Pagi itu, suasana di ruang briefing departemen bedah kardiotoraks terasa lebih riuh dari biasanya. Seorang pasien baru tiba di ruang gawat darurat dengan kondisi yang mengkhawatirkan, seorang wanita paruh baya mengalami sesak napas hebat, nyeri dada yang menjalar ke lengan kiri, dan riwayat penyakit jantung yang signifikan.
Dokter jaga ruang gawat darurat memberikan laporan singkat kepada tim yang berkumpul, termasuk Baek Hyunwoo dan Hong Haein. Saat dokter jaga menyebutkan riwayat penyakit pasien - stenosis mitral dengan komplikasi edema paru - Haein merasakan perubahan drastis pada ekspresi Hyunwoo yang berdiri di sampingnya.
Wajah Hyunwoo yang biasanya datar dan tanpa emosi, tiba-tiba menegang. Rahangnya tampak mengeras, dan tatapannya menjadi sangat intens, seolah menembus dinding. Ia mencengkeram erat pulpen di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Usia pasien?" tanya Hyunwoo dengan nada suara yang lebih rendah dan tegang dari biasanya.
"Lima puluh delapan tahun," jawab dokter jaga.
Haein melihat Hyunwoo menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia belum pernah melihat Hyunwoo bereaksi seperti ini terhadap informasi pasien sebelumnya. Biasanya, ia akan menerima laporan dengan tenang dan langsung fokus pada langkah-langkah medis yang perlu diambil.
"Segera lakukan EKG dan pemeriksaan enzim jantung. Berikan oksigen dengan masker CPAP dan pasang jalur infus," perintah Hyunwoo dengan nada yang lebih mendesak dan sedikit panik. "Siapkan ruang kateterisasi jantung. Kita mungkin perlu melakukan intervensi segera."
"Baik, Dokter Baek," jawab para perawat dan residen dengan cepat, merasakan urgensi dalam suara Hyunwoo.
Haein mengikuti Hyunwoo saat ia bergegas menuju ruang gawat darurat. Hyunwoo berjalan dengan langkah cepat dan tegang, berbeda dengan langkahnya yang biasanya tenang dan terkontrol. Di ruang gawat darurat, Hyunwoo langsung menghampiri pasien yang tampak kesulitan bernapas, terbaring lemah di ranjang.
"Nyonya, bisa Anda dengar saya?" tanya Hyunwoo dengan nada yang lebih lembut dari biasanya, namun tetap terdengar tegang.
Pasien itu hanya bisa mengangguk lemah, dengan wajah pucat dan bibir kebiruan.
Hyunwoo dengan cepat memeriksa denyut nadi dan tekanan darah pasien. Wajahnya semakin mengeras saat melihat hasilnya. Ia kemudian melihat hasil EKG yang baru saja dicetak.
"EKG menunjukkan adanya fibrilasi atrium dengan respons ventrikel yang cepat," gumam Hyunwoo lebih kepada dirinya sendiri. "Edema paru sudah sangat parah."
"Dokter Baek, hasil enzim jantung sudah keluar. Troponin I meningkat signifikan," lapor seorang residen.
Hyunwoo mengangguk, rahangnya semakin mengeras. "Kita harus bertindak cepat. Dokter Hong, tolong bantu pasang jalur arteri untuk pemantauan tekanan darah invasif. Dokter Kim, siapkan informed consent untuk kateterisasi jantung dan kemungkinan PCI."
Haein dan residen yang dipanggil Dokter Kim tadi segera melakukan perintah Hyunwoo. Haein memperhatikan bagaimana Hyunwoo bergerak dengan sangat cepat dan fokus, namun ada sesuatu yang berbeda. Ia tampak lebih tegang dan gelisah dari biasanya. Ia terus-menerus memeriksa monitor dan memberikan instruksi dengan nada yang sangat mendesak.
"Dokter Baek, Anda baik-baik saja?" tanya Haein dengan hati-hati saat mereka berdua sedang memasang jalur arteri.
Hyunwoo menoleh padanya dengan tatapan yang tajam, namun hanya sesaat. "Saya baik-baik saja, Dokter Hong. Kita harus fokus pada pasien ini." Nada bicaranya terdengar sedikit lebih kasar dari biasanya.
Haein merasa ada sesuatu yang tidak beres. Hyunwoo tidak biasanya bersikap seperti ini. Ia selalu tenang dan terkontrol, bahkan dalam situasi yang paling menegangkan sekalipun.
