Penebusan 6

348 58 3
                                        

Pagi itu, setelah hari yang dihabiskan di akuarium, Kim Soohyun tiba di kantornya di lantai teratas gedung K-Group. Cahaya matahari pagi yang menembus jendela kaca raksasa seharusnya membawa semangat, namun hatinya terasa campur aduk, seperti adukan cat yang belum merata. Ada kebahagiaan yang samar, seperti bisikan melodi yang indah, dari kenangan tawa Gunwoo dan senyum tipis Jiwon kemarin. Namun, kebahagiaan itu tertutup oleh awan kecemasan yang pekat, bayangan ibunya, Kim Jungah, yang pasti akan melancarkan badai. Soohyun tahu Jungah tidak akan tinggal diam. Ia telah melewatkan beberapa rapat penting, mendelegasikan banyak pekerjaan yang seharusnya ia tangani sendiri, semua demi menghabiskan waktu berharga dengan Jiwon dan putranya. Dan ia yakin, kabar itu pasti sudah sampai ke telinga Jungah, mungkin bahkan dengan bumbu-bumbu tambahan yang membuat kemarahan ibunya semakin membara.

Soohyun baru saja mendudukkan diri di kursi kulitnya yang nyaman, mencoba memaksakan diri untuk meninjau tumpukan dokumen yang menggunung di mejanya, ketika pintu kantornya terbuka tanpa ketukan. Suara 'klik' yang tajam dari gagang pintu yang diputar, diikuti oleh derit pelan engsel, sudah cukup untuk membuat Soohyun menegang. Kim Jungah melangkah masuk, setiap langkahnya terasa seperti pukulan palu di lantai marmer. Wajahnya merah padam, nyaris ungu, karena amarah yang membuncah, matanya menyorot tajam seperti pisau yang baru diasah, siap menguliti. Ia mengenakan setelan desainer berwarna abu-abu arang yang elegan, potongan yang sempurna membalut tubuhnya, namun aura kemarahan yang memancar darinya merusak kesan anggun itu, mengubahnya menjadi sosok yang menakutkan. Di belakangnya, Sekretaris Kang, sekretaris Soohyun terlihat gelisah. Keringat dingin membasahi pelipisnya, dan tangannya yang memegang map dokumen sedikit gemetar.

"Kau bisa pergi, Sekretaris Kang," perintah Jungah, suaranya dingin, tajam, dan mematikan, seperti bilah es yang menusuk udara. Tidak ada nada pertanyaan, hanya perintah mutlak.

Sekretaris Kang membungkuk singkat, gerakan yang terburu-buru dan canggung, seolah ingin segera melarikan diri dari medan perang yang akan segera meletus. Ia buru-buru keluar, menutup pintu di belakangnya dengan suara 'klik' yang lebih keras dari sebelumnya, meninggalkan ibu dan anak itu dalam ketegangan yang menyesakkan, bagaikan udara yang menipis di puncak gunung.

Jungah berdiri di hadapan meja Soohyun, tangannya bertolak pinggang, posisi yang menunjukkan dominasi dan kemarahan yang tak terbantahkan. Matanya yang tajam menelanjangi Soohyun. "Kim Soohyun, apa-apaan ini?!" suaranya meledak, menggelegar di seluruh ruangan, membuat lukisan-lukisan mahal di dinding seolah bergetar. "Kau tidak mengangkat teleponku semalam! Aku meneleponmu berkali-kali! Dan hari ini, kau seenaknya melewatkan rapat penting dengan investor asing dari Venture Capital! Apa yang terjadi padamu?! Kau sudah gila?!"

Soohyun menghela napas, panjang dan berat, seolah ingin membuang semua beban yang menimpanya. Ia sudah menduga ini. Ini adalah awal dari interogasi yang panjang dan melelahkan. "Aku sedang sibuk, Bu. Ada hal yang lebih penting daripada rapat itu." Ia mencoba menjaga suaranya tetap tenang, meskipun di dalam dirinya, bara api mulai menyala.

"Lebih penting?! Apa yang bisa lebih penting dari masa depan perusahaan?! Masa depan K-Group?!" Jungah membentak, suaranya semakin meninggi, menembus gendang telinga Soohyun. "Aku sudah mendengar semuanya! Kau menghabiskan waktumu dengan wanita itu, Kim Jiwon! Dan yang lebih gila lagi, kau membawa anak kecil itu kemana-mana bersamamu! Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu, Soohyun?!"

Soohyun mengepalkan tangannya erat di bawah meja, kukunya menancap ke telapak tangannya, mencoba meredakan amarah yang membakar. Nama Jiwon dan Gunwoo yang disebut dengan nada merendahkan, seolah mereka adalah sesuatu yang menjijikkan, membakar amarahnya hingga ke ubun-ubun. "Bu, aku sudah bilang, jangan ikut campur urusanku. Terutama urusan pribadiku." Kata-katanya keluar dengan nada rendah, penuh peringatan.

"Urusan pribadi?! Kau adalah CEO K-Group! Setiap langkahmu mempengaruhi reputasi perusahaan! Apalagi setelah kau menceraikan wanita itu empat tahun lalu, kau sekarang kembali mencarinya? Apa kata orang nanti?! Apa kata dewan direksi?! Kau mempermalukan keluarga kita!" Jungah berteriak, suaranya nyaris melengking, memekakkan telinga. Ia melangkah maju, mendekat ke meja Soohyun, seolah ingin mencekik putranya dengan tatapan matanya.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang