Jerat 4

363 79 12
                                        

Udara dingin dini hari menyelimuti jalanan Seoul yang masih sepi. Hanya beberapa lampu jalan yang berkedip samar, dan embun tipis mulai menempel di permukaan mobil yang terparkir. Di dalam mobil mewah hitam yang terparkir agak jauh dari sebuah apartemen sederhana di kawasan perumahan kelas menengah, Kim Soohyun duduk sendirian, membaur dengan kegelapan. Ia tidak mengenakan setelan jas mahal yang biasa ia kenakan, malam ini ia memakai jaket kasual berwarna gelap dan topi baseball yang menutupi sebagian wajahnya, berusaha agar tidak menarik perhatian siapapun, bahkan bayangannya sendiri. Tangannya menggenggam erat secangkir kopi hangat yang uapnya mengepul tipis di udara beku. Namun, panasnya tak mampu menembus dinginnya hatinya yang kini dipenuhi kegelisahan dan rasa bersalah yang masih asing baginya, seolah ada bongkahan es yang membeku di sana.

Di pangkuannya tergeletak sebuah tablet, memancarkan cahaya redup yang menerangi sebagian wajahnya. Tablet itu menampilkan feed langsung dari kamera tersembunyi yang kini ia pasang di apartemen sewaan baru Kim Jiwon. Ya, Jiwon telah meninggalkan apartemennya yang dulu, yang penuh kenangan pahit, dan pindah ke tempat yang lebih kecil, seolah ingin menghapus semua jejak Kim Soohyun dan Lee Hanjoon dari kehidupannya. Informasi ini didapat Jungwoo dengan cepat, bahkan sebelum Soohyun sempat memerintahkan, meskipun Soohyun sudah menekankan agar semua dilakukan secara diam-diam, tanpa diketahui siapapun.

Di layar tablet, Jiwon terlihat sedang duduk di lantai dapur, memeluk lututnya erat, seperti anak kecil yang ketakutan dan sendirian. Wajahnya terlihat sangat lelah, pucat, dan kosong, matanya menatap ke dinding seolah tak ada apa-apa di sana. Ia tidak melakukan apa-apa, hanya duduk di sana, terpaku, seperti patung kesedihan. Soohyun bisa melihat dengan jelas bahwa Jiwon tidak makan, tidak tidur dengan benar. Rambutnya yang biasanya terawat kini terlihat kusut, dan tubuhnya yang dulu penuh energi kini tampak kurus dan lemah. Kerudung tipis kesedihan itu menyelimuti Jiwon, dan Soohyun merasakan tusukan tajam di dadanya, seolah ada pecahan kaca yang menusuk organ vitalnya. Dialah penyebab semua ini. Dialah yang menghancurkan Jiwon. Wanita yang kini ia sesali telah dihancurkan, tapi bagaimana cara memperbaikinya?

"Dia hancur," gumam Soohyun, suaranya parau dalam benaknya, hampir tak terdengar. "Dan itu semua karena aku. Aku yang melakukannya."

Ia mengamati Jiwon selama berjam-jam, dari fajar hingga pagi menjelang, seolah tak ada yang lebih penting di dunia ini. Ia melihat Jiwon akhirnya bangkit, langkahnya gontai menuju kamar mandi, seperti zombie yang baru bangkit dari kubur. Ia melihat Jiwon yang keluar dengan wajah lebih segar namun tetap pucat, mengenakan pakaian sederhana yang terasa kebesaran di tubuhnya, dan kemudian pergi bekerja. Soohyun segera menyalakan mesin mobilnya, mengikuti mobil Jiwon dari kejauhan, memastikan Jiwon sampai di kantor dengan aman, tak ada satupun halangan yang bisa mengganggunya.

Sejak saat itu, setiap hari menjadi rutinitas baru bagi Soohyun. Ia tidak lagi mengancam atau memaksakan Jiwon untuk menemuinya. Sebaliknya, ia memilih untuk mengamati, menjadi bayangan yang tak terlihat. Ia memasang kamera di beberapa titik yang strategis dan tidak mencurigakan, agar ia bisa melihat bagaimana Jiwon menjalani hidupnya, setiap detik, setiap tarikan napas. Dari layar monitor di kantornya yang mewah, yang dulu hanya menampilkan grafik saham dan laporan bisnis, atau dari dalam mobilnya yang terparkir jauh, Soohyun menyaksikan Jiwon makan siang sendirian di taman, melihatnya menghabiskan waktu di perpustakaan umum, bahkan melihatnya menatap kosong ke luar jendela kantornya, seolah jiwanya melayang entah kemana.

Ia melihat Jiwon yang berusaha keras tampil kuat di depan rekan-rekannya, senyum palsu tersungging di bibirnya, namun di balik itu, ia tahu Jiwon sedang berjuang. Ia melihat Jiwon makan seadanya, sering kali melewatkan makan siang karena tak ada selera. Ia melihat Jiwon pulang larut, dan terkadang, ia melihat Jiwon menangis sendirian di apartemennya, memeluk lututnya, bergetar dalam kesepian. Setiap isakan Jiwon, setiap tetes air mata yang jatuh, terasa seperti pukulan langsung ke hati Soohyun, meretakkan fondasi keras yang selama ini ia bangun. Hatinya yang dulu keras kini mulai menunjukkan keretakan yang lebih besar, dan di sana, samar-samar, mulai tumbuh benih penyesalan.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang