Beberapa hari setelah pemeriksaan rutin yang mengharukan—di mana suara detak jantung kecil Bayi mereka menjadi melodi paling berharga—Kim Jiwon duduk santai di teras belakang. Ia mengenakan legging nyaman dan oversized sweater, kakinya disangga di atas bangku kecil.
Kim Soohyun duduk di sebelahnya, tidak lagi memegang tablet dengan laporan keuangan. Di tangannya kini tergenggam buku tebal berjudul, Panduan Praktis Pemupukan Alami untuk Kebun Jeruk. Soohyun membaca dengan fokus yang sama tajamnya saat ia dulu membaca prospektus investasi. Udara Jeju yang sejuk mengalir lembut, bercampur dengan aroma manis dan tajam dari bunga jeruk yang mekar, terasa seperti balsam bagi jiwa mereka yang lelah.
"Oppa, benarkah kita harus memberikan campuran cangkang telur dan ampas kopi untuk jeruk?" tanya Jiwon, menyentuh lengan Soohyun. "Kedengarannya seperti resep sarapan yang aneh."
Soohyun menurunkan bukunya, kacamata bacanya bertengger rendah di hidungnya. "Tentu saja, Sayang. Ini adalah nutrisi mikro. Tanah kita butuh kalsium. Lebih baik daripada bahan kimia yang kau benci. Aku sudah berjanji, aku akan menjadi petani organik terbaik."
"Kau benar-benar serius dengan 'pertanian' ini, ya," Jiwon terkekeh.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil asing yang memasuki area perkebunan mereka yang sepi memecah ketenangan. Suara ban yang menginjak kerikil dan berhenti mendadak terasa janggal di tengah kedamaian Jeju.
Jiwon dan Soohyun saling pandang. Mereka tahu, mobil itu bukan milik Ayah atau tetangga.
"Siapa itu, Oppa?" tanya Jiwon, alisnya berkerut. Kekhawatiran samar dari dunia lama muncul di wajahnya. Ia mencoba berdiri.
"Jangan bergerak, Sayang," Soohyun menahan lembut bahunya, gestur protektifnya spontan. Ia bangkit lebih dulu, meletakkan buku dan kacamata. "Aku akan lihat. Kau tetap di sini."
Soohyun berjalan perlahan ke pintu depan. Hatinya sedikit berdebar. Apakah ada masalah darurat di Seoul? Apakah wartawan? Ia menghela napas, bersiap menghadapi skenario terburuk.
Saat ia membuka pintu, senyum lebar dan tulus langsung terukir di wajahnya. Berdiri di depan pintu, memancarkan aura metropolis yang elegan, adalah Kim Dahyun, adiknya. Dahyun mengenakan setelan kasual yang cerdas—celana palazzo putih dan blus sutra mahal—dengan koper kecil berwarna navy yang diletakkan di samping kakinya.
"Aku minta maaf telah mengganggu kedamaian dan keromantisan Jeju dengan suara mesin V6!" seru Dahyun, senyumnya sama cerah dengan matahari pagi. Ia langsung menghambur dan memeluk Sooohyun erat.
"Aku baru saja menyelesaikan laporan kuartal perusahaan, menendang beberapa anggota dewan direksi yang nakal, dan aku bersumpah, aku butuh udara segar. Aku kabur sebentar!"
Soohyun tertawa, membalas pelukan adiknya dengan kehangatan yang langka. "Kabur? Kau ini Acting CEO, Dahyun. Kau tidak bisa seenaknya kabur. Bagaimana dengan Sekretaris Choi?"
Dahyun melepaskan pelukan, merapikan sedikit lipatan di blusnya. "Sekretaris Choi sedang bekerja keras. Aku memberinya cuti libur dua hari setelah dia bekerja tanpa henti selama sebulan ini demi menutupi pekerjaanku saat aku harus bolak-balik ke pengadilan untuk urusan Paman Dohoon. Dia pantas mendapatkannya." Dahyun menyeringai licik. "Dan aku? Aku pantas melihat Eonnie dan calon keponakanku!"
Dahyun berjalan melewati Soohyun—yang masih terkejut—dan langsung menghampiri Jiwon yang kini sudah berdiri dari kursi.
"Eonnie!" Dahyun berseru, merentangkan tangan. "Astaga, perutmu semakin besar! Kau terlihat jauh lebih bahagia di sini. Wajahmu merona, tidak ada lagi bayangan stres dan ketegangan Seoul."
