Ego

663 72 8
                                        

Mentari pagi di Seoul, seharusnya membawa semangat baru, namun bagi Baek Hyunwoo, itu adalah awal dari kekacauan yang sempurna. Pria berusia 30-an itu, dengan rambut hitam sedikit berantakan dan kemeja lusuh yang tak lagi rapi, berdiri di depan pintu gudang 'Jejak Logistik' miliknya. Aroma oli dan debu yang bercampur khas gudang memenuhi indra penciumannya, menusuk hingga ke paru-paru. Perusahaan kargo rintisannya, yang baru berumur jagung, sedang diuji habis-habisan oleh badai ekonomi yang tak terduga.

"Sialan!" umpat Hyunwoo, menjambak rambutnya sendiri hingga beberapa helai terlepas. Ponsel di tangannya menunjukkan pesan singkat yang baru saja masuk, layar cerahnya seolah mengejek kegelapan suasana hatinya. "Maaf, Hyunwoo-ssi, aku demam tinggi. Tak bisa masuk hari ini." Pesan itu dari Kim Seokjin, salah satu karyawan andalannya, tulang punggung operasional gudang. Seokjin sakit, dan pengiriman penting ke Distrik Gangnam yang seharusnya menjadi titik balik bagi perusahaannya, harus tetap berjalan. Pengiriman ini adalah kunci untuk kontrak selanjutnya, bisa jadi penyelamat, atau justru menjerumuskan 'Jejak Logistik' ke jurang kebangkrutan yang lebih dalam.

Hyunwoo menghela napas panjang, paru-parunya terasa sesak. Matanya memandang deretan truk kargo berwarna biru gelap dengan logo 'Jejak Logistik' yang dicat sederhana, namun kokoh dan penuh harapan. Ia meraih kunci truk tua kesayangannya, yang sudah menemaninya sejak awal merintis, bahkan sebelum ia punya karyawan tetap. Mesinnya sering batuk-batuk, catnya terkelupas di sana-sini, tapi truk ini adalah saksi bisu perjuangannya, setiap goresan adalah cerita tentang tekad dan keringat.

"Baiklah, Baek Hyunwoo, kau bisa melakukan ini," gumamnya pada diri sendiri, mencoba memompa semangat yang terasa terkuras habis. Keringat mulai membasahi pelipisnya bahkan sebelum ia masuk ke kabin truk yang pengap, aroma sisa rokok dan kopi dingin menempel kuat. Ia membuka pintu, menaiki anak tangga kecil, dan duduk di kursi pengemudi yang usang. Di dalam truk, ia menata beberapa kotak besar berisi peralatan elektronik, memeriksa daftar pengiriman sekali lagi. Udara pagi terasa semakin gerah, seolah ikut memanaskan keputusasaan yang merayapi hatinya. Ia memutar kunci kontak, mesin batuk-batuk sebentar, lalu menyala dengan raungan yang akrab. Hyunwoo menginjak pedal gas, truk biru itu perlahan meninggalkan gudang, membawa serta beban masa depan 'Jejak Logistik' di pundaknya.

Sementara itu, di sisi lain kota, di jalanan yang lebih mewah dan lengang di kawasan Cheongdam-dong, Hong Haein, pewaris tunggal Grup Queens yang memesona, sedang menghadapi 'bencana' kecilnya sendiri. Mengenakan setelan blazer abu-abu desainer yang pas di tubuh rampingnya, rambut hitamnya tergerai indah dengan kilau sehat, dan tas tangan Hermes Birkin yang melengkapi penampilannya, Haein seharusnya sudah tiba di rapat dewan penting yang akan menentukan nasib proyek ambisiusnya. Namun, mobil mewah hitamnya, sebuah sedan Eropa terbaru yang baru saja ia beli, tiba-tiba tersentak dan mati. Total, tanpa peringatan, seolah rohnya dicabut paksa.

"Astaga!" desis Haein, memukul setir pelan dengan kepalan tangan kecilnya, suaranya mengandung frustrasi yang mendalam. Ia mencoba memutar kunci lagi, berharap keajaiban sesaat, namun hanya terdengar suara klik hampa yang memuakkan. "Tidak, tidak, tidak. Ini tidak mungkin terjadi sekarang! Rapat dewan jam sepuluh, dan aku bahkan belum sampai ke pintu masuk gedung!" Ia mencoba menghubungi sopirnya, Kang Ahjussi, namun layar ponselnya hanya menampilkan 'Tidak Ada Sinyal' yang kejam, seolah dunia sengaja ingin mengisolasi dirinya. Jalanan itu, yang biasanya ramai dengan mobil-mobil mewah dan pejalan kaki berkelas, pagi itu terasa sepi mencekam. Hanya ada deretan pohon rindang di sisi jalan dan gedung-gedung tinggi yang menjulang, memandang rendah ke arahnya. Panik mulai merayap, menelan ketenangannya. Rapat ini adalah presentasi proyek ambisiusnya yang ia persiapkan berbulan-bulan, ia harus hadir!

Beberapa menit berlalu, setiap detiknya terasa seperti satu jam. Ketegangan Haein semakin memuncak, urat-urat di lehernya menegang. Ia keluar dari mobil, merasa gerah dan tak berdaya. Meskipun ia tahu ia tidak akan mengerti apa pun, ia mencoba membuka kap mesin, jemarinya yang ramping dan terawat menyentuh besi dingin yang sama sekali tidak ia pahami. Jemarinya mengusap dahi, merasa frustrasi dan putus asa.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang