Beberapa hari setelah konfrontasi yang menguras jiwa antara Kim Jiwon dan Nyonya Lee, secercah harapan mulai merayap masuk ke ruang ICU yang tadinya diselimuti aura suram. Kondisi Kim Soohyun menunjukkan perbaikan signifikan yang nyaris menyerupai keajaiban medis—membingungkan bahkan para dokter paling senior. Pembengkakan di otaknya berangsur surut, dan fungsi vitalnya—detak jantung yang lebih kuat, tekanan darah yang stabil—semakin meyakinkan.
Malam itu, Jiwon duduk di sisi ranjang Soohyun. Ruangan itu hening, hanya diisi oleh suara halus mesin monitor dan desisan ritmis ventilator. Ia memegang tangan Soohyun, yang kini terasa sedikit lebih hangat, kontras sekali dengan dinginnya malam-malam mencekam sebelumnya. Setiap bunyi monitor, setiap denyut yang terpantau, terasa seperti alunan musik surgawi bagi telinganya yang selama ini hanya mendengar bisikan ketakutan.
"Soohyun," bisik Jiwon, suaranya parau karena kelelahan yang menumpuk selama berminggu-minggu, namun dipenuhi getaran cinta yang tak terhingga. Ia mencondongkan tubuhnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Soohyun. "Tadi Sarang menelepon. Dia bertanya.. kapan Ayah akan pulang. Dia bilang, 'Ayah, perut Ibu sudah besar sekali, adik bayi mau cepat keluar.' "
Air matanya menetes, namun ia cepat mengusapnya. Jiwon melanjutkan ceritanya, ia berbicara seolah Soohyun dapat mendengarnya dengan jelas, menceritakan segalanya, tentang bagaimana ia bertemu Nyonya Lee di lobi rumah sakit, tentang rasa takut yang ia rasakan saat memandangi wajah pucat suaminya, dan tentang tekad membaja yang membuatnya berdiri tegak—demi melindungi Pilar Kebahagiaan keluarga kecil mereka.
"Aku.. aku menantangnya di lobi. Aku bahkan berteriak padanya," Jiwon mengaku, sedikit tawa getir terselip dalam nadanya. "Kau pasti akan memarahiku karena gegabah, tapi.. aku harus melakukannya. Aku tidak akan membiarkan iblis itu menyentuhmu lagi, apalagi setelah semua yang dia lakukan." Ia menarik napas dalam. "Kau harus cepat bangun, ya. Kami semua.. sangat membutuhkanmu."
Tiba-tiba, sebuah sentuhan kecil menghentikan detak jantung Jiwon. Jari-jemari Soohyun bergerak. Itu hanya kedutan samar, namun cukup kuat untuk membuat Jiwon terkesiap, matanya membulat tak percaya. Kelopak mata Soohyun sedikit bergetar, seolah berjuang keras melawan kegelapan yang menahannya.
"Soohyun? Sayang?" Jiwon berbisik, wajahnya mendekat tanpa peduli dengan masker yang ia kenakan, menyentuh pipi suaminya dengan lembut. "Kau.. kau mendengarku?"
Dengan tangan gemetar hebat, Jiwon menekan tombol darurat. Pandangannya terpaku pada wajah Soohyun.
Perlahan, sangat perlahan, kelopak mata Soohyun terbuka. Iris hitamnya mengerjap, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya lampu neon yang terang. Tatapannya kosong sejenak, sebuah jurang kebingungan. Lalu, pandangan itu perlahan terfokus—terpaku pada wajah Jiwon yang bengkak karena kurang tidur, namun kini dipenuhi kelegaan yang amat sangat.
"Ji.. Jiwon?" Suara Soohyun serak, nyaris tak terdengar, seperti gesekan kertas pasir.
Tangis kelegaan yang tak tertahankan langsung membanjiri wajah Jiwon. Ia menciumi tangan Soohyun berulang kali, isakannya tertahan di tenggorokannya. "Soohyun! Ya Tuhan, kau sudah bangun! Terima kasih Tuhan!"
Dalam hitungan detik, perawat dan dokter segera masuk. Mereka bergerak cepat, memeriksa kondisi Soohyun dengan teliti. Dokter kepala menghela napas lega yang panjang, meletakkan stetoskopnya.
"Ini keajaiban, Tuan Kim. Anda sudah melewati masa kritis," kata dokter itu, tersenyum dari balik maskernya. "Perlahan, kita akan mulai melepaskan alat bantu pernapasan Anda. Tapi, jangan memaksakan diri."
Soohyun mengamati sekeliling, kepalanya terasa berat dan berdenyut. Kenangan terakhirnya adalah suara deru hujan, benturan keras, rasa sakit menusuk saat tongkat besi itu menghantamnya. Ia mengingat kekacauan di Kim Engineering & Construction, skandal material, dan firasat buruk yang mengikutinya sebelum semuanya menjadi gelap.
