Malam telah larut di Seoul, jam dinding apartemen Kim Jiwon menunjukkan pukul 02.17 dini hari. Cahaya rembulan menembus celah gorden tipis, menumpahkan bias keperakan di lantai kayu. Kim Jiwon baru saja terlelap dalam tidurnya yang gelisah, napasnya tersengal, seolah setiap hembusan mengikis sisa-sisa energinya. Rahasia yang ia sembunyikan, sebuah beban yang menghimpit jiwanya, menguras tenaga fisik dan mentalnya setiap hari. Namun, ketenangan singkat itu hancur berkeping-keping oleh suara ketukan keras di pintu apartemennya.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan itu berulang, lebih mendesak, lebih brutal dari sebelumnya, seolah pemiliknya tak akan pergi sampai Jiwon membuka pintu. Jantung Jiwon mencelos, melompat ke tenggorokan. Ia tahu siapa itu, jauh sebelum ia melihat siluet di balik lubang intip. Hanya ada satu orang di dunia ini yang memiliki keberanian dan obsesi sebesar itu, yang akan mengganggunya di tengah malam buta. Kim Soohyun.
Rasa takut bercampur amarah membanjiri dirinya. Jiwon mengatupkan rahang, mengepalkan tangan di samping tubuh. Ia melangkah perlahan ke pintu, setiap langkah terasa berat, seolah ia membawa beban seribu ton. Di balik pintu kaca buram itu, siluet Kim Soohyun berdiri tegak, tak bergerak, seperti patung yang diukir dari kegelapan malam. Jiwon dapat merasakan tatapannya, bahkan melalui kaca yang mengaburkan pandangan.
Tangannya gemetar saat meraih kenop pintu, dinginnya logam menusuk kulit. Udara dingin malam itu terasa menusuk, seolah mempersiapkan Jiwon untuk badai yang akan datang, badai yang akan mengoyak ketenangan semunya.
Pintu terbuka dengan decitan pelan yang memecah keheningan. Wajah Soohyun tampak tegang, garis rahangnya mengeras, matanya gelap, dipenuhi campuran emosi yang tak bisa Jiwon baca, penyesalan yang mendalam, kecemasan yang mencekik, dan sesuatu yang mirip dengan.. ketakutan. Ia tidak langsung masuk, hanya berdiri di ambang pintu, menatap Jiwon yang berdiri di hadapannya dengan wajah pucat, mata sembab, dan rambut acak-acakan. Aura keputusasaan Jiwon seolah terpancar, membuat napas Soohyun tercekat.
"Kita perlu bicara," Soohyun berkata, suaranya rendah, nyaris berbisik, namun ada desakan yang tak terbantahkan di sana. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, bayangannya memanjang di lantai apartemen.
Jiwon merasakan amarah kembali memuncak, membakar dirinya dari dalam. Tentu saja Soohyun sudah tahu. Ia pasti telah mengamati setiap gerak-geriknya, mencari tahu, menggali informasi, seperti yang selalu ia lakukan. "Tidak ada yang perlu dibicarakan," balas Jiwon, suaranya dingin, dipenuhi kepedihan yang menusuk. Ia mencoba menutup pintu, ingin mengakhiri pembicaraan ini bahkan sebelum dimulai. Ia ingin mengusir Soohyun dari hadapannya, dari hidupnya.
Namun, Soohyun dengan cepat menahan pintu dengan tangannya, menghalangi Jiwon. Otot-ototnya menegang. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan suara 'klik' pelan yang menggema di apartemen yang sunyi, seolah mengunci mereka berdua dalam arena pertarungan yang tak terhindarkan. Aura Soohyun memenuhi ruangan, terasa menekan dan mengintimidasi, namun kali ini, ada lapisan kerentanan yang aneh di baliknya, sebuah kelemahan yang tak pernah Jiwon duga akan ia lihat.
"Kau.. kau hamil, kan?" Soohyun bertanya, langsung ke inti masalah, suaranya serak, matanya menatap perut Jiwon, seolah mencari bukti yang tak kasat mata di sana. Tatapannya begitu intens, seolah ingin menembus kulit Jiwon dan melihat ke dalam.
Jiwon tersentak, seluruh tubuhnya menegang, seolah tersengat listrik. Rasa malu dan jijik menyeruak, membanjiri dirinya. Ia mundur selangkah, menjaga jarak, seolah ingin melindungi dirinya dari pandangan Soohyun. "Itu bukan urusanmu!" bentaknya, suaranya bergetar, nyaris pecah. "Pergi dari sini! Aku tidak ingin melihatmu! Aku tidak ingin lagi melihat wajahmu yang menjijikkan!"
"Bagaimana mungkin itu bukan urusanku?!" Soohyun membalas, suaranya meninggi, dipenuhi rasa frustrasi yang mendalam, tatapannya begitu putus asa. "Itu anakku, Jiwon! Darah dagingku! Bagaimana kau bisa mengatakan itu bukan urusanku?!"
