Kim Soohyun duduk di balik meja mahoninya yang besar, keheningan di kantornya terasa sangat berat. Ia tidak memejamkan mata, hanya menatap kosong pada pemandangan Seoul di luar jendela, membiarkan ketegangan yang menyesakkan memenuhi ruangan. Baru beberapa saat lalu ia mengakhiri panggilan dengan Tuan Hwang, pengacara kepercayaannya. Sekretaris Choi berdiri di hadapannya, ponsel di tangan, siap sedia, matanya menyiratkan kelelahan tetapi juga harapan yang membara.
"CEO Kim," suara Sekretaris Choi memecah keheningan, nadanya rendah. "Tuan Hwang akan segera tiba. Dia bilang dia akan membatalkan semua janji untuk hari ini."
Soohyun mengangguk, sorot matanya yang dingin kini memancarkan pijar tekad. "Bagus. Pastikan tidak ada yang mengganggu."
Hampir tepat setengah jam kemudian, pintu kantor diketuk dua kali, pelan tapi pasti. Tuan Hwang melangkah masuk, setelan jasnya yang mahal tak mengurangi kesan serius di wajahnya. Ia tidak membuang waktu untuk basa-basi.
"Presdir Kim," sapa Tuan Hwang, ia langsung menarik kursi di seberang meja alih-alih duduk di sofa. Ia meletakkan briefcase kulitnya dengan gerakan mantap. "Sekretaris Choi memberi tahu saya melalui telepon bahwa kita memiliki sesuatu yang lebih dari sekadar rumor. Katakan padaku, seberapa kuat pukulan yang akan kita berikan kali ini?"
Soohyun bersandar ke belakang, menyilangkan tangan di depan dada. "Bukan sekadar pukulan, Tuan Hwang. Kita akan merobohkan seluruh menara yang dibangun Kim Dohoon." Ia menoleh ke arah Sekretaris Choi. "Sekretaris Choi, tolong jelaskan detail teknisnya."
Sekretaris Choi melangkah maju, tangannya mengeluarkan flash drive kecil berwarna metalik dari saku dalam jasnya, lalu meletakkannya di atas meja di hadapan Tuan Hwang. "Tuan Hwang, ini adalah rekaman pengakuan penuh. Pria yang disewa Dohoon untuk mencelakai Nyonya Kim—"
"Tunggu," potong Tuan Hwang, ia mengambil flash drive itu dan menatap Soohyun. "Pengakuan penuh? Bagaimana kalian bisa mendapatkan ini? Saya pikir dia menghilang tanpa jejak."
"Dia menghilang," jawab Sekretaris Choi, senyum tipis tapi tajam melintas di bibirnya. "Tapi kami menemukannya sebelum Dohoon bisa membungkamnya secara permanen. Pengakuannya direkam di bawah jaminan keamanan, dengan kesaksian yang mengikat."
Tuan Hwang segera mencolokkan flash drive itu ke laptop yang sudah ia siapkan. Ia mengenakan headset kecil, mengisyaratkan bahwa apa yang akan ia dengar adalah rahasia yang tidak boleh bocor. Ruangan menjadi hening, tegang. Hanya terdengar desahan lembut kipas laptop dan bisikan parau dari headset Tuan Hwang. Suara pria itu terdengar ketakutan, ia menceritakan dengan rinci bagaimana ia dibayar mahal untuk menyamar sebagai petugas kebersihan, bagaimana ia menunggu waktu yang tepat, dan bagaimana ia sengaja membuat lantai basah agar Jiwon terjatuh. Setiap detik rekaman itu adalah palu godam.
Setelah lima belas menit yang terasa seperti berjam-jam. Tuan Hwang melepaskan headset-nya. Wajahnya yang biasanya kaku kini menunjukkan campuran kejutan dan keyakinan. Ia menatap Soohyun.
"CEO Kim," Tuan Hwang berkata, suaranya dipenuhi keyakinan yang tak tergoyahkan. "Ini.. ini bukan hanya cukup. Ini adalah smoking gun. Pengakuan yang direkam ini—ditambah dengan jejak transfer uang yang dikumpulkan Sekretaris Choi dari rekening gelap Dohoon, dan rekaman CCTV yang menunjukkan pertemuan mereka—adalah serangan balasan yang tidak akan bisa dia tahan."
Soohyun menghela napas panjang, bersandar di kursinya. Kelegaan yang ia rasakan bercampur dengan kemarahan yang dingin. "Aku ingin dia membayar, Tuan Hwang," Soohyun berkata, suaranya dingin membeku. "Bukan hanya untuk rumor yang dia sebarkan yang mencemarkan nama baik kami. Tapi karena dia berani menyakiti Jiwon dan calon anakku. Dia mempertaruhkan nyawa mereka hanya demi uang."
