Hyunwoo membawa Haein ke sebuah restoran kecil di pinggir Sungai Han. Restoran itu terasa hangat dan intim, jauh dari hiruk pikuk kota. Cahaya temaram dari lilin yang menari-nari dan alunan musik jazz yang mengalun lembut menciptakan suasana yang begitu romantis. Ini adalah kencan pertama mereka yang sesungguhnya. Tidak ada lagi pura-pura, tidak ada lagi kebohongan. Hanya ada Hyunwoo dan Haein, duduk berhadapan di sebuah meja kecil, siap untuk memulai lembaran baru dalam hubungan mereka.
Hyunwoo memesan hidangan favorit Haein, yang ia ketahui dari ibu mertuanya. Ia terlihat begitu antusias, matanya berbinar saat berbicara.
"Dulu, saat kencan pertama kita," Hyunwoo memulai, suaranya dipenuhi penyesalan, "Aku bahkan tidak tahu apa makanan favoritmu. Aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya meyakinkanmu untuk menikahiku, bagaimana caranya meyakinkan diriku sendiri bahwa semua ini akan berhasil."
Haein tersenyum lembut. Ia meraih tangan Hyunwoo di atas meja, menggenggamnya erat. "Sekarang kamu sudah tahu," jawabnya, matanya memancarkan kehangatan. "Itu yang terpenting, kan?"
"Tidak, sayang," jawab Hyunwoo, menggeleng pelan. Ia menatap Haein dalam-dalam, pandangannya begitu intens. "Yang terpenting adalah.. aku ingin mengenalmu. Aku ingin mengenalmu lebih baik dari siapa pun di dunia ini. Aku ingin tahu apa yang kamu impikan, apa yang membuatmu tertawa, apa yang membuatmu takut. Aku ingin menjadi orang pertama yang kamu cari saat bahagia, dan yang pertama yang kamu peluk saat sedih."
Haein terdiam, hatinya berdesir. Kata-kata itu begitu tulus. "Aku juga," bisik Haein. "Aku ingin kita melakukan semua yang seharusnya kita lakukan di awal. Aku ingin jatuh cinta padamu.. lagi."
"Ini adalah awal yang baru, Haein," kata Hyunwoo, suaranya dipenuhi tekad. "Aku ingin kita melakukan semuanya dengan benar. Mengawali lagi dari awal. Dengan kejujuran, dengan ketulusan."
Makanan pun datang. Mereka menikmati makan malam mereka, bukan lagi dengan obrolan basa-basi, melainkan dengan percakapan yang mendalam. Mereka berbagi cerita tentang masa kecil mereka, impian mereka, dan ketakutan terbesar mereka. Hyunwoo menceritakan bagaimana ia dulu sangat suka melukis, tapi trauma membuatnya berhenti. Haein menceritakan bagaimana ia selalu memimpikan keluarga yang hangat.
"Aku akan memberimu keluarga itu, Haein," janji Hyunwoo, suaranya dipenuhi tekad. "Aku janji."
Setelah makan malam, mereka berjalan di sepanjang Sungai Han. Langit malam bertabur bintang, dan angin dingin berdesir lembut. Hyunwoo melepas jaketnya dan menyampirkannya di bahu Haein.
"Dulu, kamu akan bilang, 'Aku tidak kedinginan'," kata Hyunwoo, menirukan suara Haein dengan nada lucu.
Haein tertawa, sebuah tawa yang begitu renyah. "Tapi sekarang, aku akan bilang, 'Terima kasih'."
Mereka berjalan beriringan di sepanjang tepi sungai, bahu mereka saling bersentuhan. Angin malam yang dingin berdesir, namun Haein tidak merasa kedinginan. Jaket Hyunwoo yang ia kenakan terasa hangat, begitu juga genggaman tangan Hyunwoo yang erat.
"Aku selalu suka pemandangan malam di sini," bisik Haein, menatap pantulan cahaya lampu kota di permukaan air yang gelap. "Rasanya seperti ada jutaan harapan yang bersinar di kegelapan."
Hyunwoo menghentikan langkahnya. Ia menoleh, menatap Haein. "Harapanku ada di sini," jawabnya, suaranya pelan dan serius. "Di sampingku."
Haein menatapnya. Ia melihat kejujuran di mata Hyunwoo, kejujuran yang begitu tulus hingga membuatnya merasa ingin menangis. Ia tahu, kata-kata itu bukan sekadar rayuan. Itu adalah janji.
"Aku.. aku tidak tahu harus bilang apa," bisik Haein, suaranya serak.
"Tidak perlu bilang apa-apa, sayang," jawab Hyunwoo. Ia mengusap pipi Haein dengan ibu jarinya, menghapus air mata yang mulai menggenang. "Haein, aku ingin berterima kasih. Terima kasih karena kamu tidak pernah menyerah padaku. Terima kasih karena kamu memberiku kesempatan. Aku tahu, aku tidak pantas mendapatkannya, tapi aku akan menghargainya. Setiap hari."
