Penebusan 2

320 73 4
                                        

Sejak putusan perceraian resmi diterima seminggu yang lalu, hidup Kim Jiwon terasa seperti berjalan di atas awan. Bukan awan yang lembut dan menyenangkan, melainkan gumpalan awan kelabu yang siap menumpahkan badai kapan saja. Apartemennya yang dulu sering diisi tawa Soohyun kini terasa dingin, jauh lebih dingin dari sekadar suhu ruangan. Setiap pagi, Jiwon terbangun dengan perasaan mual yang tak kunjung hilang, seperti ada sesuatu yang memberontak di dalam perutnya, dan pusing yang sering datang tiba-tiba, membuat pandangannya kabur sesaat. Tubuhnya terasa sangat lelah, seolah-olah ia telah berlari maraton tanpa henti, padahal yang ia lakukan hanyalah bergerak dari tempat tidur ke sofa, lalu kembali lagi.

Awalnya, Jiwon berpikir ini adalah efek samping dari stres berkepanjangan akibat perceraian yang menyakitkan. Ia sudah mencoba melakukan segalanya untuk mengatasi itu, makan dengan teratur, meskipun nafsu makannya menghilang, tidur cukup, bahkan mencoba meditasi sederhana yang ia temukan di internet. Namun, gejala itu tidak juga mereda. Justru semakin intens, mencekiknya perlahan. Aroma makanan tertentu yang dulu ia sukai, seperti sup rumput laut kesukaan Soohyun, kini terasa menjijikkan, memicu gelombang mual yang luar biasa. Bahkan bau kopi yang biasa ia nikmati di pagi hari, aroma kuat yang dulu menjadi penenang, sekarang memicu mual hebat, membuat ia bergegas ke kamar mandi setiap kali mencoba menyesapnya.

Pagi itu, Jiwon mencoba membuat sarapan, memaksa dirinya untuk makan sesuatu yang bergizi. Ia mengeluarkan dua butir telur dari kulkas, memecahkannya di wajan panas. Desisan minyak dan bau amis telur yang baru saja ia pecahkan langsung membuatnya bergegas ke kamar mandi, melupakan telur yang masih setengah matang di wajan. Ia memuntahkan isi perutnya hingga perutnya terasa perih, tenggorokannya tercekat. Setelah itu, ia merosot, duduk bersandar di dinding kamar mandi yang dingin, napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat.

"Ini tidak benar," gumamnya pada diri sendiri, suaranya serak dan putus asa. "Stres bisa menyebabkan mual, tapi tidak sampai seperti ini setiap hari. Ini bukan stres biasa."

Sebuah pikiran tiba-tiba melintas di benaknya, pikiran yang membuatnya terdiam sejenak, membeku di tempatnya. Lalu, jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya seperti genderang perang. Ia mencoba menepisnya, mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu mustahil, bahwa itu hanyalah kecemasan berlebih dari hatinya yang remuk. Tapi, gejala-gejala itu terlalu familiar, terlalu mirip dengan cerita-cerita yang pernah ia dengar dari teman-teman atau bahkan di drama-drama.

Setelah membersihkan diri dan membasuh wajah pucatnya, Jiwon mengambil ponselnya. Tangannya sedikit gemetar saat ia menekan layar, mencari nomor klinik kandungan. "Mungkin ini hanya kecemasan berlebih," bisiknya lagi, mencoba menenangkan diri, "tapi aku perlu kepastian. Aku harus tahu."

Setengah jam kemudian, Jiwon sudah duduk di ruang tunggu klinik, sendirian. Kursi-kursi empuk di sekelilingnya sebagian besar terisi oleh pasangan suami istri yang tampak bahagia, atau ibu-ibu hamil dengan perut membuncit, saling berbagi cerita dan tawa kecil. Suasana klinik yang dipenuhi aura kebahagiaan dan awal sebuah keluarga itu membuat dadanya semakin sesak, seperti diimpit beban berat. Ia merasa seperti alien di antara mereka, seorang wanita yang baru saja kehilangan segalanya, kini duduk di tempat yang seharusnya menjadi simbol awal sebuah keluarga. Sebuah ironi yang begitu menyakitkan.

"Nona Kim Jiwon?" Suara lembut seorang suster memecah keheningan yang menyesakkan.

Jiwon tersentak, lalu bangkit, melangkah masuk ke ruang praktik dokter dengan langkah gontai, seolah setiap otot di tubuhnya menolak untuk bergerak. Dokter Han, seorang dokter kandungan paruh baya yang ramah dengan kacamata berbingkai tipis dan senyum menenangkan, menyambutnya dengan senyum hangat.

"Selamat pagi, Nona Jiwon. Ada keluhan?" tanya Dokter Han, menunjuk ke kursi di depannya.

Jiwon duduk perlahan, mencoba mengatur napasnya. "Selamat pagi, Dokter Han. Saya.. saya merasa tidak enak badan akhir-akhir ini." Ia berhenti sejenak, mencari kata yang tepat. "Mual di pagi hari, hampir setiap hari. Pusing yang sering datang tiba-tiba, dan.. kelelahan yang luar biasa, padahal saya merasa tidur cukup."

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang