Garis Batas 3

375 70 5
                                        

Beberapa minggu setelah masalah Hyunwoo mereda, suasana di penthouse mewah mereka berubah drastis. Dinding es yang dulunya menjulang tinggi di antara Baek Hyunwoo, seorang arsitek ternama dengan reputasi dingin dan kaku, dan Hong Haein, pewaris yang energik dan penuh semangat, perlahan mencair. Keheningan yang dulu kaku dan penuh permusuhan kini dipenuhi dengan suara-suara kecil kehidupan sehari-hari—gemericik air dari dapur, bisikan pelan dari televisi, atau bahkan dengungan AC yang terasa lebih akrab.

Suatu malam, aroma harum yang menggoda mulai menyebar dari dapur. Haein sedang menyiapkan makan malam—kali ini, bukan lagi upaya khusus untuk menarik perhatian Hyunwoo, hanya memasak untuk dirinya sendiri. Ia memotong tahu dengan cekatan, mempersiapkan bumbu untuk kimchi jjigae, sup pedas kesukaannya. Panci di atas kompor mulai mendidih pelan, gelembung-gelembung oranye kemerahan menari-nari di permukaannya. Tiba-tiba, suara langkah kaki yang familiar mendekat. Hyunwoo muncul di ambang pintu dapur.

"Kau memasak kimchi jjigae?" tanya Hyunwoo, nadanya netral, tidak dingin seperti dulu, lebih seperti observasi yang penasaran. Tangannya sudah terulur, mengambil dua mangkuk keramik dan dua pasang sumpit dari rak gantung. Sebuah gerakan refleks yang menunjukkan kebiasaan baru yang tak terucapkan.

Haein menoleh dari panci, sendok sayur masih di tangannya. Ia melihat Hyunwoo membawa mangkuk, senyum tipis nyaris tak terlihat di bibirnya. "Ya. Sedang ingin saja," jawab Haein, suaranya juga netral. Ia tidak menawarkan, juga tidak melarang. Dulu, ia pasti akan langsung menyodorkan mangkuk dan menanyakan apakah Hyunwoo mau makan bersamanya. Tapi kini, ia membiarkan Hyunwoo yang mengambil inisiatif.

Hyunwoo meletakkan mangkuk di meja makan dapur yang bersih. "Boleh aku ikut?"

Haein sedikit terkejut. Ini adalah kali pertama Hyunwoo secara sukarela meminta untuk makan bersamanya di meja makan, tanpa ada motif tersembunyi atau paksaan. Kelelahan yang selama ini ia rasakan akibat penolakan Hyunwoo membuat hatinya sedikit ragu. Ada keraguan yang tersisa, rasa takut akan penolakan lagi. "Kau yakin? Aku tidak memaksa, lho," katanya, mencoba menyembunyikan getaran kecil dalam suaranya. "Kau kan selalu suka makan sendirian."

Hyunwoo menatapnya, matanya yang tajam menelusuri wajah Haein. Ada sesuatu yang lembut dalam tatapannya yang baru. "Aku.. tidak selalu harus sendirian," katanya, pengakuan yang kecil namun besar darinya. Sebuah retakan kecil di benteng pertahanan dirinya. "Dan.. aku lapar. Supmu ini aromanya enak."

Senyum tipis dan tulus muncul di bibir Haein, senyum yang tanpa agenda tersembunyi, tanpa harapan yang tinggi. Sebuah senyum yang lega. "Baiklah. Ambil saja."

Mereka duduk di meja makan, lampu dapur memancarkan cahaya hangat. Ini adalah pertama kalinya mereka makan di meja yang sama dengan suasana yang begitu tenang. Tidak ada ketegangan yang menggantung, tidak ada upaya paksa untuk memulai percakapan. Hanya bunyi sendok yang beradu pelan dengan mangkuk keramik, suara isapan sup yang sesekali terdengar, dan keheningan yang nyaman.

"Bagaimana proyekmu?" tanya Haein, memecah keheningan setelah beberapa suapan. "Sudah benar-benar pulih?"

Hyunwoo mengangguk, meletakkan sumpitnya sejenak. "Ya. Prosesnya panjang, tapi firma mendukung penuh. Dan itu.. berkat bantuanmu." Ia mengangkat kepalanya, menatap Haein langsung, sebuah tatapan yang penuh rasa terima kasih yang mendalam. "Sungguh, terima kasih banyak. Aku.. berutang banyak padamu."

Haein menggelengkan kepala, mengaduk supnya dengan sendok. "Tidak perlu berlebihan. Aku sudah bilang, aku hanya melakukan apa yang perlu." Ia mengangkat matanya, menatap Hyunwoo dengan tulus. "Tapi.. aku senang kau baik-baik saja."

"Aku juga senang," kata Hyunwoo, nadanya lembut, hampir berbisik. Ia mengamati ekspresi Haein yang tampak lelah namun lega. "Melihatmu lelah dan stres saat itu.. tidak nyaman."

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang