Beyond the Boundary 12

456 77 27
                                        

​Pukul satu siang. Suasana tegang di kantor pusat Queens mereda sejenak untuk istirahat makan siang. Namun, bagi Hong Haein, makan siang ini adalah pertemuan strategis yang santai. Baek Hyunwoo telah datang ke kantornya, membawa paket makan siang dari restoran sehat langganan Haein.

​Haein duduk di meja kerjanya yang luas, memeriksa dokumen terakhir sebelum makan. Hyunwoo duduk di seberangnya, menyusun kotak makan siangnya yang penuh nutrisi.

​"Aku sudah memastikan semua menu ini rendah sodium dan tinggi zat besi, seperti yang diminta dokter," kata Hyunwoo, menunjuk kotak bulgogi jamur. "Ini adalah misi nutrisi, Nyonya Baek."

​"Aku tahu, Tuan Manajer," balas Haein, tanpa melihat. "Aku menghargai logistiknya."

​Mereka mulai makan dalam keheningan yang nyaman. Namun, Hyunwoo, yang telah dimanjakan oleh kedekatan baru mereka, merasa tidak sabar.

​"Coba ini," kata Hyunwoo, menyendokkan sedikit bibimbap sayuran ke sendoknya dan mengulurkannya ke mulut Haein. ​Haein segera menoleh, matanya melebar karena terkejut. "Hyunwoo! Apa yang kau lakukan?"

​"Menyuapimu," jawab Hyunwoo santai, mengabaikan ketidaknyamanan Haein. "Kau harus makan dengan cepat dan efisien. Jangan buang energi untuk menyendok."

​Haein melirik pintu kantor, yang ditutup rapat, tetapi ia tetap cemas. "Jangan. Bagaimana kalau Sekretaris Min tiba-tiba masuk? Kau ingin dia melihat aku disuapi seperti bayi?"

​"Kenapa? Bukannya bagus? Ini menunjukkan bahwa Nyonya Baek sangat berharga sehingga butuh Wakil Presdir KS untuk menjamin asupannya," goda Hyunwoo. Ia mendekatkan sendok itu. "Cepat, buka mulutmu. Komet menunggu."

​Haein mendengus, tetapi setelah ragu-ragu sesaat, ia akhirnya membuka mulutnya dan menerima suapan itu.

​"Enak," aku Haein, memalingkan wajah untuk menyembunyikan senyumnya. "Tapi jangan ulangi. Itu tidak profesional."

​"Aku akan menganggap itu sebagai 'terima kasih, tolong suapi aku lagi'," balas Hyunwoo, menyuapi Haein lagi, kali ini dengan kimchi lobak yang fermentasinya sempurna.

​"Sangat arogan," gumam Haein, tetapi ia menerima suapan itu.

​Setelah beberapa suapan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, Hyunwoo mengalihkan topik pembicaraan. Ia membersihkan sudut bibir Haein dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang sekarang datang secara alami.

​"Haein," panggil Hyunwoo, nadanya berubah sedikit lebih lembut dan serius. "Aku ingin bertanya sesuatu."

​Haein menatapnya, merasa penasaran dengan nada hati-hati itu. "Tanya apa? Soal jadwal akuisisi berikutnya?"

​Hyunwoo meletakkan tangannya di atas tangan Haein di meja, membelainya pelan. "Bukan. Soal.. panggilan."

​"Panggilan?"

​"Sejak kita resmi 'berakhir dengan kontrak' dan memulai 'pernikahan yang sesungguhnya', bukankah kita harus meningkatkan tingkat keintiman kita di luar kamar?" Hyunwoo berbisik. "Aku bosan memanggilmu Nyonya Baek yang formal, dan 'Haein' terasa terlalu netral. Apakah.. apakah aku boleh memanggilmu sayang?"

​Haein membalas tatapan Hyunwoo. Sebuah senyum geli dan nakal muncul di bibirnya—senyum yang penuh kepercayaan diri dan penguasaan.

​"Tuan Baek Hyunwoo," kata Haein, suaranya pelan dan mengancam, tetapi matanya berbinar.

​"Ya?"

​"Sejak kapan kau meminta izin dariku untuk melakukan hal-hal yang kau inginkan?"

​Hyunwoo terdiam sesaat, lalu ia tertawa terbahak-bahak, tawa yang tulus dan membebaskan. Ia segera mencium tangan Haein.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang