Hong Haein duduk di kursi eksekutifnya yang mewah, di puncak gedung Queens Group, di balik kaca tebal yang menampilkan panorama Seoul yang membentang. Pagi itu seharusnya dipenuhi dengan fokus laser pada laporan keuangan kuartal ketiga. Ia telah menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan selama dua minggu terakhir, berusaha keras untuk menghapus memori Malam yang Melanggar Kontrak. Setiap kali pikiran Hyunwoo muncul, ia akan memecat seseorang atau mengajukan tuntutan akuisisi agresif. Kontrol, itu satu-satunya pelindungnya.
Namun, kendalinya kini diganggu oleh sesuatu yang sangat mendasar: fisiknya sendiri.
Sudah tiga hari ia bangun dengan rasa mual ringan. Ia mengabaikannya, menghubungkannya dengan stres akibat pernikahan dan rencana bisnis Grup Hanseong yang ia dorong habis-habisan (yang baru saja ia bahas dingin dengan Hyunwoo pagi itu). Ia hanya minum teh herbal hangat, bersikeras bahwa tubuhnya harus tunduk pada kehendaknya.
Saat ia sedang mengoreksi draf perjanjian merger senilai triliunan Won, gelombang mual yang jauh lebih kuat menyerang. Perutnya bergejolak hebat, dan kepalanya terasa pusing hingga ia harus memejamkan mata. Haein menahan napas, mencengkeram tepi meja kerjanya yang terbuat dari marmer hitam dingin.
"Tidak sekarang," bisiknya pada dirinya sendiri, marah pada tubuhnya yang berkhianat. "Aku tidak punya waktu untuk sakit. Aku tidak boleh sakit."
Sekretaris Min, yang sudah bertahun-tahun bekerja untuk Haein dan tahu betul setiap perubahan mikro dalam ekspresi bosnya, segera masuk. Ia melihat punggung Haein yang membungkuk sedikit, sesuatu yang tidak pernah terjadi. "Nyonya Hong, apakah Anda baik-baik saja? Wajah Anda pucat sekali. Haruskah saya membatalkan rapat?"
"Saya baik-baik saja, Sekretaris Min. Hanya butuh udara segar," Haein melambaikan tangan, mencoba mengendalikan nada suaranya yang sedikit bergetar.
Sekretaris Min, mengabaikan perintahnya, mendekat dengan wajah khawatir yang jarang ia tunjukkan. "Nyonya, Anda sudah sering begini sejak beberapa hari lalu. Izinkan saya memanggil Dokter Kang untuk pemeriksaan cepat di klinik kantor, atau setidaknya membawa Anda ke Rumah Sakit Universitas Seocho, Nyonya—"
"Jangan konyol," potong Haein tajam, menoleh dengan tatapan yang harusnya membekukan. "Jika saya sakit, saya akan menanganinya sendiri. Kembali bekerja."
Namun, Sekretaris Min adalah salah satu dari sedikit orang yang tidak sepenuhnya takut pada Ratu Es—ia adalah saksi bisu kelelahan bosnya. "Nyonya Hong, saya tahu ini bukan urusan saya, tetapi Anda baru saja menikah.. dan gejalanya terlihat sangat mirip dengan.."
Haein menatap Sekretaris Min, matanya menyipit berbahaya, menghentikan kalimat itu. "Selesaikan kalimatmu, Sekretaris Min."
"Seperti kehamilan, Nyonya," bisik Sekretaris Min.
Dunia Haein terasa berhenti berputar. Kehamilan. Komplikasi yang paling tidak mungkin. Ia sudah mengambil semua tindakan pencegahan. Tetapi malam itu, segalanya begitu kacau, begitu didorong oleh amarah dan alkohol Hyunwoo.
Wajah Haein yang biasanya pucat menjadi semakin putih. Ia memikirkan Baek Hyunwoo, playboy yang menolaknya, yang menetapkan kontrak tanpa cinta, yang menjijikkan karena ketidakprofesionalannya. Bayi ini adalah bukti fisik dari pelanggaran kontrak terburuk.
"Pergi," perintah Haein, suaranya kembali menjadi es, bahkan lebih dingin dari biasanya. "Batalkan semua janji untuk dua jam ke depan. Dan atur janji temu rahasia di klinik luar. Jauh dari sini. Bukan klinik perusahaan. Saya ingin kerahasiaan total. Sekarang. Jangan ada yang tahu."
Satu jam kemudian, Haein duduk sendirian di ruang pemeriksaan pribadi yang sunyi di sebuah klinik terpencil di Gangbuk. Ia menolak ditemani siapa pun. Ia harus menghadapi kenyataan ini sendiri.
