Pagi itu, penthouse terasa sunyi. Baek Hyunwoo sudah pergi, meninggalkan Hong Haein dengan sarapan yang dititipkannya, sebuah pengingat akan perhatiannya yang kini terasa jauh. Setelah sarapan, Haein bersiap ke kantor, bertekad untuk melupakan kesedihan semalam. Namun, saat ia berada di Queens Group, hatinya tidak ada di sana. Pikirannya dipenuhi oleh Hyunwoo, dan ia menyadari, pekerjaan yang dulu menjadi pelariannya, kini terasa hampa tanpa kehadiran suaminya.
Haein melangkah keluar dari lift di lantai kantornya, aura Direktur Perencanaan yang karismatik kembali menyelimutinya. Nona Oh, asistennya, menyambutnya dengan tumpukan berkas.
"Selamat pagi, Direktur Hong," sapa Nona Oh. "Semua laporan dari Daegu sudah masuk, dan tim sudah menunggu arahan Anda."
"Terima kasih, Nona Oh," jawab Haein, suaranya terdengar profesional.
Namun, saat ia duduk di kursi kebesarannya, pandangannya tidak terfokus pada laporan di hadapannya. Pikirannya melayang pada sarapan yang ia makan sendirian, pada kursi kosong di meja makan, dan pada ponselnya yang tidak menunjukkan notifikasi dari Hyunwoo. Ia mencoba membaca laporan, namun setiap kata terasa kabur. Ia mencoba memikirkan strategi bisnis, namun yang muncul di benaknya justru wajah Hyunwoo yang terluka.
Pukul 10.00, Haein tidak tahan lagi. Ia tahu ia tidak bisa bekerja seperti ini. Ia harus bicara dengan Hyunwoo. Ia meraih ponselnya, mencari nama Hyunwoo. Tangannya gemetar saat ia menekan tombol panggil.
Telepon berdering. Satu, dua, tiga kali. Hati Haein berdebar kencang. Ia berharap Hyunwoo akan mengangkatnya, berharap ia bisa mendengar suara suaminya, dan segera meminta maaf. Namun, pada dering keempat, suara robot perempuan yang dingin menjawab, "Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silakan tinggalkan pesan setelah nada.."
Haein menutup teleponnya. Voicemail. Lagi.
Ia mencoba lagi, dan hasilnya sama. Panggilan telepon masuk ke voicemail. Air mata menggenang di matanya. Ia merasa panik. Ini tidak seperti Hyunwoo. Hyunwoo selalu mengaktifkan ponselnya. Hyunwoo selalu ada untuknya. Kecuali.. Hyunwoo tidak ingin ia menghubunginya.
Haein menjatuhkan ponselnya ke meja. Ia membenamkan wajahnya di kedua tangannya. Rasa takut dan penyesalan membanjiri dirinya. Ia telah menyakiti Hyunwoo begitu dalam, sampai-sampai pria itu memutuskan untuk tidak menjawab panggilannya. Ia telah mendorong Hyunwoo menjauh, memberikan ruang yang kini terasa seperti jurang di antara mereka.
Nona Oh mengetuk pintu, lalu melangkah masuk. "Direktur Hong, tim proyek sudah berkumpul di ruang rapat."
Haein mengangkat kepalanya, mencoba menyembunyikan matanya yang basah. "Batalkan rapatnya, Nona Oh," katanya, suaranya serak. "Jadwalkan ulang untuk besok. Aku.. aku tidak enak badan."
Nona Oh mengangguk, sedikit terkejut dengan permintaan itu. "Baik, Direktur. Ada lagi yang bisa saya bantu?"
Haein menggeleng. "Tidak. Aku.. aku akan pulang. Jika ada sesuatu yang penting, hubungi saja aku."
Ia meraih tasnya, lalu bergegas keluar dari kantornya. Dalam perjalanan pulang, pikirannya kacau, kepalanya pening. Ia tidak peduli pada proyeknya. Ia tidak peduli pada pekerjaan. Yang ia pedulikan hanyalah Hyunwoo. Ia ingin pulang, berharap Hyunwoo sudah ada di sana. Berharap ia bisa melihat suaminya, meminta maaf, dan memperbaiki semuanya.
Setibanya di penthouse, yang ia temukan hanyalah kesunyian yang sama seperti pagi tadi. Hyunwoo belum pulang. Ruang yang ia minta kini terasa seperti hukuman terberat baginya. Ia berbaring di ranjang, memeluk bantal Hyunwoo, dan membiarkan air matanya mengalir, menyesali setiap kata yang ia ucapkan, dan setiap jarak yang kini terbentang di antara mereka. Ia hanya ingin Hyunwoo kembali.
