnya, kini terasa berbeda. Ada ketegangan yang jelas di antara mereka. Wajah Jiwon terlihat lelah, namun yang lebih terlihat adalah gurat kekecewaan yang tak bisa disembunyikannya. Mata Soohyun melirik ke arah sofa di sudut toko. Di sana, Gunwoo sudah tertidur pulas, bersandar pada bantal dinosaurusnya, selimut tipis menyelimuti tubuh kecilnya.
"Jiwon.." Soohyun memulai, suaranya pelan dan penuh penyesalan. "Maafkan aku. Aku tahu aku terlambat. Aku.. aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bisa datang tadi siang. Ada rapat darurat yang sangat penting yang harus aku hadiri."
Jiwon tidak menjawab, ia hanya memandang Soohyun dengan tatapan kosong, senyum miris terukir di bibirnya. Senyum itu terasa lebih menyakitkan daripada seribu makian. "Aku tahu Gunwoo pasti kecewa," Soohyun melanjutkan, ia melangkah mendekat, namun menjaga jarak. "Aku melihat pesanmu. Aku seharusnya memberinya kabar lebih awal. Aku sangat menyesal."
Jiwon akhirnya berbicara, suaranya pelan, nyaris berbisik, namun setiap kata terasa seperti pisau yang mengiris hati Soohyun. "Kau tahu, Soohyun, selama empat tahun ini, aku selalu mencoba untuk tidak membuat Gunwoo kecewa. Aku selalu berusaha memenuhi janjiku padanya, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun." Ia menghela napas, air mata mulai menggenang di matanya. "Aku tidak pernah membiarkan dia merasakan apa itu rasa sakit karena ditinggalkan, atau rasa sakit karena sebuah janji yang tidak ditepati."
Jiwon melangkah mendekati Gunwoo yang tertidur, mengusap rambut putranya dengan lembut. "Aku tahu kau sibuk. Aku tahu pekerjaanmu penting. Tapi.. dia masih anak-anak, Soohyun." Jiwon menoleh pada Soohyun, matanya kini memancarkan kekecewaan dan kepedihan yang dalam. "Dia baru saja mulai terbiasa dengan kehadiranmu. Dan sekarang, kau tidak datang, tanpa kabar yang jelas padanya."
Soohyun merasakan sakit yang luar biasa. "Jiwon, kumohon. Aku tidak punya pilihan. Jika aku tidak menghadiri rapat itu, ibuku akan—"
"Aku tidak peduli dengan ibumu, Soohyun! Aku tidak peduli dengan dewan direksimu, atau posisimu sebagai CEO!" Jiwon memotong, suaranya meninggi, meskipun ia berusaha menahannya agar tidak membangunkan Gunwoo. "Yang aku pedulikan adalah Gunwoo! Dia tidak perlu merasakan sakit yang sama sepertiku, Soohyun! Dia tidak perlu merasakan kekecewaan yang sama dengan yang kurasakan dulu!"
