Gelapnya malam di Seoul terasa mencekik, bukan hanya karena dinginnya udara, tapi karena kegelapan yang kini menyelimuti hati Kim Jiwon. Minggu-minggu setelah malam terkutuk di suite hotel itu menjadi neraka yang tak berkesudahan baginya. Setiap hari adalah penyiksaan, sebuah tarian memuakkan di bawah kendali benang tak kasat mata yang digenggam erat oleh Kim Soohyun. Pria itu menepati janjinya dengan kejam, melancarkan serangan bukan dengan ancaman berteriak, melainkan dengan tekanan yang halus namun tak terhindarkan, seolah ingin menunjukkan siapa raja di atas segalanya.
Ponsel Jiwon tak henti berdering, menampilkan nama Soohyun yang kini ia benci lebih dari apa pun. Awalnya, Jiwon mencoba mengabaikannya, membiarkan deringan itu mati perlahan. Namun, Soohyun tak mengenal kata menyerah. Pesan singkat mulai membanjiri, bukan lagi hanya deretan kata kosong, tapi gambar. Foto-foto. Potongan-potongan video dari malam itu, diambil dari kamera tersembunyi yang ia tak sadari. Setiap kali Jiwon melihatnya, perutnya bergejolak jijik, rasa bersalah mencengkeramnya dengan erat. Ia tahu, jika Soohyun benar-benar menyebarkan video itu, hidupnya akan hancur total. Kariernya yang ia bangun dengan susah payah, reputasinya yang bersih, bahkan hubungannya dengan Hanjoon—semua akan lenyap, terkubur di bawah reruntuhan skandal.
Suatu pagi yang kelabu, Jiwon tiba di kantor dengan langkah gontai. Di mejanya, tergeletak sebuah undangan mewah, kertas tebal berembos emas. Undangan gala amal. Pengirimnya, Kim Soohyun.
Tak lama kemudian, ponsel Jiwon bergetar, sebuah pesan singkat muncul di layarnya. "Kau harus datang, Jiwon. Akan ada banyak kolega penting di sana. Aku tidak suka ditemani oleh wanita yang tidak menawan." Pesan itu berdering di telinganya seperti vonis mati.
Amarah mendidih dalam diri Jiwon. Ia ingin merobek undangan itu, menghancurkannya menjadi serpihan-serpihan kecil. Ia ingin berteriak menolak, menolak seluruh keberadaan Kim Soohyun. Namun, beberapa detik kemudian, notifikasi lain muncul di ponselnya. Kali ini, potongan video lain. Lebih jelas, lebih vulgar dari sebelumnya. Tangannya gemetar hebat, undangan mewah itu nyaris terjatuh dari genggamannya.
"Bajingan!" Jiwon mendesis, suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam dalam desah napasnya yang tercekat. Ia tahu ia tak punya pilihan.
Sejak saat itu, Soohyun seolah muncul di mana-mana, menguntit setiap langkah Jiwon. Di acara-acara penting, ia akan muncul sebagai pasangannya, merangkul pinggang Jiwon seolah ia adalah propertinya. Di makan malam bisnis eksklusif, Soohyun akan menariknya untuk duduk di sampingnya, mengabaikan tatapan penasaran dan bisikan dari para kolega. Ia bahkan sesekali meminta Jiwon menemaninya di kantornya, duduk di sofa mahal miliknya, mengamati Soohyun bekerja dengan angkuh. Pria itu akan memberikan instruksi pada karyawannya dengan nada dingin, sementara sesekali melirik Jiwon dengan senyum tipis, senyum penuh kemenangan yang menegaskan bahwa Jiwon adalah miliknya yang baru, sebuah boneka yang kini menari di bawah kendalinya.
"Ambil ini," Soohyun pernah berkata suatu siang di kantornya, menyodorkan sebuah dokumen tebal dengan punggung tangannya. "Periksa semua data arsitektur ini. Aku ingin pendapat profesionalmu."
Jiwon menatapnya dengan nyalang, kebencian membara di matanya. "Aku bukan asistenmu, Tuan Kim." Suaranya bergetar menahan amarah.
Soohyun hanya mengangkat alis, senyum sinisnya muncul. "Benarkah? Lalu, mengapa kau ada di sini?" Ia menekan sebuah tombol di meja, dan layar monitor besar di dinding tiba-tiba menampilkan kilasan video dari malam itu. Jiwon terkesiap, buru-buru memalingkan wajahnya, rasa mual menyeruak di tenggorokannya. "Ingat, Jiwon. Jangan sampai kau melupakan posisimu. Kecuali kau ingin dunia tahu tentang 'malam tak terlupakan' kita."
Jiwon merasa jiwanya tercabik-cabik. Ia memegang pena erat-erat, kuku-kukunya memutih menahan amarah. "Kau iblis," katanya, suara pelan namun penuh kebencian yang mendalam.
