Konsekuensi (Sequel Apakah ini Benar?)

619 67 15
                                        

​Di apartemen studionya yang kini terasa sempit di Busan, Kim Jiwon duduk di lantai kayu dingin, punggungnya bersandar pada dinding. Tangannya gemetar hebat, memegang ponsel yang layarnya memancarkan cahaya putih ke wajahnya yang pucat. Di samping ponsel itu, tergeletak sebuah benda plastik kecil berwarna putih, dengan dua garis merah yang jelas dan tak terbantahkan.

​Positif.

​Kehamilan. Anak Kim Soohyun. Anak yang lahir dari kebahagiaan curian di tengah kekacauan moral mereka.

​Sudah dua jam Jiwon menatap benda itu, air mata telah lama mengering. Ia telah melalui fase panik, marah, dan kini, hanya ada kebasahan dan keputusan yang harus segera diambil. Ia sudah mencoba berkali-kali untuk menghubungi Soohyun melalui panggilan suara, tetapi keberaniannya selalu hilang setiap kali ia mendengar nada deringnya. Ia tidak sanggup mendengar suara bingung atau penyesalan Soohyun melalui telepon.

​Ia harus mengirim bukti, fakta yang tidak bisa dibantah.
​Jiwon membuka aplikasi chatting, membuka ruang obrolan dengan kontak bernama "S.H."—kode rahasia mereka agar Hyerin tidak curiga. Ia mengambil foto test pack itu dari sudut yang jelas dan mengirimkannya. Itu saja. Tidak ada kalimat sapaan, tidak ada kata-kata pengantar. Hanya bukti diam yang akan menghancurkan dua kehidupan sekaligus.

​Jiwon menekan tombol kirim. Tangannya merosot ke pangkuan, seolah energinya terkuras habis.

​Ini bukan hanya kita lagi, Oppa. Ini adalah konsekuensi yang nyata.

​Tepat saat ia hendak menarik napas panjang, pintu apartemennya diketuk pelan.

​"Jiwon-ah? Kau di dalam? Sudah hampir pukul sepuluh. Kita jadi belajar bersama, kan?" Suara itu adalah Mingyu. Suara yang hangat, stabil, dan tanpa tuntutan, kontras sempurna dengan badai yang baru saja ia ciptakan.

​Jiwon segera menyembunyikan test pack dan ponselnya di balik bantal. Ia berdiri, mengusap bekas air mata di pipinya, dan memaksakan senyum sebelum membuka pintu.

​Mingyu berdiri di ambang pintu, membawa tumpukan buku tebal dan dua kaleng kopi hangat. Ia adalah teman kuliah Jiwon, seorang pria yang tulus, jujur, dan telah lama menunjukkan ketertarikan padanya. Selama berminggu-minggu, Jiwon menggunakan Mingyu sebagai perisai, sebagai harapan palsu untuk masa depan yang normal.

​"Maaf membuatmu menunggu, Mingyu-ah," kata Jiwon, suaranya terdengar sedikit parau.

​"Tidak masalah," Mingyu tersenyum, senyum yang begitu bersih hingga membuat hati Jiwon sakit karena kebohongannya. "Kau terlihat agak pucat. Apakah kau baik-baik saja? Kau tidak sakit, kan?" Mingyu mencondongkan tubuh sedikit, mengulurkan tangannya seolah ingin menyentuh dahi Jiwon, namun ia menahan diri.

​Jiwon mundur selangkah, menghindari sentuhan itu. "Aku baik-baik saja. Hanya sedikit kelelahan karena tugas. Ayo, masuk."
​Mingyu masuk, menaruh buku-bukunya di meja belajar. Ia melirik Jiwon dengan khawatir.

​"Jiwon-ah, jika kau sakit, kita bisa menunda belajar. Aku tidak keberatan. Kau harus beristirahat. Akhir-akhir ini kau terlihat terlalu tegang," ucap Mingyu tulus.

​Mendengar perhatian yang begitu murni dari Mingyu, Jiwon merasa tersentuh sekaligus jijik pada dirinya sendiri. Di satu sisi, ada Soohyun, cinta yang berapi-api namun terlarang, yang baru saja ia berikan kabar yang akan menghancurkan segalanya. Di sisi lain, ada Mingyu, pelabuhan yang aman, yang menawarkan stabilitas dan kehidupan tanpa rahasia.

​Jiwon menatap Mingyu yang sedang menyalakan lampu belajar, sosok yang tampak begitu tepat dan lurus. Ia membayangkan: Jika saja bayi ini adalah anak Mingyu, betapa mudah dan normalnya kehidupannya.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang