Sore itu, suasana di kamar rawat Kim Jiwon sudah lebih tenang. Cahaya senja lembut masuk melalui jendela, menerangi ranjangnya. Lee Minji dan Kim Daeho baru saja memutuskan untuk pulang sebentar. Setelah memastikan Jiwon dan Jaehyun tidur, mereka berjanji akan segera kembali setelah mandi, memberi makan ternak, dan menyiapkan makan malam sederhana.
Kim Soohyun duduk di kursi di samping ranjang Jiwon. Ia baru saja kembali dari misi penting yang harus ia selesaikan sebelum matahari terbenam: mencari es krim. Ia meletakkan kantong kertas kecil yang sedikit basah di meja samping tempat tidur.
"Nyonya Kim," kata Soohyun, ia menyeringai lebar, ekspresi kombinasi antara kelelahan, kebanggaan, dan sedikit rasa konyol. "Pesananmu sudah datang. Meskipun aku harus menyelinap keluar saat Ibu dan Ayah sedang lengah, dan harus berkendara 20 menit ke satu-satunya convenience store yang buka 24 jam di sisi pulau ini. Aku bahkan harus berdebat dengan kasir karena dia tidak punya dry ice."
Jiwon, yang sedang menyusui Kim Jaehyun dengan posisi miring, tertawa pelan. Tawanya terdengar merdu dan lega. "Astaga, Oppa. Kau benar-benar melakukannya? Aku pikir kau hanya bercanda menyanggupinya saat aku meminta es krim di tengah proses melahirkan. Itu hanya craving sesaat."
"Seorang CEO Kim selalu menepati janjinya, Sayang. Bahkan janji gila sekalipun," balas Soohyun. Ia mengeluarkan sekotak es krim Samanco—es krim Korea klasik berbentuk ikan dengan isian vanila dan kacang merah—dan sendok kecil dari kantong. Itu adalah es krim vanila paling sederhana yang bisa ia temukan, jauh dari gelato Italia yang biasa mereka nikmati di Seoul.
"Aku tidak bisa menemukan gelato vanila Italia yang biasa kita makan," kata Soohyun, ia mengangkat kotak Samanco itu. "Jadi ini dia. Es krim vanila khas Korea, yang sudah melalui perjalanan berbahaya melintasi jalanan kebun. Makanlah, Sayang. Kau pantas mendapatkan ini. Kau baru saja menciptakan keajaiban, aku hanya berburu ikan beku."
Jiwon menerima sendok itu. "Kau juga harus makan, Oppa. Aku melihat kau belum makan apa-apa sejak tadi malam. Kau terlihat seperti zombie kaya raya yang baru saja keluar dari proses audit yang brutal."
Soohyun menarik kursi lebih dekat. Ia membagi dua es krimnya, mengambil es krim vanila dari perut ikan itu, lalu dengan hati-hati menyuapi Jiwon.
"Enak?" tanyanya, suaranya dipenuhi perhatian.
"Sangat enak," jawab Jiwon, matanya terpejam sejenak saat rasa manis dan dingin menyentuh lidahnya. "Ini adalah es krim paling manis yang pernah kurasakan, karena dibayar dengan penderitaan dan cinta. Dan sedikit drama komedi darimu."
Soohyun mengambil suapan untuk dirinya sendiri. Rasanya memang manis dan dingin, kontras tajam dengan kepanikan dan panasnya ruang bersalin yang ia rasakan beberapa jam lalu.
"Kau tahu, Sayang," kata Soohyun sambil menatap putranya yang tenang menyusu. "Saat kau memintaku es krim itu, aku benar-benar berpikir, 'wanita ini luar biasa'. Bahkan di puncak kesakitan, kau masih punya selera humor dan bisa membuatku fokus pada misi yang tidak mengancam nyawa. Aku hampir pingsan karena takut, tahu!"
Jiwon tersenyum. Ia menelan suapannya sebelum menjawab. "Tentu saja. Aku harus memberimu tantangan yang mudah diselesaikan, Oppa. Itu adalah salah satu cara agar kau tetap tenang dan tidak pingsan di ruang persalinan. Aku tidak mau membayangkan, CEO Kim pingsan karena melihat darah, sementara Appa dan Eomma harus menyeretmu keluar. Itu akan jadi berita utama yang memalukan!"
Soohyun mencubit hidung Jiwon dengan gemas. "Ya, ya, ya. Kau memang strategis. Kau menyelamatkan Jaehyun, Ayahnya, dan reputasi keluargaku dalam satu gerakan. Aku benar-benar tidak akan pernah meremehkan strategimu lagi." Ia merangkul bahu Jiwon dengan hati-hati. "Setelah ini, aku akan membelikanmu persediaan es krim Samanco untuk seumur hidup. Biar itu menjadi es krim kemenangan kita."
