Penebusan 5

420 71 3
                                        

Setelah konfrontasi yang menguras energi dengan ibunya dan percakapan yang meninggalkan luka menganga dengan Jiwon, Kim Soohyun kembali ke apartemennya yang dingin. Setiap langkah terasa berat, seolah ia menyeret bongkahan timah di pergelangan kakinya. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi 'klik' hampa, mengunci kesunyian yang mencekam. Ia menjatuhkan diri di sofa kulitnya yang mahal, namun kini terasa kosong. Penyesalan, seperti racun dingin, mulai menggerogoti setiap sel tubuhnya.

"Jiwon.. Gunwoo.." Gumaman itu lolos dari bibirnya, nyaris tak terdengar.

Ia memejamkan mata, membiarkan bayangan putranya, Gunwoo, melintas. Wajah kecil itu, tawa riangnya yang tak pernah ia dengar langsung, dan empat tahun yang hilang begitu saja. Sebuah jurang menganga lebar di antara dirinya dan mereka. Namun, di tengah kepedihan yang menusuk, ada percikan api yang menyala di relung hatinya—tekad yang membara. Tidak ada lagi penyerahan. Kali ini, ia tidak akan lari. Ia harus mendapatkan kembali kepercayaan Jiwon, selangkah demi selangkah, tidak peduli seberapa curam dan sulit jalannya. Ini bukan hanya tentang Jiwon, tapi juga tentang Gunwoo, putranya yang berhak memiliki seorang ayah.

Keesokan harinya, Soohyun tidak langsung mendatangi Jiwon. Ia tahu Jiwon butuh ruang, waktu untuk memproses badai emosi yang baru saja mereka lalui. Ia tahu, jika ia muncul terlalu cepat, itu hanya akan memperburuk keadaan. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya, mencari kontak toko bunga langganan.

"Halo? Saya ingin memesan sebuket lili putih," ucapnya, suaranya lebih mantap dari yang ia rasakan. Lili putih, bunga favorit Jiwon, melambangkan kemurnian dan awal yang baru. Sebuah pesan tersirat yang ia harap Jiwon akan mengerti. "Tolong kirimkan ke Sweet Corner di alamat ini.. Dan, tolong sertakan kartu tanpa nama, hanya dengan tulisan. 'Untuk awal yang baru.'" Ia menarik napas dalam, memejamkan mata saat menekan tombol panggil.

Di Sweet Corner, Jiwon sedang sibuk memanggang adonan roti, keringat membasahi pelipisnya. Pintu toko berdenting pelan, dan seorang kurir masuk membawa buket besar lili putih.

"Permisi, Nona Jiwon? Ada kiriman bunga untuk Anda," kata kurir itu ramah.

Jiwon mengernyitkan dahi. Siapa yang akan mengirimnya bunga? Ia mengambil buket itu, aromanya yang lembut langsung memenuhi indra penciumannya. Mata Jiwon terpaku pada kartu kecil yang terselip di antara tangkai-tangkai bunga. Tangannya gemetar saat ia menariknya keluar. "Untuk awal yang baru." Hanya itu. Tidak ada nama, tidak ada identitas pengirim. Namun, Jiwon tahu. Jantungnya berdenyut tak karuan, antara marah, bingung, dan secercah harapan yang ia paksa untuk padam. Ia membiarkan buket itu tergeletak di meja kasir, pandangannya kosong.

Beberapa hari berikutnya, Soohyun mulai datang ke toko roti. Ia tidak mencoba bicara dengan Jiwon atau mengganggunya. Soohyun tahu, pendekatan frontal hanya akan membuat Jiwon semakin mundur. Ia hanya duduk di salah satu sudut terjauh, di dekat jendela, memesan kopi hitam pahit dan sepotong roti polos. Matanya tak lepas dari Jiwon. Ia mengamati bagaimana Jiwon berinteraksi dengan pelanggan, senyum tipisnya saat melayani seorang ibu muda, tatapan fokusnya saat menghias kue, dan betapa sabarnya ia menjawab pertanyaan seorang anak kecil yang penasaran.

Soohyun melihat Jiwon yang baru—Jiwon yang lebih kuat, mandiri, dan tangguh dari Jiwon yang ia tinggalkan empat tahun lalu. Ada kerutan-kerutan halus di sudut matanya yang dulu ceria, dan bahunya terlihat lebih berat, seolah ia memikul seluruh beban dunia sendirian. Namun, di balik semua itu, ada cahaya yang tak padam. Jiwon yang ini, Jiwon yang ditempa oleh perjuangan, justru membuat Soohyun merasa lebih jatuh cinta lagi. Perasaan bersalah semakin menghimpitnya, namun juga memicu keinginan untuk menjadi bagian dari dunia baru Jiwon.

Suatu sore yang terik, saat Jiwon bersiap untuk menjemput Gunwoo dari taman kanak-kanak, ia melihat Soohyun menunggu di luar toko. Jantung Jiwon berdebar tak nyaman. Ia menghela napas, bersiap untuk mengabaikannya lagi, melangkah melewatinya seolah ia tak terlihat. Namun, Soohyun tidak mendekat, ia hanya membungkuk kecil sebagai sapaan, tatapannya penuh keraguan. Ia kemudian menunjukkan sebuah kantung belanjaan kecil yang ia pegang erat.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang