Udara di kamar tidur Soohyun terasa dingin, menusuk hingga ke tulang, seolah hawa dingin itu sendiri adalah saksi bisu dari kehancuran yang baru saja terjadi. Tirai-tirai tebal masih tertutup rapat, menghalangi cahaya pagi yang seharusnya membawa harapan, seolah menyembunyikan kenyataan pahit yang kini membeku di antara mereka. Kim Jiwon terbaring meringkuk di salah satu sisi ranjang king-size yang luas, memunggungi Kim Soohyun. Tubuhnya gemetar tak terkendali, bukan karena dingin, melainkan karena syok yang begitu dalam, rasa jijik yang memuakkan, dan rasa sakit yang merobek-robek jiwanya. Isakan tertahan keluar dari bibirnya, teredam dalam bantal yang basah oleh air mata, seolah Jiwon berusaha mati-matian agar suaranya tak terdengar, agar keberadaannya bisa sirna.
Setiap inci kulitnya terasa kotor, dinodai oleh sentuhan yang dipaksakan. Ia memeluk lututnya erat, berusaha membuat dirinya sekecil mungkin, seolah ingin menghilang dari muka bumi, lenyap tanpa jejak. Pikirannya kosong, namun hatinya terasa seperti dihantam ribuan palu, hancur berkeping-keping menjadi serpihan tak berarti. Harga dirinya, martabatnya—semua telah direnggut paksa, diremukkan oleh pria yang terbaring tak jauh darinya. Rasa jijik dan kebencian yang mendalam mengakar di setiap sel tubuhnya, semakin memperkuat tekadnya untuk membenci Soohyun, membenci setiap napas yang diambil pria itu, membenci setiap detik yang mereka bagi dalam kehampaan ini.
Di sisi lain ranjang, Soohyun duduk di tepi ranjang, punggungnya tegak, bibirnya menggaris tipis, tatapannya kosong menatap punggung Jiwon yang bergetar. Ia bisa mendengar isakan pelan Jiwon, merasakan aura kesedihan yang begitu pekat, menekan udara di antara mereka. Ada rasa kepuasan singkat yang melintas dalam dirinya, ia telah menunjukkan siapa yang berkuasa, ia telah menegaskan bahwa Jiwon adalah miliknya, sebuah properti yang bisa ia klaim kapan pun ia mau.
Namun, kepuasan itu hanya sesaat, seperti percikan api yang langsung padam, meninggalkan abu dan kekosongan. Mengikuti kepuasan itu, sebuah perasaan aneh mulai merayapi hati Soohyun, kekosongan yang tak bisa dijelaskan, sebuah lubang menganga yang tak bisa diisi oleh kemenangan picisan ini. Ia melihat Jiwon yang hancur, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan sedikit rasa bersalah yang menusuk. Bukan rasa bersalah yang akan membuatnya berhenti, bukan rasa bersalah yang akan membuatnya menyesali perbuatannya, tetapi cukup untuk membuat dadanya terasa sedikit sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. Ia telah mendapatkan tubuh Jiwon, itu benar, tapi ia tahu, hatinya justru semakin menjauh, semakin tak tergapai.
"Dia membenciku," bisik Soohyun pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam dalam keheningan kamar. "Aku bisa merasakannya. Kebenciannya begitu kuat, begitu nyata."
Ia mengangkat tangannya perlahan, ragu-ragu, ingin menyentuh bahu Jiwon, ingin mengucapkan sesuatu—apa pun—untuk meredakan badai yang ia ciptakan. Namun, tangannya membeku di udara, tak mampu bergerak. Apa yang harus ia katakan? Kata 'maaf' tidak akan pernah cukup, bahkan akan terdengar seperti ejekan kejam setelah semua yang telah ia lakukan. Ia hanya ingin Jiwon mencintainya, hanya ingin Jiwon melupakan Hanjoon, pria yang telah mencuri perhatian Jiwon. Tapi cara yang ia gunakan.. hanya membuatnya semakin dibenci, semakin jauh dari apa yang ia inginkan.
Soohyun mengepalkan tangannya di samping tubuhnya, merasakan kuku-kukunya menusuk telapak tangannya. Ia adalah pria yang selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan, dengan cara apa pun, tak peduli etika atau moralitas. Tapi kali ini, ia merasa tersesat, seperti pelaut tanpa kompas di tengah lautan badai. Ia telah memenangkan pertempuran kecil ini, namun sepertinya ia telah kehilangan perang yang lebih besar—perang untuk mendapatkan hati Jiwon, untuk menaklukkan jiwanya. Kebencian Jiwon yang begitu nyata, yang begitu jelas terpancar dari setiap isakannya, justru memicu dorongan yang lebih gelap dalam dirinya. Ia ingin Jiwon takluk sepenuhnya, ingin Jiwon tidak lagi bisa membencinya, ingin Jiwon hanya melihat dirinya, hanya menginginkan dirinya.
