Malam semakin larut, keheningan Panti Asuhan Harapan terasa mencekik. Anak-anak sudah tidur. Hong Haein berbaring kaku di ranjang kamar tamu sederhana. Kedamaian yang ia temukan saat bermain kini terkikis habis oleh rasa sakit yang meningkat.
Rasa sakit yang tumpul di perutnya kini berubah menjadi kejang yang tajam, menusuk, dan tak terhindarkan, datang dalam gelombang yang teratur dan semakin kuat. Haein menggenggam selimut erat-erat, air mata mengalir di pelipisnya. Ia mencoba menahan erangan.
"Tidak. Tidak mungkin," batinnya, pikiran rasionalnya berjuang melawan ketakutan purba.
Tiba-tiba, ia merasakan kehangatan yang basah dan lengket di bawahnya. Aroma logam yang samar menusuk hidungnya. Haein panik. Ia segera menyalakan lampu kecil di samping ranjang.
Pendarahan ringan. Warna merah gelap yang mematikan di seprai putih.
Ketakutan terbesar Haein menjadi nyata. Komet dalam bahaya. Ini adalah konsekuensi langsung dari tekanan ekstrem dan stres yang ia telan sepanjang hari, dari keraguan terhadap Hyunwoo hingga ancaman Ketua Hong.
Nyonya Lee, yang tidur di kamar sebelah, mendengar rintihan tajam Haein yang tak tertahankan. Ia bergegas masuk tanpa mengetuk.
"Haein! Ya Tuhan, ada apa?!" Nyonya Lee melihat seprai yang ternoda merah, dan wajah Haein yang pucat pasi, matanya membesar karena terkejut dan kesakitan.
"Ya Tuhan! Pendarahan! Kita harus ke rumah sakit sekarang juga!" seru Nyonya Lee, langsung bergerak ke arah telepon.
Haein meraih tangan Nyonya Lee dengan cengkeraman putus asa, kekuatan yang ia dapatkan dari rasa takut. "Tidak! Tolong, Nyonya Lee, jangan hubungi siapa pun! Aku tidak mau ke rumah sakit!"
"Tapi, Nak! Kau bisa kehilangan bayimu! Ini bukan saatnya keras kepala dan memikirkan hal yang tidak perlu!"
"Tidak!" Haein hampir berteriak. "Rumah sakit.. mereka akan menghubungi keluargaku, dan itu akan jadi berita. Mereka akan menyuruhku menggugurkan kandungan! Tolong! Aku hanya butuh pereda nyeri yang diresepkan dokter! Ada di tas tangan di ruang tamu! Aku mohon, Nyonya Lee!"
Nyonya Lee melihat tekad gila dan ketakutan yang mendalam di mata Haein. Ia tahu Haein takut pada sesuatu yang lebih besar dari rasa sakit. Nyonya Lee dengan cepat mengambil tas Haein dan memberinya obat yang ia minta.
Setelah obat itu diminum, Haein memejamkan mata, memohon agar kejangnya mereda.
Nyonya Lee duduk di tepi ranjang, tangannya membelai dahi Haein. Ia sadar bahwa ia tidak bisa membiarkan Haein meninggal atau keguguran di sini hanya karena ketakutan chaebol-nya. Ia harus mencari bantuan profesional, tetapi ia harus melakukannya tanpa menarik perhatian publik.
Nyonya Lee teringat Sekretaris Min, yang namanya tertera di rekening bank sumbangan Haein. Haein sering memesan donasi melaluinya. Setidaknya, Sekretaris Min akan mengerti tingkat kerahasiaan yang diperlukan.
Nyonya Lee mengeluarkan ponselnya sendiri dan dengan cepat mencari nomor Sekretaris Min dari riwayat telepon Panti Asuhan. Ia menjauh sedikit dari Haein, menuju pintu.
"Aku minta maaf, Haein. Tapi aku harus melakukan ini. Aku harus melindungimu dan Komet-mu," bisik Nyonya Lee, sambil menekan nomor itu.
Panggilan itu dijawab oleh Sekretaris Min, yang masih berada di kantor Queens, panik mencari keberadaan Nyonya Baek.
"Halo? Ini Sekretaris Min. Siapa ini?"
"Ini Nyonya Lee, dari Panti Asuhan Harapan. Saya minta maaf menghubungi Anda larut malam begini, tapi Nyonya Baek ada di sini. Dia sakit parah. Ada pendarahan. Dia menolak ke rumah sakit, tapi saya takut nyawanya dan bayinya dalam bahaya. Dia membutuhkan bantuan darurat, segera!"
