Hujan lembut membasahi landasan Bandara Internasional Incheon, butiran air menari di kaca kokpit Boeing 777 yang senyap. Di dalamnya, Kapten Kim Soohyun menyentuh panel kontrol yang menyala, jari-jarinya menelusuri tombol dan tuas dengan keakraban seorang maestro yang menguasai orkestranya. Udara di dalam pesawat terasa hangat, kontras dengan hawa dingin Seoul yang menggigit di luar. Sebentar lagi, mereka akan menembus langit malam, menuju Pulau Jeju yang damai.
Soohyun menghela napas panjang. Penerbangan ke Jeju selalu terasa seperti jeda yang menenangkan dari hiruk pikuk kota. Namun, kali ini ada gejolak lain yang tak bisa ia bantah, sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar rutinitas penerbangan. Ia memejamkan mata sejenak, bayangan senyum cerah Jiwon melintas di benaknya, menghadirkan kehangatan sekaligus rasa cemas.
Di luar pintu kokpit, hiruk pikuk kabin perlahan mereda. Suara roda koper yang berderit, deru langkah kaki yang terburu-buru, dan obrolan penumpang yang ramai mulai digantikan oleh desiran AC dan bisikan tenang, pertanda semua penumpang sudah duduk rapi, siap untuk lepas landas.
Di dapur pesawat, Jiwon memeriksa persediaan terakhir dengan cekatan. Tangan mungilnya menata botol-botol minuman dan kotak-kotak makanan ringan dengan rapi, namun jantungnya berdebar tak karuan. Hari ini adalah hari pertamanya bertugas dalam penerbangan internasional, sebuah lompatan besar dalam karirnya sebagai pramugari. Namun, bukan hanya itu yang membuat kegugupannya memuncak. Hari ini, ia dipasangkan dengan Kapten Kim Soohyun, pilot senior yang reputasinya di kalangan awak kabin sudah melegenda. Ada cerita tentang ketenangannya di situasi darurat, tentang kemampuannya menenangkan penumpang yang paling panik sekalipun, dan tentu saja, tentang senyumnya yang mampu meluluhkan hati banyak orang. Jiwon sudah sering mendengar namanya, namun belum pernah bertugas langsung dengannya.
Saat Jiwon hendak keluar dari dapur, ia berpapasan dengan Soohyun yang baru saja melangkah keluar dari kokpit. Sebuah getaran listrik menjalari tubuh Jiwon saat mata mereka bertemu. Soohyun tersenyum ramah, senyum tipis yang memancarkan ketenangan. Entah mengapa, senyum itu berhasil meredakan sedikit kegugupan Jiwon.
"Penerbangan pertama yang bagus, Jiwon-ssi," sapa Soohyun, suaranya tenang dan berwibawa, namun ada nada kehangatan yang tak terduga di dalamnya. "Jangan terlalu tegang. Nikmati saja pemandangannya. Jeju itu indah, apalagi saat senja."
Jiwon merasakan pipinya sedikit memanas. "Terima kasih, Kapten Kim," balas Jiwon, suaranya sedikit bergetar. "Saya akan berusaha." Ia menunduk sebentar, merasa sedikit malu karena tertangkap basah gugup.
"Bagaimana persiapanmu?" Soohyun melirik sekilas ke arah dapur yang sudah rapi. "Semua sudah siap?"
"Sudah, Kapten," jawab Jiwon sigap. "Semua persediaan sudah diperiksa, dan penumpang sudah duduk semua."
Soohyun mengangguk puas. "Bagus. Kalau begitu, mari kita terbang." Ia menoleh ke arah kokpit, namun pandangannya sempat berhenti pada Jiwon sekali lagi, memberikan senyum tipis yang berhasil membuat jantung Jiwon berdesir.
Selama penerbangan singkat ke Jeju, Jiwon bekerja dengan profesionalisme yang luar biasa. Ia melayani penumpang dengan senyum ramah, menjawab pertanyaan dengan sabar, dan selalu siap membantu. Dari balik tirai yang memisahkan kabin dengan kokpit, sesekali ia melirik ke arah Soohyun yang terlihat tenang dan fokus mengendalikan pesawat. Jiwon mengagumi ketenangan Soohyun, bagaimana ia dengan mudah mengatasi turbulensi ringan, atau merespons komunikasi dari menara kontrol dengan suara mantap.
Di sisi lain, Soohyun, meskipun fokus pada penerbangan, sesekali melirik ke arah Jiwon melalui cermin pengawas. Ia terkesan dengan keramahan Jiwon yang tulus dan efisiensinya dalam melayani penumpang. Ada aura positif yang terpancar dari Jiwon, semangat muda yang menular.
Di sela-sela kesibukan, Soohyun sempat memanggil Jiwon ke kokpit untuk menyampaikan beberapa instruksi ringan. "Jiwon-ssi, tolong beritahu penumpang bahwa kita akan segera melewati titik pandang terbaik untuk melihat Gunung Hallasan," perintah Soohyun, matanya masih fokus ke depan.
