Finding Truth in Lies 3

363 74 17
                                        


Hari-hari terus berlalu. Kehidupan pernikahan mereka jauh dari bayangan bahagia yang Haein impikan. Meskipun Hyunwoo selalu bersikap manis dan perhatian, ada tembok tak kasat mata yang memisahkan mereka, terutama dalam hal keintiman fisik. Setiap kali Haein mencoba mendekat, Hyunwoo selalu punya alasan untuk menghindar. Awalnya Haein mencoba bersabar dan mengerti, berpikir mungkin Hyunwoo membutuhkan waktu. Namun, penantian selama hampir setengah tahun tanpa ada perubahan membuatnya semakin gelisah dan bertanya-tanya.

Sore itu, Haein dan Hyunwoo berkunjung ke rumah orang tua Hyunwoo, Baek Sungchul dan Park Sunhe. Mereka disambut dengan hangat, seperti biasa. Namun, setelah makan malam selesai dan mereka sedang menikmati teh di ruang keluarga, Park Sunhe membuka percakapan yang membuat Haein merasa tidak nyaman.

"Hyunwoo, Haein-ah," kata Park Sunhe dengan senyum lebar, menatap keduanya bergantian. "Bagaimana? Ada kabar baik belum?"

Hyunwoo yang sedang menyesap tehnya tampak sedikit tersedak. Ia menaruh cangkirnya perlahan. "Kabar baik apa, Ibu?" tanyanya, berusaha terlihat santai.

"Ya ampun, Hyunwoo ini. Masa tidak mengerti juga?" Park Sunhe tertawa kecil. "Tentu saja kabar tentang cucu. Kami sudah tidak sabar sekali menimang cucu dari kalian."

Baek Sungchul mengangguk setuju. "Betul, betul. Rumah ini akan semakin ramai dan meriah kalau ada anak kecil berlarian." Ia menatap Haein dengan penuh harap. "Haein-ah, kamu sehat-sehat saja kan?"

Haein tersenyum canggung. Ia merasa pipinya memanas. "Saya sehat, Ayah."

"Syukurlah kalau begitu," timpal Park Sunhe. "Jangan terlalu capek bekerja ya, Haein-ah. Sekarang kamu sudah punya suami yang bertanggung jawab, fokus saja menjaga kesehatan dan memberikan kami cucu."

Hyunwoo hanya diam, menatap cangkirnya. Haein merasa terpojok. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimana mungkin ia mengatakan yang sebenarnya? Bahwa selama hampir setengah tahun pernikahan, ia dan Hyunwoo bahkan belum pernah sekali pun berbagi ranjang.

"Kami.. kami sedang berusaha, Ibu," jawab Haein akhirnya, berusaha terdengar meyakinkan meskipun hatinya berdebar kencang.

"Berusaha bagaimana?" tanya Park Sunhe dengan nada sedikit curiga. "Sudah mau setengah tahun lho, Nak. Biasanya pengantin baru itu cepat sekali."

"Mungkin.. mungkin belum rezekinya, Ibu," sahut Hyunwoo, mencoba menyelamatkan situasi.

"Rezeki itu harus diusahakan, Hyunwoo," kata Baek Sungchul dengan nada menasihati. "Jangan ditunda-tunda. Kalian berdua masih muda dan sehat."

Haein hanya bisa menunduk, merasa semakin tertekan. Ia melirik Hyunwoo, berharap suaminya itu bisa membantunya keluar dari situasi ini. Namun, Hyunwoo hanya memberikan senyum tipis yang tidak sampai ke matanya.

###

Beberapa hari kemudian, giliran orang tua Haein, Hong Beomjun dan Kim Seonhwa, yang datang berkunjung ke apartemen mereka. Mereka membawa berbagai macam makanan kesukaan Haein dan terlihat sangat bahagia melihat putri mereka sudah menikah. Namun, topik yang sama kembali muncul saat mereka sedang makan malam.

"Haein-ah, bagaimana kabarmu?" tanya Kim Seonhwa dengan lembut. "Kamu terlihat sedikit pucat belakangan ini."

"Saya baik-baik saja, Ibu," jawab Haein, mencoba tersenyum.

"Benarkah?" Hong Beomjun menimpali. "Ayah perhatikan kamu jadi lebih kurus. Jangan terlalu banyak pikiran, Nak."

"Mungkin hanya sedikit lelah karena pekerjaan rumah, Ayah," kata Haein, berbohong.

Kim Seonhwa kemudian menatap Hyunwoo dengan tatapan penuh harap. "Hyunwoo-ya, kamu jaga Haein baik-baik ya. Dia ini putri kesayangan kami satu-satunya."

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang