Ignited Touch 4

682 84 27
                                        

Minggu pertama Kim Jiwon sebagai asisten pribadi Kim Soohyun adalah pusaran yang membingungkan dan melelahkan. Meja kerjanya kini persis di luar pintu ruang kerja Soohyun, sebuah posisi yang secara simbolis dan harfiah, membuatnya selalu berada di bawah pengawasan pria itu. Setiap pagi, ia merasakan tatapan Soohyun saat ia melangkah masuk ke kantor, tatapan yang membawa janji tak terucapkan dari pertemuan yang kini menjadi rutinitas yang aneh.

Awalnya, Soohyun memberinya tugas-tugas standar seorang asisten, mengatur jadwalnya yang padat, mempersiapkan dokumen rapat yang rumit, mengatur perjalanan bisnis, bahkan memilih hadiah untuk klien penting. Namun, Jiwon merasakan perbedaan yang mencolok. Soohyun jauh lebih sering memanggilnya ke dalam ruangan, terkadang hanya untuk menanyakan hal sepele yang bisa ia cari sendiri di internet, atau hanya untuk mengawasinya saat ia bekerja di dalam.

Suatu sore, saat Jiwon sedang sibuk mengatur berkas laporan keuangan yang menumpuk di mejanya, Soohyun keluar dari ruangannya. Kemejanya yang tadinya rapi kini sedikit terbuka di bagian atas, dasinya longgar, dan beberapa helai rambutnya jatuh ke dahi, membuatnya terlihat sedikit lebih manusiawi, namun tidak mengurangi aura dominan yang ia pancarkan. Ia berjalan mendekat ke meja Jiwon, langkahnya tenang namun setiap langkahnya seolah menarik perhatian Jiwon sepenuhnya.

Soohyun berhenti di samping mejanya, mencondongkan tubuhnya ke depan, hingga wajahnya berada di samping telinga Jiwon. Aroma maskulin yang mewah, perpaduan mint dan musk, langsung menyerbu indranya, memicu ingatan akan ciuman pertama mereka, dan pagi yang penuh gairah itu. Jiwon menahan napas, tubuhnya menegang.

"Jiwon," suara Soohyun rendah, nyaris berbisik, begitu pelan hingga hanya Jiwon yang bisa mendengarnya. Ia menekankan nama Jiwon dengan nada akrab yang kini terasa begitu akrab namun tetap mengintimidasi. "Bisakah kau membantu merapikan dasiku? Ini terlihat berantakan."

Jiwon mendongak, matanya yang membesar bertemu dengan mata Soohyun yang penuh arti. Ini bukan permintaan biasa. Ini adalah ujian. Sebuah undangan. Sentuhan pertama pagi itu masih sering muncul dalam lamunannya, dan Soohyun tahu itu. Pria itu selalu tahu bagaimana cara menariknya, memancingnya.

Dengan jantung berdebar kencang, Jiwon berdiri. Ia mendekat, merasakan panas yang menjalar di pipinya. Jemarinya yang ramping dan sedikit gemetar terulur, meraih dasi sutra Soohyun yang longgar. Aroma Soohyun kini semakin kuat, mengelilinginya, memicu gelombang sensasi yang familiar di perutnya. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Soohyun yang memancar dari kemeja tipisnya, dan detak jantung pria itu yang terasa di ujung jarinya saat ia mulai membenarkan ikatan dasi.

Jiwon mencoba bernapas dengan tenang, namun paru-parunya terasa sesak. Tangannya bergerak perlahan, sangat perlahan, melonggarkan ikatan dasi itu sedikit demi sedikit. Jemarinya sesekali menyentuh kulit leher Soohyun yang hangat. Ia bisa merasakan tarikan magnetis dari kulit Soohyun, dan ia harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk tidak memperpanjang sentuhan itu.

"Kau punya tangan yang lembut," Soohyun bergumam, suaranya serak, matanya terpejam sejenak, menikmati sentuhan itu. Sebuah senyum tipis, puas, tersungging di bibirnya. "Sangat lembut."

Jiwon menarik tangannya setelah dasi itu terpasang rapi, tidak terlalu ketat, tidak terlalu longgar. Ia mundur selangkah, pipinya memerah padam, merasakan sensasi terbakar di ujung jarinya. Ia berusaha menghindari tatapan Soohyun yang kini sudah terbuka, menatapnya dengan tatapan yang penuh janji tersembunyi.

"Terima kasih, Jiwon," Soohyun berkata, suaranya kembali normal, namun ada nada kepuasan yang mendalam di sana. Ia melirik jam di tangannya. "Baiklah, kau bisa melanjutkan pekerjaanmu." Ia lalu berbalik, kembali masuk ke ruangannya, menutup pintu dengan pelan, meninggalkan Jiwon dengan detak jantung yang berpacu dan sensasi terbakar di ujung jarinya yang tak kunjung hilang.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang