Angin musim semi di Seoul terasa dingin menusuk tulang, namun dinginnya tak seberapa dibandingkan hampa yang Soohyun rasakan di dalam dadanya. Di antara jemarinya, tergenggam erat selembar foto usang, tepiannya mulai menguning dimakan waktu, dan secarik kertas lusuh bertuliskan sebuah nama yang asing, Ryuu Nakamura. Wasiat ibunya. Kata-kata terakhir wanita itu sebelum napasnya tercekat, samar dan penuh harap. "Temukan dia, Soohyun. Dia.. ayahmu." Ayah. Sebuah kata yang terasa begitu kosong, tak bermakna, hampir seperti fiksi belaka di benaknya. Sosok yang hanya ia kenal dari cerita samar ibunya dan, tentu saja, foto hitam putih ini—seorang pria dengan mata tajam namun terlihat sendu, memegang kuas kaligrafi.
Jepang. Negeri itu terasa begitu jauh, bukan hanya secara geografis, tapi juga secara emosional. Ia seorang penulis, seorang pengrajin kata yang hidup dalam labirin aksara dan imajinasi. Realitas adalah sesuatu yang kerap ia hindari, tempat di mana ia lebih suka menjadi pengamat daripada partisipan. Namun, kali ini, kenyataan menjeratnya. Sebuah ikatan darah yang tak bisa ia lepaskan, sebuah janji yang harus ia penuhi, meskipun setiap serat dalam dirinya memberontak.
"Apa kau yakin ini yang ibu inginkan, Soohyun?" suara Park Minwoo, sahabat sekaligus editornya, berbisik dari ujung telepon. "Kau terlihat seperti akan pergi ke medan perang, bukan mencari keluarga."
Soohyun menatap tas koper yang tergeletak di lantai apartemennya yang minimalis. Isinya tak banyak, hanya beberapa helai pakaian, buku catatan kecilnya, dan pena kesayangannya. Sisa ruangannya dipenuhi buku, manuskrip, dan tumpukan kertas. "Aku tidak tahu, Minwoo," jawabnya, suaranya serak. "Yang aku tahu, ini adalah janjiku. Dan ibuku.. dia tidak pernah meminta hal yang tak penting."
"Tapi kau membencinya, kan?" Minwoo menembak langsung ke inti. "Ayah yang meninggalkan kalian."
Soohyun menghela napas panjang, memejamkan mata. Gambar ibunya, lemah di ranjang rumah sakit, terlintas di benaknya. Wajah pucat itu, tatapan mata yang penuh permohonan. "Bukan benci," koreksinya, "lebih kepada ketidakpedulian. Dia tidak ada di sana. Aku tidak mengenalnya." Jeda sejenak, Soohyun membuka matanya, menatap keluar jendela ke arah langit Seoul yang mendung. "Tapi sekarang, seolah-olah dia adalah teka-teki terakhir yang harus kuselesaikan dalam hidup ibuku."
Tiket pesawat ke Tokyo terasa dingin di tangannya, sebuah lembaran kertas tipis yang memuat takdir. Penerbangan itu adalah gerbang menuju ketidakpastian. Di sana, di negeri asing itu, ia harus menemukan seorang pria yang namanya hanya sebuah gumaman samar, seorang pria yang mungkin tidak mengenalnya, atau lebih buruk, tak ingin dikenalnya. Koper di sampingnya terasa begitu berat, bukan karena isinya, melainkan karena harapan dan keengganan yang bercampur aduk di dalamnya. Soohyun menghela napas lagi, mengumpat dalam hati. Ia membenci bepergian, membenci perubahan. Ia adalah pria dari rutinitas, dari kesendirian, dari dunia yang ia ciptakan di antara baris-baris kalimat. Tapi demi ibunya, ia akan melangkah. Sekalipun kakinya terasa seperti timah.
Di Bandara Internasional Incheon, keramaian terasa menyesakkan. Suara pengumuman yang berlomba-lomba dengan tawa dan percakapan para penumpang. Soohyun berjalan seperti zombie di antara kerumunan, matanya kosong, pikirannya melayang jauh. Ia bahkan tidak memesan tempat duduk di dekat jendela, tidak ingin menyaksikan daratan Korea yang perlahan mengecil. Ia hanya ingin perjalanan ini cepat berakhir, agar ia bisa segera memulai—dan mengakhiri—pencarian ini.
"Penumpang penerbangan ke Tokyo, Narita, dengan nomor penerbangan XXXX, dipersilakan menuju gerbang keberangkatan.." Suara pramugari menginterupsi lamunannya. Soohyun bangkit, menyeret kopernya, langkahnya terasa berat. "Tokyo," bisiknya pada dirinya sendiri, seperti mantra. "Aku datang." Sebuah awal yang tidak ia inginkan, di negeri yang asing, demi sebuah janji yang terasa begitu berat. Ia belum tahu, bahwa di sana, tak hanya sebuah jawaban yang menantinya, tapi juga sebuah takdir yang akan mengubah seluruh alur ceritanya.
