Beyond the Boundary 9

430 80 16
                                        

​Pagi hari Senin, Baek Hyunwoo bangun sebelum fajar. Ia mencium kening Haein yang masih tertidur, lalu meninggalkan catatan di meja samping tempat tidurnya : Teh herbal hangatmu sudah kusiapkan di termos. Aku akan mengirimkan pesan setiap dua jam, tanpa gagal. Aku akan merindukanmu, Nyonya Baek.

​Ia harus berangkat ke Busan. Perjalanan bisnis pertamanya sejak ia dan Haein mencapai tingkat keintiman yang baru. Namun, ia tidak pergi tanpa mengatur segalanya.

​Dari jet pribadinya menuju Busan, Hyunwoo terus memantau 'Operasi Keselamatan Haein.' Bahkan saat baru mendarat ia langsung mengirimkan pesan.

​Hyunwoo : Sarapan buburmu sudah habis? Pastikan kau tidak minum kopi. Pengingat istirahat jam 10. Chief Comfort Officer sedang mengawasi dari jauh.

​Haein : Sudah habis. Aku sedang rapat. Fokus pada Busan. Jangan mengganggu. Leluconmu bahkan lebih garing saat kau berada jauh dariku.

​Hyunwoo tersenyum. Haein merespons. Itu adalah tanda ia patuh dan kini secara pasif mencari interaksi.

​Sepanjang hari, Hyunwoo menerima pembaruan dari tim keamanan yang ia tempatkan di Queens, mengonfirmasi tidak ada insiden, baik dari luar maupun dari dalam. Pada jam makan siang, ia menelepon Sekretaris Min.

​"Pastikan Nyonya Hong makan siang tepat waktu, Sekretaris Min. Aku mengirimkan sup labu dan sandwich dada ayam yang sudah dimasak sempurna," perintah Hyunwoo, suaranya tenang namun otoritatif.

​"Baik, Tuan Baek. Namun, Nyonya Hong terlihat tidak senang dan sedikit gelisah karena Tuan Baek tidak ada," balas Sekretaris Min dengan sedikit nada geli. "Ia memeriksa ponselnya setiap sepuluh menit."

​Hyunwoo tertawa kecil. Tentu saja ia tidak senang. Ketergantungan Haein semakin nyata, dan itu adalah kemenangan kecil baginya.

​###

Hong ​Haein merasa hari Senin ini sangat berat. Bukan karena volume pekerjaan, tetapi karena ketidakhadiran Hyunwoo. Ruangan di sampingnya di meja rapat terasa dingin dan hampa. Tidak ada yang mengingatkannya untuk minum air, tidak ada lelucon garing, dan tidak ada ancaman lembut tentang istirahat.

​Ia merasa terbiasa. Ia kini bergantung pada perhatian dan logistik Hyunwoo. Cincin berlian di jarinya terasa berat, sebuah penanda status yang kini menjadi penanda ikatan hati yang tak terhindarkan.

​Pukul 15:00, Sekretaris Min memberi tahu Haein bahwa ia memiliki panggilan telepon dari Ibunya, Nyonya Hong.

​Haein menghela napas. Interaksi dengan orang tuanya selalu formal, terstruktur, dan jarang melibatkan kehangatan.

​"Terima teleponnya," perintah Haein, mempersiapkan diri untuk ketegangan.

​Haein mengambil telepon. "Halo, Ibu."

​"Haein," suara Nyonya Hong terdengar tajam dan terukur, mencerminkan ketelitian seorang chaebol. "Aku mendengar kau pergi ke Tokyo dan negosiasinya sangat berhasil. Selamat."

​"Terima kasih, Bu," jawab Haein datar. "Aku melakukan apa yang harus kulakukan."

​"Dan bagaimana suamimu?" tanya Nyonya Hong. Nada suaranya menyiratkan kecurigaan dan evaluasi. "Apakah dia benar-benar membantu, atau dia hanya menghabiskan anggaran perjalanan dan mengganggu fokusmu?"

​Haein merasakan gelombang kemarahan yang melindunginya—kemarahan yang kini diarahkan untuk melindungi Hyunwoo. Mereka tidak tahu betapa Hyunwoo melindunginya.

​"Hyunwoo sangat membantu, Bu," kata Haein, suaranya dingin dan tegas, membela Hyunwoo tanpa ragu. "Ia memberikan dukungan strategis dan berhasil menutup kesepakatan itu. Jangan khawatir. Pernikahan ini berjalan sesuai yang diharapkan untuk kepentingan Queens."

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang